SBD |BELUPOS.Com) – Di tanah Sumba, babi bukan sekadar ternak. Ia adalah bagian dari denyut kehidupan sosial, budaya, hingga ekonomi masyarakat. Namun, badai besar bernama African Swine Fever (ASF) pernah meluluhlantakkan populasi babi di Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD).
Badan Pusat Statistik mencatat, populasi babi yang semula melonjak 10,87 persen per tahun pada 2020–2022, tiba-tiba anjlok 55,29 persen pada 2022–2023, dari 142.753 ekor menjadi hanya 63.894 ekor. Tahun berikutnya, populasi mulai bangkit tipis 3,14 persen menjadi 65.897 ekor.
Di tengah ancaman penyakit dan lemahnya manajemen produksi, sebuah harapan baru datang lewat teknologi inseminasi buatan (IB).
“Kawin suntik adalah jalan keluar murah, mudah, dan bisa dilakukan massal. Peternak tidak perlu lagi bergantung pada pejantan mahal,” terang
Dr. Ir. Ulrikus R. Lole, M.Si.
Kawin Suntik sebagai Solusi
Keterbatasan pejantan unggul, mahalnya biaya pemeliharaan, hingga tingginya angka kematian anak babi, selama ini menjadi problem klasik. “IB adalah solusi paling realistis. Dengan teknologi ini, peternak bisa mempercepat produksi tanpa menanggung biaya besar,” jelas Ulrikus R. Lole, dosen Fakultas Peternakan, Kelautan, dan Perikanan (FPKP) Universitas Nusa Cendana (UNDANA) yang memimpin kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) di Desa Payola Umbu, Kecamatan Loura, 7 Juni 2025 lalu.
Bersama timnya, Ir. Petrus Kune, M.Si. dan Ir. Daud Amalo, M.Si., ia menggelar pelatihan IB bagi Kelompok Peternak Harapan Baru yang beranggotakan 25 orang. Sejumlah mahasiswa Universitas Katolik Weetabula dan inseminator lokal turut mendukung kegiatan ini.
Semangat yang Menular
Antusiasme peternak terasa sejak awal. Banyak di antara mereka memang pernah mendengar istilah kawin suntik, tapi belum pernah menyaksikan langsung prosesnya. Dari persiapan kandang, pemilihan induk dan pejantan, penampungan semen segar, hingga inseminasi, semua dipraktikkan.
“Kami baru tahu ternyata lebih hemat, karena tidak perlu memelihara pejantan. Malah bisa langsung kawinkan induk yang siap, tanpa menunggu lama,” ungkap salah satu peternak peserta dengan wajah sumringah.
Pada kesempatan itu, dua ekor induk babi milik peternak yang sudah teramati birahi langsung dijadikan contoh aplikasi IB.
Harapan yang Menyala
Lebih dari sekadar praktik teknis, kegiatan ini menyalakan optimisme baru. Peternak mulai membayangkan keuntungan ekonomi yang lebih besar, sekaligus kemandirian dalam beternak.
Ulrikus menegaskan, teknologi IB babi adalah pintu masuk menuju tata kelola peternakan modern. “Kami berharap dari Loura, semangat ini menjalar ke desa-desa lain. Harapan baru babi Sumba harus kita bangun bersama,” pungkasnya.















