banner 728x250

Ayah Prada Lucky Namo Menangis di Tengah Sunyi: Surat Terbuka untuk Presiden Prabowo

 

JAKARTA [BELUPOS.COM] — Suara dari Tapal Batas, Demi Keadilan dan Kemanusiaan

Dari Kabupaten Belu, daerah yang berbatasan langsung dengan Timor Leste, sebuah suara penuh luka mengalun pelan tapi pasti — menembus batas waktu dan jarak menuju Jakarta.
Ia datang dari seorang ayah yang kehilangan anaknya di barisan TNI, namun belum juga menemukan keadilan yang dijanjikan.

Dialah Pelda Chrestian Namo, ayah dari almarhum Prada Lucky Namo, prajurit muda TNI AD yang tewas dalam situasi penuh tanda tanya. Kini, 63 hari sudah berlalu sejak tragedi itu, namun belum ada sidang, belum ada kepastian hukum, belum ada keadilan.

Dalam surat terbuka yang ditujukan langsung kepada Presiden Republik Indonesia, Bapak Prabowo Subianto, Pelda Chrestian menulis dengan nada getir namun penuh hormat.
Pangdam IX/Udayana telah menyampaikan bahwa ada 20 orang tersangka dan kasus akan diproses terbuka untuk umum. Tapi hingga kini, kami tak pernah menerima kabar apa pun. Janji transparansi itu menguap tanpa jejak,” tulisnya.

Lebih menyakitkan lagi, ia mengungkap adanya upaya damai melalui uang Rp10 juta per pelaku yang disertai surat pernyataan agar kasus dianggap selesai.
Ada yang datang membawa uang, meminta kami menandatangani surat perdamaian. Bahkan, mereka berusaha mengadu domba antara saya dan ibu korban, agar kami berhenti menuntut keadilan,” ungkap sang ayah.

Namun, darah prajurit dalam dirinya menolak tunduk. Ia tidak menyerah. Ia menulis surat itu bukan untuk mencari belas kasihan, melainkan untuk menagih janji negara.

Kami percaya, di bawah kepemimpinan Bapak Presiden Prabowo Subianto — seorang prajurit sejati — keadilan dan kehormatan TNI akan ditegakkan tanpa pandang bulu. Kami hanya meminta agar pelaku dipecat dan dihukum seberat-beratnya, termasuk hukuman mati jika pantas,” tegasnya.

Surat itu kini bergema luas — bukan hanya sebagai keluhan, tetapi sebagai seruan moral dari perbatasan: bahwa keadilan tidak boleh diam, apalagi diperdagangkan.
Di rumah duka di Belu, potret Prada Lucky masih tergantung rapi di dinding — senyumnya abadi, meski nyawanya direnggut oleh tangan sesama.

Dan di bawah bendera merah putih yang berkibar di halaman rumahnya, sang ayah masih menunggu.
Menunggu hari di mana negara benar-benar berpihak pada rakyat kecil yang berjuang demi kebenaran.

✍️ BELUPOS.COM — Suara dari Tapal Batas, Demi Keadilan dan Kemanusiaan

banner 325x300
Penulis: Redaksi BeluposEditor: Agustinus Bobe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *