ATAMBUA |BELUPOS.Com — Sebuah kisah dari sekolah sederhana di pelosok Belu menggema hingga Bangkok, Thailand. Prestasi itu bukan sekadar kebanggaan, melainkan menjadi pesan kuat bahwa perubahan besar selalu berawal dari keberanian melahirkan gagasan sederhana. Semangat itulah yang dibawa Wakil Bupati Belu, Vicente Hornai Gonsalves, S.T., saat membuka secara resmi Forum Group Discussion (FGD) Diseminasi Jenis, Prosedur, dan Metode Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah yang Bersifat Inovatif di Gedung Wanita Bete Lalenok, Atambua, Selasa (28/7/2026).
Di hadapan para Aparatur Sipil Negara (ASN) dan para pemangku kepentingan, Vicente mengajak seluruh perangkat daerah menjadikan inovasi sebagai napas dalam setiap pelayanan kepada masyarakat. Baginya, inovasi bukan sekadar memenuhi tuntutan administrasi atau mengejar penghargaan, melainkan budaya kerja yang menghadirkan pelayanan publik yang semakin cepat, mudah, transparan, dan akuntabel.
Sebagai inspirasi, Vicente mengangkat keberhasilan SMP IL Kapten Fatubaa, sebuah sekolah di wilayah pedesaan Belu yang berhasil meraih juara utama regional dalam ajang AIA Healthiest Schools 2026 di Bangkok, Thailand. Prestasi tersebut diraih setelah mengungguli hampir 1.000 peserta dari sembilan negara di kawasan Asia Pasifik melalui inovasi Huka Upcycling Project (HUP), yakni mendaur ulang kulit pisang menjadi produk bernilai tambah dengan pendekatan ekonomi sirkular.
“Kita patut berbangga. Sebuah sekolah di wilayah terpencil mampu mengukir prestasi mendunia, mengungguli sekolah-sekolah besar di kota. Ini membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah hambatan. Jika gagasan sederhana dari sebuah sekolah desa bisa diakui dunia, maka saya yakin setiap perangkat daerah, kecamatan, desa, hingga puskesmas di Belu juga memiliki potensi yang sama,” ujar Vicente Hornai Gonsalves.
Menurutnya, selama ini masih banyak yang memandang inovasi identik dengan teknologi canggih atau anggaran besar. Padahal, inovasi dapat lahir dari perubahan cara berpikir, penyempurnaan metode kerja, maupun langkah-langkah sederhana yang mampu memberikan solusi nyata terhadap persoalan masyarakat.
“Yang kita butuhkan adalah kemauan untuk berubah, keberanian untuk berkreasi, dan komitmen untuk melayani. Jangan ragu untuk memulai perubahan dari hal-hal kecil,” tegasnya.
Vicente menambahkan, sebagai wilayah yang berada di beranda terdepan Negara Kesatuan Republik Indonesia, Kabupaten Belu memiliki tantangan pembangunan yang khas. Karena itu, setiap inovasi yang lahir harus bertumpu pada potensi lokal, menghargai kearifan masyarakat, serta mampu menjawab kebutuhan riil masyarakat perbatasan secara berkelanjutan.
Forum Group Discussion yang diselenggarakan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BP4D) Kabupaten Belu tersebut menjadi ruang untuk memperkuat pemahaman mengenai inovasi daerah sekaligus membangun sinergi antarpemangku kepentingan. Melalui forum itu diharapkan lahir berbagai terobosan yang tidak berhenti pada konsep, tetapi benar-benar diwujudkan dalam pelayanan publik yang dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
“Manfaatkan momentum ini untuk berdiskusi. Jangan cepat berpuas diri. Setiap gagasan patut kita dukung bersama untuk mewujudkan Belu yang lebih sejahtera,” pungkasnya.
Di tengah berbagai tantangan pembangunan, kemajuan sebuah daerah sesungguhnya tidak hanya ditentukan oleh besarnya sumber daya yang dimiliki, tetapi oleh keberanian manusia-manusia di dalamnya untuk menciptakan solusi. Sebab, setiap inovasi yang lahir dari kepedulian adalah benih perubahan yang kelak akan tumbuh menjadi harapan bagi masa depan Belu.















