ATAMBUA, (BELUPOS.Com) – Panas terik siang tak mampu mematahkan semangat ratusan peserta Gerak Jalan Kemerdekaan sejauh delapan kilometer di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur. Dari pelajar hingga aparat, dari pemuda desa hingga ibu-ibu rumah tangga, semua melangkah tegap, mengibarkan semangat merah putih di tanah perbatasan RI–Timor Leste.
Perjalanan dimulai dari titik start di pusat kota, menyusuri jalan-jalan yang membelah hamparan perbukitan kering khas Timor. Sepanjang jalur, warga berdiri di tepi jalan, melambaikan tangan dan menyemangati peserta. Keringat mengalir, napas tersengal, tetapi sorot mata mereka tak pernah redup.
“Delapan kilometer ini bukan sekadar jarak, tapi lambang perjuangan dan persatuan. Di perbatasan, kami ingin tunjukkan bahwa cinta tanah air selalu menyala,” ujar Maria, salah satu peserta dari Desa Silawan, sambil mengibaskan bendera kecil di tangannya.
Tiba di garis finis, sorak-sorai pecah. Spanduk merah putih berkibar di bawah langit biru, dan aroma tanah kering bercampur dengan harum peluh perjuangan. Bupati Belu, Wilybrodus Lay, S.H dalam sambutannya, menyebut momen ini sebagai wujud nyata bahwa kemerdekaan bukan hanya dirayakan, tapi dijaga dan diperjuangkan setiap hari.
“Hari ini, kita tidak sekadar menempuh delapan kilometer. Kita meneguhkan tekad bahwa semangat kemerdekaan di perbatasan tidak akan pernah pudar,” tegasnya.
Di Kabupaten Belu, perayaan HUT ke-80 RI bukan sekadar seremoni. Ia adalah janji yang diucapkan di antara derap langkah dan irama napas: bahwa di ujung negeri, merah putih akan selalu berkibar setinggi-tingginya.















