ALOR| BELUPOS.Com – Pagi itu, angin laut Vetabang berembus lembut menyapu pesisir Pulau Pura. Perahu-perahu nelayan berayun pelan di tepian pantai, sementara riuh masyarakat yang berkumpul menyatu dengan suara ombak yang datang silih berganti. Di tengah bentangan laut biru dan langit yang teduh, Festival Olang Mangsari 2026 kembali digelar—bukan sekadar perayaan budaya, melainkan sebuah penegasan bahwa tradisi dapat menjadi jalan menuju kesejahteraan.
Di hadapan masyarakat yang memenuhi Pantai Vetabang, Kamis (25/6/2026), Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur, Johni Asadoma, membuka festival yang telah memasuki tahun kelima penyelenggaraannya itu. Ia melihat Olang Mangsari bukan hanya sebagai warisan leluhur yang terus hidup, tetapi juga sebagai kekuatan ekonomi yang mulai menunjukkan dampak nyata bagi masyarakat Pulau Pura.
“Festival Olang Mangsari merupakan contoh nyata bagaimana budaya dapat menjadi kekuatan ekonomi masyarakat. Jika dikelola secara konsisten dan profesional, festival ini dapat menjadi identitas unggulan Pulau Pura sekaligus motor penggerak ekonomi lokal,” ujar Johni Asadoma.
Festival yang diselenggarakan Jemaat GMIT Elim Dadibira tersebut menghadirkan beragam atraksi budaya, pameran UMKM, bazar hasil perikanan, kuliner khas daerah, hingga promosi wisata bahari yang melibatkan masyarakat secara langsung. Kehadiran pengunjung dan wisatawan membuka ruang ekonomi yang lebih luas bagi para nelayan, penenun, pengrajin anyaman, pelaku usaha kecil, hingga kelompok masyarakat yang bergerak di sektor jasa dan pariwisata.
Bagi masyarakat Pulau Pura, Olang Mangsari bukan sekadar agenda tahunan. Ia adalah denyut kehidupan yang tumbuh dari laut, dari tradisi, dan dari nilai-nilai yang diwariskan turun-temurun. Di setiap aktivitas budaya yang ditampilkan, tersimpan cerita tentang hubungan manusia dengan alam yang selama ini menjadi fondasi kehidupan masyarakat pesisir.
“Olang Mangsari bukan sekadar tradisi mencari nafkah, tetapi sebuah cara hidup yang menggambarkan hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Tuhan. Inilah kekayaan budaya yang harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang,” tutur Johni.
Dalam kesempatan tersebut, Wakil Gubernur juga memperkenalkan program One Community One Product (OCOP) yang tengah dikembangkan Pemerintah Provinsi NTT. Program ini mendorong setiap komunitas untuk mengembangkan produk unggulan yang memiliki nilai ekonomi sekaligus daya saing di pasar yang lebih luas.
Menurutnya, Pulau Pura memiliki modal yang sangat kuat untuk berkembang. Mulai dari tenun tradisional, anyaman, hasil laut, produk olahan perikanan, hingga kekayaan budaya yang mampu menjadi magnet wisata berbasis kearifan lokal.
Secara kontekstual, geliat Festival Olang Mangsari menunjukkan arah baru pembangunan daerah yang semakin menempatkan budaya sebagai instrumen ekonomi. Di berbagai wilayah Indonesia, pendekatan pembangunan berbasis budaya terbukti mampu menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan karena tidak hanya menghasilkan pendapatan, tetapi juga memperkuat identitas masyarakat dan menjaga warisan leluhur agar tetap relevan di tengah perubahan zaman.
Selain berbicara tentang ekonomi, Johni juga merespons berbagai kebutuhan dasar masyarakat Pulau Pura. Menanggapi aspirasi warga terkait pembangunan tambatan perahu dan perlindungan kawasan pesisir dari ancaman abrasi, ia meminta pemerintah desa, kecamatan, pemerintah kabupaten, serta unsur gereja untuk segera menyiapkan proposal dan data pendukung agar dapat diperjuangkan ke tingkat provinsi maupun pusat.
“Saya akan berupaya memperjuangkan pembangunan tambatan perahu karena ini merupakan kebutuhan dasar masyarakat Pulau Pura. Yang penting proposal dan data harus disiapkan dengan baik,” tegasnya.
Komitmen pemerintah juga terlihat dalam upaya penyediaan air bersih. Saat ini telah tersedia dua sumur bor di Pulau Pura, sementara satu sumur bor tambahan sedang dibangun di Vetabang. Bahkan, Wakil Gubernur menyatakan kesiapannya mendukung pembangunan satu sumur bor tambahan di wilayah Pura Selatan guna memperluas akses masyarakat terhadap air bersih.
Di sisi lain, ia mengingatkan pentingnya menjaga kelestarian laut yang selama ini menjadi sumber kehidupan utama masyarakat Pulau Pura. Praktik-praktik penangkapan ikan yang merusak, menurutnya, harus ditinggalkan demi menjaga keberlangsungan ekosistem yang menopang sektor perikanan dan pariwisata.
“Laut adalah sumber kehidupan masyarakat Pulau Pura. Karena itu harus dijaga agar tetap lestari untuk generasi yang akan datang,” ujarnya.
Usai membuka festival, Wakil Gubernur bersama Wakil Bupati Alor dan rombongan meninjau bazar UMKM, menyaksikan atraksi tradisional bubuh ikan, serta berkeliling Pulau Pura untuk melihat langsung potensi wisata dan kebutuhan masyarakat.
Di pulau kecil yang dikelilingi laut itu, Festival Olang Mangsari kembali membuktikan bahwa tradisi tidak pernah menjadi cerita masa lalu semata. Ia adalah jembatan yang menghubungkan warisan leluhur dengan harapan masa depan—tempat budaya, ekonomi, dan kehidupan masyarakat bertemu dalam satu irama yang sama. Dan selama ombak masih menyapa pesisir Pulau Pura, semangat itu akan terus hidup, mengantar generasi demi generasi menuju kesejahteraan yang berakar pada jati diri mereka sendiri.















