BETUN |BELUPOS.Com] – Dalam adat Aintasi, tanah bukan sekadar hamparan bumi. Ia adalah pusaka leluhur, tempat darah dan air mata dititipkan, tempat doa-doa orang tua bergema sepanjang zaman. Maka ketika seorang anak Malaka, Ferdinandus Rame, mengambil keputusan menghibahkan tanahnya bagi pembangunan Puskesmas Fahiluka, itu bukanlah langkah biasa. Itu adalah persembahan budaya—sebuah wujud cinta yang berakar dalam pada tanah dan manusia.
Ferdi Rame, mantan pejabat Pemkab Malaka sekaligus tokoh adat Aintasi, tampil sebagai penenun solusi di tengah simpul kusut persoalan lahan yang lama berpindah-pindah. Dengan tangan terbuka, ia mengakhiri sengkarut itu demi satu hal: mendekatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.
“Sebagai anak Malaka, saya merasa bertanggung jawab. Saat Malaka dimekarkan, saya ikut berjuang. Maka kini, ketika masyarakat butuh fasilitas kesehatan, saya wajib ikut memberi jalan,” tutur Ferdi, Kamis (28/8/2025), dengan nada yang penuh ketulusan.
Ia sadar, tanah yang diberi bukanlah hilang, tetapi menjelma menjadi rumah baru bagi harapan.
“Saya berharap pembangunan ini berjalan cepat. Pemerintah SBS-HMS juga bisa melengkapinya dengan jalan masuk, deker, dan listrik, agar pelayanan benar-benar sampai pada rakyat,” ungkap mantan Kadis Dukcapil itu.
Tak berhenti di situ, Ferdi menyeru masyarakat Aintasi untuk bergandeng tangan mendukung pembangunan ini. “Puskesmas ini bukan milik saya, bukan milik pemerintah semata. Ini milik kita semua. Mari kita jaga agar cepat selesai dan bisa dipakai untuk kebaikan bersama,” pesannya.
Sikap Ferdi memantik resonansi di hati masyarakat. Seorang warga Aintasi yang enggan disebutkan namanya menyampaikan rasa bangganya.
“Pak Ferdi telah memberi teladan. Ia menunjukkan bahwa anak Malaka sejati adalah mereka yang lebih memilih berbagi daripada sekadar memiliki. Tanah boleh dilepas, tapi nilai kebajikan itu akan hidup abadi bagi anak cucu,” ujarnya penuh haru.
Dan benar adanya. Dalam budaya Malaka, memberi adalah menanam benih kehidupan. Tanah yang kini dipersembahkan Ferdi bukan sekadar lahan kosong, melainkan tapak suci yang akan melahirkan penyembuhan, doa, dan keselamatan.
Dengan begitu, sejarah akan mencatat bahwa di Aintasi, seorang anak Malaka pernah memilih memberi tanah leluhurnya untuk kehidupan banyak orang.
Ia menanam teladan, dan dari teladan itu, generasi mendatang akan belajar bagaimana mencintai tanah ini dengan cara yang paling luhur: berbagi demi sesama.















