Berita UtamaLensa PerbatasanPendidikanPolitikPolkamwarta Kota

UGM Titip Inovasi Desa Demi Masa Depan Belu

115
×

UGM Titip Inovasi Desa Demi Masa Depan Belu

Sebarkan artikel ini

ATAMBUA |BELUPOS.Com — Selama lima puluh hari, jejak-jejak pengabdian itu tumbuh di antara halaman rumah warga, jalan-jalan desa, hingga ruang musyawarah yang sederhana. Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) kolaborasi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta dan Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang tak sekadar menyelesaikan program akademik. Mereka meninggalkan peta gagasan, arah pembangunan, dan harapan baru yang kini dititipkan kepada Pemerintah Kabupaten Belu sebagai bekal menata masa depan desa-desa di kawasan perbatasan.

Pesan itu disampaikan Koordinator Wilayah Kuliah Kerja Nyata Nusa Tenggara Timur, Prof. Ambar Kusumandari, saat acara penarikan mahasiswa KKN kolaborasi UGM dan Undana di Kabupaten Belu. Ia menegaskan, keberhasilan pengabdian tersebut lahir dari kolaborasi erat antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, pemerintah desa, dan masyarakat yang selama ini membuka ruang belajar sekaligus ruang berkarya bagi para mahasiswa.

Prof. Ambar menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Belu beserta masyarakat yang telah memberikan dukungan penuh selama mahasiswa menjalankan pengabdian selama 50 hari. Menurutnya, sinergi yang terbangun menjadi fondasi penting bagi lahirnya berbagai inovasi pembangunan desa.

“Kami berharap hasil kerja mahasiswa tidak berhenti sebagai laporan akademik, tetapi menjadi dokumen hidup yang dimanfaatkan pemerintah daerah dan pemerintah desa untuk menyusun kebijakan pembangunan yang lebih terarah,” ujar Prof. Ambar.

Seluruh program yang dijalankan, lanjutnya, disusun berdasarkan potensi, kebutuhan, serta persoalan nyata yang dihadapi masyarakat. Pendekatan tersebut membuat setiap gagasan yang dihasilkan tidak sekadar memenuhi target akademik, melainkan benar-benar menjawab tantangan pembangunan di tingkat desa.

Dari proses itu lahir berbagai dokumen strategis, mulai dari profil desa, master plan pembangunan desa, master plan kawasan wisata, hingga rekomendasi pengembangan potensi lokal. Seluruh dokumen tersebut dinilai memiliki nilai strategis sekaligus ekonomi karena dapat menjadi rujukan dalam merancang pembangunan desa secara berkelanjutan.

Lebih jauh, Prof. Ambar menegaskan bahwa UGM mengusung prinsip keberlanjutan (sustainability) dalam setiap pelaksanaan KKN. Pendampingan kepada desa tidak berhenti setelah mahasiswa ditarik, melainkan dirancang berlangsung selama tiga tahun dan dapat diperpanjang hingga desa benar-benar mampu berkembang secara mandiri.

“Kami menitipkan hasil karya mahasiswa kepada Pemerintah Kabupaten Belu agar dapat ditindaklanjuti. Semoga kerja sama ini terus berlanjut dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat serta menjadi bagian dari percepatan pembangunan di Kabupaten Belu,” kata Prof. Ambar.

Kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah kini semakin dipandang sebagai model pembangunan yang efektif, terutama bagi wilayah perbatasan seperti Kabupaten Belu. Kehadiran kampus tidak hanya memperkaya kajian ilmiah, tetapi juga menghadirkan solusi yang lahir dari kebutuhan riil masyarakat. Ketika riset, pengabdian, dan kebijakan bertemu dalam satu arah yang sama, pembangunan desa memiliki peluang lebih besar untuk berlangsung terukur, berkelanjutan, dan memberi dampak langsung bagi kesejahteraan warga.

Pada akhirnya, pengabdian tidak selalu diukur dari lamanya waktu berada di lapangan, melainkan dari gagasan yang terus hidup setelah langkah kaki kembali pulang. Di Belu, kolaborasi itu telah meninggalkan lebih dari sekadar laporan; ia mewariskan peta jalan menuju desa yang semakin maju, mandiri, dan berdaya di beranda timur Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *