banner 728x250

Ketika Robot Belajar dari Timur: Kupang Menyusun Masa Depan dengan Kabel, Logika, dan Harapan

KUPANG | BELUPOS.Com
Pagi di Kupang Nusa Tenggara Timur belum sepenuhnya panas ketika suara langkah anak-anak muda itu memenuhi ruang.

Di antara meja, kabel, papan sirkuit, dan layar presentasi, lahir sesuatu yang lebih besar dari sekadar lomba: harapan. Harapan bahwa dari Timur, teknologi tidak hanya dipelajari—tetapi diciptakan.

Di ruangan itu, gagasan tentang robotik tidak berdiri dingin sebagai mesin. Ia menjadi bahasa baru bagi generasi Nusa Tenggara Timur untuk berbicara tentang masa depan.

Inilah Lomba Robotik Pertama di NTT, sebuah penanda zaman yang diselenggarakan Logosi Institute, lembaga pendidikan teknologi di bawah naungan PT Filosi Exider Inovasi—perusahaan dengan tagline yang nyaris seperti doa: Inovasi tanpa batas.

Membangun dari Keterbatasan, Bukan Menunggu Kelimpahan

Erwin Alexander, Direktur PT Filosi Exider Inovasi dan Founder Logosi Institute, tidak berbicara tentang teknologi sebagai kemewahan. Ia menyebutnya sebagai kebutuhan dasar masa depan—terutama bagi wilayah yang selama ini lebih sering disebut tertinggal daripada didengar.

“Di era digital ini, kemampuan berpikir kritis, kreatif, memecahkan masalah, dan menguasai teknologi bukan lagi pilihan,”
“Ia adalah syarat hidup.”

Di NTT, kata Erwin, tantangan justru menjadi alasan untuk bergerak lebih cepat. Keterbatasan akses pendidikan teknologi dan minimnya sumber daya manusia di bidang STEM bukan penghalang, melainkan panggilan untuk bertindak.

Logosi Institute lahir dari kesadaran itu. Bersama empat anak perusahaan—Filosi Laptop, iFilosi, Filoget, dan Logosi Pendidikan—mereka membangun ekosistem kecil yang percaya bahwa inovasi tidak harus menunggu pusat.

Ruang Belajar yang Menghidupkan Imajinasi

Di Logosi Institute, teknologi diajarkan bukan sebagai hafalan, tetapi sebagai pengalaman. Vivin da Silva, Manager dan Co-Founder Logosi Institute, menyebut lembaganya sebagai ruang eksplorasi, tempat anak-anak muda belajar menyentuh masa depan dengan tangan mereka sendiri.

“Kami ingin Logosi menjadi pionir kemajuan teknologi di NTT,”
“Karena sebagai provinsi kepulauan, NTT menyimpan potensi besar—termasuk sumber daya manusianya.”

Kelas-kelas yang dibuka bukan kelas elitis: teknisi laptop, teknisi handphone, web design, Microsoft Office, hingga kelas robotik sebagai unggulan. Semua diarahkan pada satu tujuan: membuat teknologi terasa dekat, relevan, dan membumi.

Vivin percaya, pendidikan adalah tanggung jawab kolektif. Karena itu, lomba robotik ini tidak sekadar kompetisi, melainkan undangan terbuka bagi semua pihak untuk ikut membangun.

Arena Kompetisi, Ladang Pembinaan

D’Timor Manbait, Ketua Panitia Lomba Robotik Logosi 2026, menyebut kegiatan ini sebagai langkah awal menanam budaya inovasi berbasis teknologi di NTT.

Lomba ini terbuka untuk jenjang SD, SMP, hingga SMA/SMK se-NTT, dengan Kota Kupang sebagai titik awal. Sekolah-sekolah di luar Kupang akan diundang secara resmi untuk datang dan berkompetisi. Sementara itu, Expo Robotik disiapkan sebagai ruang pamer bagi perguruan tinggi di NTT—khususnya yang memiliki jurusan terkait teknologi dan robotik.

“Ini bukan sekadar lomba,”
“Ini proses pembinaan, pengembangan kreativitas, dan pemberdayaan.”

Sejauh ini, sosialisasi telah dilakukan dan mendapat respons positif dari sekolah-sekolah. Di balik layar, panitia diisi anak-anak muda dengan ide-ide besar dan keyakinan yang sama: bahwa masa depan NTT tidak harus dicari dengan merantau jauh.

Epilog: Dari Timur, Mesin-Mesin Mulai Bermimpi

Robot-robot itu kelak mungkin akan bergerak, berjalan, atau menghitung. Tapi hari ini, yang paling penting: ia mengajarkan anak-anak Timur untuk bermimpi secara sistematis.

Lomba Robotik dan Expo Pertama di NTT bukan sekadar agenda tahunan. Ia adalah tonggak kecil yang berdiri tegak di antara keterbatasan—sebagai bukti bahwa dari Kupang, masa depan bisa dirakit, satu komponen, satu ide, satu keberanian pada satu waktu.

Dan barangkali, dari ruang sederhana ini, akan lahir generasi yang tidak lagi bertanya “bagaimana caranya keluar?”
melainkan “bagaimana caranya membangun dari sini.”

 

banner 325x300
Penulis: Redaksi Lintastimor.idEditor: Agustinus Bobe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *