Berita UtamaLensa PerbatasanPolkamwarta Kota

Pemkab Belu Perkuat Barisan Hadapi Ancaman Karhutla

43
×

Pemkab Belu Perkuat Barisan Hadapi Ancaman Karhutla

Sebarkan artikel ini

ATAMBUA |BELUPOS.Com — Pagi belum sepenuhnya meninggi ketika barisan personel TNI, Polri, BPBD, pemadam kebakaran, Satpol PP, Tagana, hingga unsur kehutanan berdiri dalam satu lapangan. Jumat, 14 Agustus 2026, Lapangan Mapolres Belu di Jalan A. Yani, Kelurahan Kota, menjadi titik berkumpul berbagai kekuatan untuk menghadapi satu ancaman yang kerap datang bersama musim kering: kebakaran hutan dan lahan.

Apel Kesiapsiagaan Karhutla 2026 itu bukan sekadar kegiatan seremonial. Di tengah karakter geografis Nusa Tenggara Timur yang memiliki musim kemarau cukup panjang dan bentang lahan kering yang luas, kesiapan personel, peralatan, koordinasi, serta kecepatan respons menjadi bagian penting dari upaya mencegah api berubah menjadi bencana.

Apel dimulai pukul 07.30 Wita dengan Kapolres Belu AKBP I Gede Eka Putra Astawan, S.H., S.I.K., bertindak sebagai pemimpin apel. Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Belu Drg. Maria Ansilla Eka Mutty bersama jajaran dan sejumlah pimpinan lintas sektor turut hadir.

Hadir pula Wadanyon A Pelopor Kompol Raimundo De Jesus, S.H.; Pasi Ops Kodim 1605/Belu Lettu Kris Bosa; Kasat Pol. PP Kabupaten Belu Maria Deventy Atok, M.M.; Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Belu dr. Bathseba Elena Corputty; Kepala Damkar Belu Yoseph Asa; para Kabag dan Kasat jajaran Polres Belu, serta personel TNI dan Polri.

Satu Barisan, Satu Ancaman

Kekuatan yang diturunkan dalam apel itu berasal dari berbagai unsur. Personel Kodim 1605/Belu sebanyak 1 SSR, Brimob Batalyon A Pelopor 1 SSR, Polres Belu 3 SST, Satpol PP Kabupaten Belu 1 SSR, BPBD Kabupaten Belu 1 SSR, UPTD Dinas Kehutanan Provinsi wilayah Belu dan Malaka 1 SSR, Dinas Sosial/Tagana Kabupaten Belu, serta personel Damkar.

Kapolres Belu membacakan sambutan Kapolda NTT yang menekankan bahwa apel tersebut menjadi momentum untuk memastikan kesiapan personel, sarana dan prasarana, sekaligus koordinasi menghadapi potensi Karhutla di wilayah NTT, khususnya Kabupaten Belu.

“Kesiapsiagaan bukan sekadar berdiri dalam satu barisan, tetapi memastikan setiap personel, setiap peralatan, dan setiap unsur memiliki kesiapan yang sama ketika ancaman benar-benar datang.”

Dalam sambutan itu, jajaran Polda NTT juga menekankan tiga langkah utama menghadapi Karhutla: meningkatkan deteksi dini dan pemetaan wilayah rawan, memperkuat upaya preventif dan preemtif melalui edukasi kepada masyarakat, serta memperkuat sinergitas lintas sektoral.

Sinergitas tersebut mencakup TNI-Polri, pemerintah daerah, BPBD, Basarnas, Damkar, dunia usaha, masyarakat, media, dan seluruh pemangku kepentingan terkait.

Api Harus Dicegah Sebelum Membesar

Setelah apel, kegiatan dilanjutkan dengan pemeriksaan dan pengecekan personel, kendaraan, serta perlengkapan SAR. Pemeriksaan tersebut didampingi para undangan yang hadir dalam apel kesiapsiagaan.

Pengecekan itu menjadi bagian dari mitigasi dini. Sebab dalam penanganan Karhutla, waktu sering kali menjadi pembeda antara api yang dapat dikendalikan dan kebakaran yang meluas.

Secara kontekstual, kondisi musim kemarau panjang dan karakter lahan kering di NTT membuat pencegahan menjadi sama pentingnya dengan pemadaman. Deteksi titik rawan, edukasi masyarakat, kesiapan peralatan, komunikasi lintas sektor, dan respons cepat harus berjalan sebagai satu rangkaian, bukan sebagai langkah yang baru dilakukan setelah api terlihat membesar.

Karena itu, apel kesiapsiagaan di Belu diarahkan untuk memastikan personel siap bergerak, sarana dan prasarana siap digunakan, mitigasi dini berjalan, serta respons cepat dapat dilakukan apabila Karhutla terjadi di wilayah kewilayahan.

Bukan hanya kesiapan di lapangan yang diperkuat. Dalam pelaksanaan apel tersebut juga dibentuk grup komunikasi WhatsApp lintas sektor sebagai sarana koordinasi dalam mengantisipasi Karhutla di Kabupaten Belu.

Langkah itu menunjukkan bahwa perang terhadap api tidak hanya membutuhkan selang, kendaraan, dan personel. Ia membutuhkan komunikasi yang tidak putus ketika situasi berubah dalam hitungan menit.

Menjaga Belu Sebelum Api Menyala

Apel Kesiapsiagaan Karhutla 2026 di Kabupaten Belu pada akhirnya menjadi penanda kesiapan bersama menghadapi ancaman bencana kebakaran hutan dan lahan.

Di bawah panas musim kemarau, seluruh unsur berdiri membawa tugas masing-masing. Polisi membawa kewenangan penegakan hukum dan pengamanan. TNI membawa kekuatan dukungan. BPBD membawa mandat penanggulangan bencana. Damkar membawa kemampuan pemadaman. Pemerintah daerah, kehutanan, Tagana, masyarakat, media, dan seluruh pemangku kepentingan membawa peran yang saling melengkapi.

Sebab api tidak mengenal batas institusi.

Ketika api mulai menjalar, yang dibutuhkan bukan sekadar siapa yang paling cepat datang, melainkan seberapa kuat semua pihak telah bersiap sebelum api itu menyala.

Dan dari Belu, pesan kesiapsiagaan itu terdengar sederhana tetapi tegas: alam tidak selalu memberi kesempatan kedua; karena itu, menjaga hutan dan lahan hari ini berarti menyelamatkan kehidupan sebelum api mengambilnya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *