ATAMBAU |BELUPOS.Com– Malam di Gedung Wanita Bete Lalenok, Sabtu (15/08/2026), terasa lebih khidmat dari biasanya. Di hadapan bendera Merah Putih dan deretan calon pengibar pusaka bangsa, para pelajar berdiri dalam diam—membawa nama sekolah, keluarga, dan Kabupaten Belu di pundak mereka.
Malam itu, mereka tidak sekadar dikukuhkan sebagai Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka). Mereka menerima sebuah amanat negara: menjaga kehormatan Merah Putih pada detik-detik sakral peringatan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.
Wakil Bupati Belu, Vicente Hornai Gonsalves, ST., menegaskan bahwa menjadi anggota Paskibraka bukan semata-mata buah dari kemampuan fisik maupun keberhasilan melewati rangkaian latihan. Lebih dari itu, kesempatan tersebut merupakan bentuk kepercayaan negara kepada generasi muda.
“Ini adalah kepercayaan yang diberikan oleh negara kepada adik-adik. Tidak semua generasi muda mendapatkan kesempatan ini. Karena itu, tunjukkan kepada seluruh masyarakat Kabupaten Belu bahwa kalian mampu melaksanakan pengibaran dan penurunan Bendera Merah Putih dengan sebaik-baiknya pada tanggal 17 nanti,” tegas Vicente.
Pesan itu menjadi semacam penanda bahwa tugas Paskibraka tidak berhenti pada barisan yang rapi, langkah yang serempak, atau ketepatan gerakan. Di balik setiap hentakan kaki dan aba-aba komandan, terdapat disiplin, tanggung jawab, serta penghormatan kepada sejarah panjang bangsa yang diperjuangkan para pahlawan.
Vicente meminta seluruh anggota Paskibraka menjalankan tugas dengan dedikasi, integritas, dan disiplin tinggi. Menurutnya, pengibaran Sang Saka pada detik-detik Proklamasi merupakan puncak dari seluruh latihan dan pengorbanan yang telah mereka jalani.
Sebab, pada 17 Agustus nanti, perhatian ribuan mata akan tertuju kepada mereka. Ketepatan waktu dan kesempurnaan gerakan bukan sekadar urusan teknis, melainkan bagian dari cara generasi hari ini menghormati jasa para pendahulu bangsa.
Di antara barisan itu, Stifany Elga Tae, anggota Paskibraka Kabupaten Belu dari SMAK Suria Atambua, menyimpan pengalaman yang tidak kalah berarti. Baginya, terpilih menjadi Paskibraka merupakan kebanggaan sekaligus perjalanan yang mengajarkan arti perjuangan.
“Saya merasa sangat bangga bisa terpilih. Latihan selama ini mengajarkan saya arti perjuangan. Harapan kami, semoga teman-teman generasi muda di Kabupaten Belu tetap semangat belajar. Jangan bosan-bosan menuntut ilmu, karena kita sedang mempersiapkan diri menghadapi Generasi Emas Indonesia 2045,” ujar Stifany.
Pesan Stifany memperluas makna kemerdekaan dari lapangan upacara ke ruang-ruang belajar. Bagi generasi muda Belu, perjuangan tidak selalu hadir dalam bentuk pertempuran seperti yang dialami para pahlawan. Hari ini, perjuangan itu dapat berupa ketekunan belajar, keberanian berprestasi, kedisiplinan, dan kesediaan menyiapkan diri menyambut masa depan Indonesia.
Ia pun mengajak para pelajar di seluruh Kabupaten Belu menjadikan momentum HUT Ke-81 Kemerdekaan RI sebagai energi untuk terus mengejar prestasi, baik di bidang akademik maupun non-akademik.
Pengukuhan kemudian mencapai titik paling emosional ketika Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Belu, Apolinaris M. Susar, S.Sos., membacakan Teks Ikrar Paskibraka. Dengan suara lantang, seluruh anggota mengucapkan ikrar untuk setia kepada Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Sejenak kemudian, suasana menjadi lebih hening. Perwakilan Paskibraka secara simbolis mencium Bendera Merah Putih. Gerakan sederhana itu menghadirkan pesan yang jauh lebih dalam: kecintaan kepada tanah air tidak selalu membutuhkan kata-kata panjang.
Prosesi dilanjutkan dengan pemasangan lencana kehormatan oleh Wakil Bupati Belu kepada perwakilan Paskibraka. Di titik itu, rangkaian latihan yang panjang menemukan maknanya—sebuah generasi muda sedang diberi ruang untuk berdiri di garis depan sebuah upacara yang akan dikenang setiap tahun.
Secara kontekstual, pengukuhan Paskibraka memiliki arti penting bagi Belu sebagai daerah perbatasan Indonesia–Timor-Leste. Di wilayah yang menjadi salah satu wajah terdepan NKRI tersebut, pendidikan kebangsaan tidak hanya berbicara mengenai simbol negara, tetapi juga tentang bagaimana generasi muda memahami identitas, tanggung jawab, persatuan, dan masa depan bangsa. Paskibraka menjadi salah satu ruang pembentukan karakter itu.
Acara pengukuhan turut dihadiri Forkopimda Kabupaten Belu, Penjabat Sekretaris Daerah, Dansatgas Pamtas RI-RDTL, para Asisten Sekda, pimpinan perangkat daerah, orang tua, serta para pelatih Paskibraka.
Dengan dikukuhkannya pasukan tersebut, Kabupaten Belu kini bersiap menyambut HUT Ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Pada 17 Agustus nanti, ketika Merah Putih perlahan naik menuju puncak tiang, langkah para Paskibraka akan menjadi bagian dari upacara yang lebih besar: mengingatkan bahwa kemerdekaan bukan hanya warisan yang diterima, tetapi amanah yang harus terus dijaga oleh setiap generasi.
Sebab, di balik selembar Merah Putih yang berkibar, selalu ada kepercayaan negara dan harapan bangsa yang dititipkan kepada mereka.













