Berita UtamaEksisKesehatanLensa PerbatasanPariwisataPendidikanPolkamwarta Kota

Ketika Oe’ Apot Menjadi Panggung Iman Budaya

30
×

Ketika Oe’ Apot Menjadi Panggung Iman Budaya

Sebarkan artikel ini

KEFAMENANU  |BELUPOS.Com— Senja belum sepenuhnya jatuh ketika pelataran Teater Oe’ Apot di Paroki Kristus Raja Haumeni mulai dipenuhi manusia. Pada Minggu, 20 September 2026, sejak pukul 15.00 WITA, tempat itu berubah menjadi panggung yang mempertemukan iman, kebudayaan, sejarah, dan kegembiraan orang muda.

Dari satu sudut terdengar musik. Dari sisi lain, gerak tari menghidupkan panggung. Kaum muda tampil membawa ekspresi seni dari lingkungan dan desa-desa di wilayah Paroki Kristus Raja Haumeni. Di antara riuh tepuk tangan, festival itu perlahan menjelma lebih dari sebuah pertunjukan.

Ia menjadi perjumpaan.

Ribuan pasang mata—umat paroki, warga desa, hingga para peserta Napak Tilas Hari Ulang Tahun Kota Kefamenanu ke-104—menyaksikan bagaimana orang muda mengambil ruang untuk berbicara melalui budaya.

Festival Budaya Orang Muda Katolik (OMK) Paroki Kristus Raja Haumeni digelar sebagai respons konkret sekaligus program fokus paroki dalam menjabarkan Visi, Misi, dan Strategi Pastoral Keuskupan Atambua.

Namun, ada lapisan sejarah lain yang membuat panggung itu terasa semakin istimewa.

Pelataran Teater Oe’ Apot menjadi titik perhentian atau persinggahan pertama bagi 38 grup peserta Napak Tilas HUT Kefamenanu ke-104. Mereka memulai perjalanan sejarah dari Noetoko sebelum melanjutkan perjalanan menuju pusat Kota Kefamenanu pada keesokan harinya.

Di Haumeni, perjalanan sejarah itu berhenti sejenak untuk bertemu dengan masa depan.

Dan masa depan itu bernama orang muda.

KETIKA IMAN BERTEMU AKAR BUDAYA

Kehadiran festival tersebut memperlihatkan bagaimana ruang pastoral gereja dapat bertemu dengan ruang kebudayaan masyarakat tanpa harus kehilangan identitas masing-masing.

Sejumlah tokoh gerejani dan jajaran Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) hadir menyaksikan dinamika festival.

Ketua Komisi Kepemudaan Keuskupan Atambua, Romo Yoris Samuel Giri, Pr., turut hadir memberikan dukungan terhadap gerakan kaum muda tersebut.

Dari jajaran Pemerintah Kabupaten TTU hadir Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (P dan K), Jefri Banu, bersama sejumlah kepala bidang serta panitia kabupaten. Kepala Dinas P dan K TTU juga menyempatkan diri bergabung di lokasi setelah menyelesaikan sejumlah agenda protokoler di kota.

Bagi Romo Yoris, gerakan perdana tersebut memiliki arti penting dalam membuka ruang keterlibatan OMK di tengah masyarakat.

Kehadiran orang muda di ruang publik seni seperti Teater Oe’ Apot bukan hanya tentang tampil di atas panggung. Ia menjadi ruang pembentukan karakter—agar iman tumbuh bersama akar budaya lokal dan kepedulian terhadap sejarah daerah.

“Ketika orang muda berani mengambil ruang publik untuk mengekspresikan iman dan budayanya, di situlah pastoral menemukan wajah yang hidup. Mereka bukan hanya pewaris tradisi, tetapi juga pelaku yang menentukan bagaimana tradisi itu akan dibawa ke masa depan,” demikian inti apresiasi Romo Yoris terhadap terobosan pastoral tersebut.

PANGGUNG YANG MENYATUKAN GENERASI

Ketika matahari mulai condong, panggung Oe’ Apot semakin hidup.

Aneka atraksi seni, tarian daerah, musik, serta parade budaya tradisional dan modern tampil silih berganti. Para penampil datang dari berbagai lingkungan dan desa di wilayah Paroki Kristus Raja Haumeni.

Tidak hanya OMK.

Pelajar SMP, SMA hingga SMK di sekitar wilayah paroki ikut mengambil bagian. Mereka membawa kreasi seni terbaik, memperlihatkan bahwa kebudayaan tidak berhenti pada satu generasi.

Di bawah panggung, para tetua adat dan tokoh masyarakat senior ikut hadir. Warga desa pun bergerak bersama panitia, menopang jalannya festival.

Ada semacam keakraban yang tumbuh tanpa perlu diumumkan.

Yang tua menyaksikan yang muda.

Yang muda menerima warisan dari yang tua.

Sementara panggung menjadi ruang perjumpaan keduanya.

Seorang tokoh masyarakat desa yang hadir mengungkapkan kebanggaannya menyaksikan kaum muda mengekspresikan iman dan budaya di tempat yang juga menjadi persinggahan perjalanan sejarah.

“Melihat anak-anak muda kita mengekspresikan iman dan budayanya di tempat yang menjadi persinggahan sejarah napak tilas ini memberi rasa bangga tersendiri. Ini bukti bahwa nilai iman dan sejarah daerah terus hidup di tangan generasi muda.”

Kalimat itu seperti menjadi benang merah seluruh festival.

Oe’ Apot, SEBUAH TITIK TEMU SEJARAH

Secara kontekstual, pertemuan Festival Budaya OMK dengan rombongan Napak Tilas HUT Kefamenanu ke-104 memperlihatkan hubungan yang erat antara kebudayaan, sejarah, pendidikan dan kehidupan menggereja. Ruang publik seperti Teater Oe’ Apot tidak hanya berfungsi sebagai tempat pertunjukan, tetapi juga menjadi ruang belajar lintas generasi. Di sana, sejarah tidak hanya dikenang melalui perjalanan napak tilas, sementara budaya tidak hanya dipentaskan di atas panggung. Keduanya bertemu melalui keterlibatan orang muda sebagai pelaku.

Karena itu, festival tersebut memiliki makna yang melampaui kemeriahan sebuah acara.

Ia menunjukkan bahwa pastoral orang muda dapat menemukan bentuk yang dekat dengan kehidupan mereka: melalui musik, tari, seni, budaya, sejarah, dan ruang perjumpaan.

Iman tidak hanya berbicara dari mimbar.

Ia juga dapat berbicara dari panggung budaya.

MALAM TURUN, PERSAUDARAAN TETAP MENYALA

Malam akhirnya turun di Haumeni.

Namun pelataran Teater Oe’ Apot belum benar-benar sepi.

Para peserta napak tilas melepas lelah. Warga dan kaum muda masih berada dalam suasana persaudaraan. Sajian budaya menjadi penutup sebuah sore panjang yang mempertemukan banyak orang dalam satu ruang.

Keesokan harinya, 38 grup peserta napak tilas akan kembali melanjutkan perjalanan menuju Kefamenanu.

Mereka membawa langkah berikutnya.

Tetapi dari Haumeni, mereka juga membawa kenangan.

Sebab terkadang sebuah perjalanan sejarah tidak hanya ditandai oleh panjangnya jalan yang ditempuh. Ia juga diingat melalui tempat-tempat persinggahan, wajah-wajah yang ditemui, suara musik yang terdengar, tarian yang bergerak, dan tangan-tangan yang menyambut dengan persaudaraan.

Di Oe’ Apot, sejarah berjalan melewati malam, sementara iman dan budaya menyalakan cahaya di tangan generasi muda.

Penulis: Romo Sixtus - HaumeniEditor: Agustinus Bobe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *