Berita UtamaLensa PerbatasanPolkamwarta Kota

Pengungsi Gempa Sikka Tembus 15.093 Jiwa

45
×

Pengungsi Gempa Sikka Tembus 15.093 Jiwa

Sebarkan artikel ini

MAUMERE |BELUPOS.Com — Enam hari setelah gempa bumi tektonik mengguncang Flores, Kabupaten Sikka masih menyimpan cerita panjang tentang kehilangan, ketakutan, dan harapan untuk kembali pulang.

Pada Kamis (20/8/2026), jumlah warga yang mengungsi justru melonjak signifikan. Data terbaru Media Center Posko Tanggap Darurat Gempa Bumi Tektonik Kabupaten Sikka mencatat 15.093 jiwa dari 4.020 kepala keluarga (KK) kini berada di pengungsian.

Angka tersebut meningkat tajam dibandingkan sehari sebelumnya yang tercatat 11.862 jiwa dari 3.285 KK.

“Di balik angka 15.093 pengungsi, ada ribuan keluarga yang belum menemukan keberanian untuk kembali ke rumahnya sendiri.”

Dari total tersebut, sebanyak 1.299 jiwa dari 397 KK menempati pusat pengungsian di Gelora Samador. Sementara 13.794 jiwa dari 3.623 KK lainnya memilih mengungsi secara mandiri dan tersebar di sembilan kecamatan.

Jumlah pengungsi mandiri ini juga meningkat dari sebelumnya 10.659 jiwa dari 2.961 KK.

PALUE DAN KANGAE MENJADI KANTONG PENGUNGSI

Sebaran pengungsi mandiri menunjukkan luasnya dampak gempa terhadap masyarakat Sikka.

Di Kecamatan Alok, tercatat 877 KK atau 3.106 jiwa. Alok Barat sebanyak 201 KK atau 965 jiwa, sedangkan Alok Timur 19 KK atau 66 jiwa.

Kecamatan Bola mencatat 72 KK atau 210 jiwa, Hewokloang 54 KK atau 135 jiwa, Kangae 1.036 KK atau 3.213 jiwa, Nita 351 KK atau 1.895 jiwa, Talibura 409 KK atau 1.812 jiwa, dan Palue menjadi salah satu wilayah dengan jumlah pengungsi terbesar, yakni 1.000 KK atau 3.691 jiwa.

Besarnya angka pengungsi mandiri memperlihatkan bahwa warga tidak seluruhnya berkumpul di satu lokasi. Banyak keluarga memilih bertahan di sekitar lingkungan tempat tinggalnya, tetapi menjauh dari rumah yang dinilai belum aman.

3.295 RUMAH WARGA RUSAK

Gempa juga meninggalkan jejak kerusakan pada ribuan rumah warga.

Data Posko Tanggap Darurat mencatat 3.295 unit rumah mengalami kerusakan, terdiri atas 943 unit rusak berat, 1.773 unit rusak ringan, dan 579 unit rusak sedang.

Tak hanya rumah warga, sebanyak 225 fasilitas umum juga mengalami kerusakan.

Fasilitas tersebut meliputi 30 bangunan pemerintah, 36 fasilitas kesehatan, 88 fasilitas pendidikan, 13 ruas jalan, 8 unit prasarana, dan 50 rumah ibadah.

Kerusakan tersebut memperlihatkan bahwa dampak gempa tidak berhenti pada ruang keluarga. Infrastruktur yang menjadi denyut kehidupan masyarakat juga ikut terluka.

65 KORBAN, ENAM MENINGGAL DUNIA

Sementara itu, jumlah korban akibat gempa bumi di Kabupaten Sikka tercatat 65 jiwa.

Rinciannya, 6 orang meninggal dunia, 25 orang mengalami luka berat, 28 orang luka ringan, dan 6 orang lainnya masuk kategori korban lainnya.

Bagi keluarga korban, angka tersebut bukan sekadar statistik dalam laporan kebencanaan. Setiap angka menyimpan nama, wajah, keluarga, dan cerita kehilangan.

“Bencana boleh berhenti mengguncang tanah, tetapi bagi keluarga korban, rasa kehilangan sering kali baru memulai perjalanan panjangnya.”

BANTUAN TERUS MENGALIR

Di tengah bertambahnya jumlah pengungsi, bantuan kemanusiaan terus disalurkan ke wilayah terdampak.

Pada Kamis (20/8/2026), arus bantuan diarahkan ke sejumlah kecamatan dan desa yang terdampak gempa. Penyaluran dilakukan bersamaan dengan aktivitas pendataan dan pemantauan kebutuhan masyarakat.

Posko Tanggap Darurat Gempa Bumi Tektonik BPBD Kabupaten Sikka menjadi pusat koordinasi seluruh aktivitas tersebut.

Posko yang berada di bawah koordinasi Plt. Sekda Sikka Margaretha M. Da Maga Bapa, ST., M.Eng., terus bekerja dengan intensitas tinggi sejak dibuka pada 15 Agustus 2026.

Dari tempat itu, berbagai aktivitas penanganan bencana dipusatkan, mulai dari menerima laporan dan pengaduan masyarakat, rapat koordinasi, penerimaan serta penyaluran bantuan, hingga kunjungan pejabat negara, donatur, dan relawan.

“Posko menjadi jantung penanganan bencana—tempat laporan dikumpulkan, bantuan digerakkan, dan harapan warga dipertahankan.”

ENAM HARI BERLALU, PEMULIHAN MASIH PANJANG

Lonjakan jumlah pengungsi dari 11.862 menjadi 15.093 jiwa dalam satu hari menjadi gambaran bahwa fase tanggap darurat di Sikka masih membutuhkan perhatian serius.

Angka tersebut dapat mencerminkan proses pendataan yang semakin lengkap maupun perpindahan warga dari rumah yang belum dianggap aman. Karena itu, penanganan tidak cukup hanya memastikan bantuan tiba di lokasi pengungsian.

Ketersediaan pangan, air bersih, layanan kesehatan, tempat tinggal sementara yang layak, hingga kepastian keamanan bangunan menjadi bagian penting dari perjalanan menuju pemulihan.

Enam hari setelah bumi berguncang, ribuan warga Sikka masih tidur jauh dari rumah.

Mereka mungkin kehilangan dinding, atap, atau halaman tempat anak-anak biasa bermain. Namun satu hal yang belum boleh hilang adalah harapan.

Sebab, setelah bencana merobohkan banyak rumah, pekerjaan terbesar manusia adalah membangun kembali rasa aman—hingga suatu hari, para pengungsi dapat pulang dan menyebut rumahnya sebagai rumah lagi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *