SURABAYA |BELUPOS.Com — Sabtu, 26 September 2026, terasa seperti sebuah halaman yang perlahan ditutup dari perjalanan panjang sejarah Indonesia.
Kabar duka itu datang membawa sunyi.
Mohammad Guruh Irianto Soekarnoputra, putra bungsu Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, berpulang. Kepergiannya bukan hanya meninggalkan ruang kosong di tengah keluarga, tetapi juga menyisakan kesunyian panjang dalam dunia seni, budaya, dan politik Indonesia.
Di antara riuh perjalanan bangsa yang pernah dilaluinya, nama Guruh telah tumbuh sebagai bagian dari sebuah zaman. Ia lahir dari keluarga yang namanya melekat kuat dalam sejarah republik, tetapi memilih menorehkan jalannya sendiri melalui seni, kebudayaan, dan pengabdian politik.
Keluarga besar Ikatan Jurnalis Independen Nusantara (IJEN) menyampaikan duka cita mendalam atas kepergian tersebut.
Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) IJEN, Ali Maskur, menyampaikan ucapan belasungkawa sekaligus penghormatan atas perjalanan hidup Guruh.
“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Turut berduka cita atas berpulangnya Bapak Mohammad Guruh Irianto Soekarnoputra.”
Ucapan itu disampaikan Ali Maskur melalui leaflet yang memuat poster duka cita dengan foto Guruh. Sebuah wajah yang selama puluhan tahun hadir dalam perjalanan kebudayaan Indonesia, kini dikenang dalam bingkai hitam dan putih, di tengah kabar kepergian untuk selamanya.
Bagi IJEN, Guruh bukan semata-mata seorang putra Bung Karno.
Ia adalah sosok yang meninggalkan jejak melalui gagasan, karya, dan pengabdiannya bagi bangsa.
“Semoga Allah SWT menerima amal ibadah beliau dan memberi beliau tempat terbaik di sisi-Nya. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan dan ketabahan,” ujar Ali Maskur.
Putra bungsu dari rumah sejarah
Guruh lahir pada 13 Januari 1953.
Ia adalah anak bungsu Presiden Soekarno dan Fatmawati. Di dalam keluarganya, Guruh tumbuh bersama empat kakaknya: Guntur Soekarnoputra, Megawati Soekarnoputri, Rachmawati Soekarnoputri, dan Sukmawati Soekarnoputri.
Ia lahir ketika republik masih muda dan sejarah Indonesia sedang bergerak dengan cepat.
Nama besar ayahnya menjadi bagian dari kehidupan yang tidak mungkin dipisahkan. Namun Guruh kemudian memilih bahasa yang berbeda untuk menyampaikan kecintaannya kepada Indonesia: seni dan kebudayaan.
Di sanalah ia menemukan ruang untuk berbicara.
Melalui musik, tari, pertunjukan, dan berbagai ekspresi kebudayaan, Guruh membangun identitasnya sendiri. Ia tidak hanya berdiri sebagai anak seorang presiden, tetapi sebagai seniman yang berusaha memberi warna pada kebudayaan Indonesia.
Nama Guruh kemudian lekat dengan Swara Mahardika dan GSP Production.
Ia juga ikut mendirikan grup musik Guruh Gipsy, sebuah perjalanan yang mempertemukan energi musik dengan eksplorasi kebudayaan dan kreativitas.
Jejak itu membuat namanya tetap hidup jauh melampaui panggung.
Dari panggung seni ke gedung parlemen
Guruh tidak hanya berjalan di lorong seni.
Ia juga memasuki dunia politik.
Sebagai politikus senior PDI Perjuangan, Guruh pernah duduk sebagai anggota DPR RI. Ia tercatat menjadi anggota parlemen pada periode 1992–1997 dan kembali menjalankan tugas tersebut pada periode-periode berikutnya hingga 2024, mewakili daerah pemilihan Jawa Timur.
Dunia politik memberinya panggung lain.
Jika seni memberinya ruang untuk merawat rasa dan kebudayaan, politik mempertemukannya dengan denyut kepentingan rakyat dan perjalanan kebangsaan.
Dua dunia itu kemudian menjadi bagian dari satu perjalanan hidup yang panjang.
Kini perjalanan itu berhenti.
Yang tersisa adalah karya, ingatan, dan nama yang akan terus disebut dalam catatan kebudayaan serta sejarah politik Indonesia.
Ketika seorang seniman pulang
Kematian selalu memiliki cara sendiri untuk membuat manusia kembali melihat perjalanan hidup seseorang secara utuh.
Guruh tidak lagi berada di tengah panggung.
Tidak lagi berada di antara gemuruh musik.
Tidak lagi duduk dalam ruang-ruang politik.
Tetapi karya dan jejaknya tidak serta-merta ikut pergi.
Ada sesuatu yang tinggal setelah seorang manusia meninggalkan dunia: ingatan orang-orang yang pernah disentuh kehidupannya, karya yang pernah dilahirkan, dan nilai yang pernah diperjuangkan.
Bagi keluarga, kehilangan itu tentu jauh lebih dalam.
Bagi dunia seni, kepergian Guruh menutup satu lembar perjalanan seorang seniman yang tumbuh di tengah keluarga sejarah republik.
Bagi dunia politik, kepergiannya mengakhiri perjalanan seorang tokoh yang pernah mengambil bagian dalam kehidupan parlemen Indonesia.
Dan bagi bangsa, namanya akan tetap menjadi bagian dari mozaik panjang perjalanan Indonesia.
Sabtu itu, kabar duka datang membawa kesunyian.
Seorang putra Bung Karno telah pulang.
Seorang seniman telah menutup panggung kehidupannya.
Seorang politikus telah meninggalkan ruang pengabdiannya.
Namun Indonesia akan terus mengingat Guruh—bukan hanya sebagai anak bungsu Soekarno, melainkan sebagai manusia yang memilih meninggalkan jejaknya sendiri melalui seni, kebudayaan, dan pengabdian kepada bangsa.
Pada akhirnya, setiap panggung akan gelap.
Setiap musik akan menemukan nada terakhir.
Tetapi karya yang lahir dari hati akan selalu menemukan jalan untuk dikenang.
Selamat jalan, Guruh Soekarnoputra.
Panggung kehidupan telah usai, tetapi nada yang pernah kau tinggalkan akan terus terdengar dalam ingatan Indonesia.













