ATAMBUA, |BELUPOS.Com) – Di kolam adat Ainiba, Desa Fatuketi, Kecamatan Kakuluk Mesak, Kabupaten Belu,Nusa Tenggara Timur perbatasan RI – Timor Leste, ribuan orang berbaur dalam sukacita.
Sabtu (23/8/2025), tradisi penangkapan ikan dengan jaring tradisional kembali digelar. Suasana meriah itu bukan sekadar pesta rakyat, melainkan juga napas budaya yang terus dijaga dari generasi ke generasi.
Acara ini menjadi agenda tahunan setiap bulan Agustus, dengan warga Desa Fatuketi sebagai tuan rumah. Namun gaungnya jauh melampaui batas desa—masyarakat dari Kabupaten Belu hingga Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) turut hadir, menjadikan Ainiba sebagai ruang perjumpaan lintas batas dan lintas suku.
Sebelum puncak perayaan, ritual adat digelar Rabu (21/8/2025). Pemangku adat dari suku Fatuketi, Kolibau, dan Makluli Fahi memimpin upacara sakral itu, seolah membuka pintu kolam agar alam berkenan memberi hasil terbaik.
Hingga puncak acara, lebih dari 3.000 orang memenuhi tepian kolam. Sorak-sorai pecah ketika jaring tradisional diturunkan, menggiring ikan-ikan gabus, mujair, dan lele ke tepian. Tradisi ini bukan sekadar tentang hasil tangkapan, melainkan tentang kegembiraan, kebersamaan, dan penghormatan pada alam.
Salah seorang warga, Anis Koson, menuturkan bahwa keunikan tradisi ini justru terletak pada penggunaan jaring tradisional.
“Kalau ditangkap dengan cara modern, tidak ada meriahnya. Tapi dengan jaring tradisional, semua orang bisa ikut bergembira. Kalau dikemas baik, tradisi ini bisa jadi ikon wisata yang menarik,” ujarnya penuh semangat.
Ia juga berharap agar pemerintah daerah Belu maupun Provinsi NTT turut mendukung perayaan ini secara terencana.
“Kalau pemerintah proaktif, tradisi ini bukan saja melestarikan budaya, tapi juga bisa menghidupkan usaha kecil menengah. Banyak warga bisa mendapat manfaat ekonomi,” tambahnya.
Dari Ainiba, kita belajar bahwa air, ikan, dan jaring bukan sekadar sarana hidup, melainkan juga simbol persaudaraan. Tradisi ini menjadi bukti bahwa budaya mampu mengikat masyarakat dalam sukacita, sekaligus membuka peluang bagi masa depan pariwisata Belu yang lebih berwarna.















