Berita UtamaLensa PerbatasanPariwisatawarta Kota

Tais Selu Hananu Menjaga Jejak Leluhur Duarato

112
×

Tais Selu Hananu Menjaga Jejak Leluhur Duarato

Sebarkan artikel ini

ATAMBUA | BELUPOS.Com — Gong dipukul. Suaranya pecah di antara rumah-rumah adat dan bentang alam Kampung Adat Duarato, Jumat, 25 September 2026. Sejenak, suasana seperti membawa siapa pun yang hadir kembali menengok lorong panjang masa lalu—ketika kain ditenun dengan tangan, syair diwariskan lewat suara, dan pengetahuan leluhur disimpan bukan di lembar-lembar buku, melainkan dalam ingatan masyarakat.

Dari kampung adat itulah Festival “Tais Selu Hananu” resmi dibuka.

Festival yang berlangsung pada 25–26 September 2026 tersebut digelar di Kampung Adat Tae Bere Hol Saq Kenaian Sele Mo, Desa Duarato, Kecamatan Lamaknen, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur. Sebuah perhelatan budaya yang tidak sekadar menampilkan kesenian tradisional, tetapi membuka kembali ruang bagi masyarakat untuk membaca jejak identitas yang diwariskan para leluhur.

Pemukulan gong sebagai tanda dimulainya festival dilakukan oleh Judi Wahjudin, S.S., M.Hum., Sekretaris Direktorat Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.

Ia didampingi Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XVI Nusa Tenggara Timur, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Belu, Sekretaris Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Belu, Kepala Desa Duarato, serta Raja atau Nai Duarato.

Festival Tais Selu Hananu Tahun 2026 mendapat dukungan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia dan terlaksana melalui kerja sama Direktorat Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan Kementerian Kebudayaan RI dengan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XVI Nusa Tenggara Timur serta Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Belu.

Ketika kain berbicara tentang leluhur

Di Duarato, kebudayaan tidak berhenti sebagai pertunjukan.

Ia hadir melalui sapaan adat, tarian, syair, pantun, nyanyian, tata cara penyambutan hingga kain tenun yang dibuat melalui proses panjang. Setiap unsur membawa cerita dan simbol yang menghubungkan masyarakat hari ini dengan kehidupan para leluhur.

Tema “Tais Selu Hananu” menjadi gambaran perpaduan karya tenun, pantun, syair, dan nyanyian tradisional masyarakat Bunaq. Semuanya merefleksikan identitas budaya masyarakat Kabupaten Belu, terutama masyarakat Kecamatan Lamaknen dan Lamaknen Selatan.

Judi Wahjudin mengatakan, kehadiran Kementerian Kebudayaan di wilayah perbatasan merupakan bagian dari komitmen untuk terus mendukung pelestarian kebudayaan masyarakat.

Menurutnya, festival tersebut tidak semata-mata menjadi seremoni pembukaan sebuah kegiatan budaya, tetapi menjadi kesempatan untuk merayakan keberagaman sekaligus kekayaan yang masih hidup di Kampung Adat Duarato.

“Tentunya kita hadir di tempat ini tidak hanya untuk mengikuti pembukaan festival saja, tetapi merayakan keberagaman, merayakan kekayaan yang dimiliki oleh Kampung Adat Duarato.”

Ia kemudian menyoroti berbagai unsur adat yang ditemuinya sejak tiba di Duarato.

Dari tarian, sapaan adat, syair-syair adat hingga penyuguhan secara adat, semuanya menurut dia menunjukkan bahwa masyarakat memiliki kekayaan budaya yang harus terus dijaga dan dilestarikan.

“Dari tarian, sapaan adat, syair-syair adat, penyuguhan secara adat, simbol-simbol yang ada menunjukkan bahwa kita mempunyai kekayaan budaya yang terus kita jaga dan lestarikan. Melalui semua itu kita dapat memaknainya.”

Menyusuri museum, membaca masa lalu

Perjalanan rombongan menuju museum dan galeri budaya menjadi bagian lain dari pengalaman tersebut.

Di tempat itu, beragam benda dan simbol budaya memperlihatkan bahwa pengetahuan masyarakat masa lalu tidak lahir tanpa proses. Ia tumbuh dari pengalaman panjang, dari kemampuan membaca alam, mengolah bahan, membangun ruang kehidupan, hingga menciptakan karya yang memiliki nilai simbolik.

Judi mengaku terkesan dengan apa yang ditemuinya sejak proses penjemputan hingga kunjungan ke museum dan galeri budaya.

“Dari penjemputan sampai ke museum galeri budaya, kita melihat berbagai macam kekayaan budaya adat yang harus terus dilestarikan. Di dalamnya terdapat simbol-simbol yang mempunyai makna dan menjelaskan kehidupan para leluhur ribuan tahun lalu.”

Baginya, pengalaman singkat di Duarato justru membuka ruang pengetahuan yang panjang.

Benda-benda budaya tidak lagi hanya dipandang sebagai peninggalan, melainkan sebagai sumber informasi mengenai cara hidup masyarakat pada masa lampau.

Dari kapas menjadi selembar tais

Salah satu kekayaan yang paling kuat terasa dalam festival itu adalah tais, kain tradisional yang tidak lahir dalam satu malam.

Ada kapas yang dipintal. Ada bahan yang diolah menjadi pewarna. Ada tangan-tangan yang bekerja dengan ketekunan. Kemudian benang disusun dan ditenun hingga perlahan berubah menjadi kain yang menyimpan motif, simbol, dan cerita.

Judi menilai proses tersebut merupakan salah satu cara untuk memahami kebudayaan secara lebih utuh.

“Untuk proses pembuatan kain, kita bisa melihat cara dan proses pembuatannya, mulai dari pemintalan kapas, cara pewarnaan yang diolah secara tradisional, menenun hingga menjadi sebuah karya tais yang indah. Itulah cara memahami kebudayaan.”

Ia menegaskan, setiap tahapan tersebut memiliki makna.

Kain yang selesai ditenun bukan sekadar benda untuk dikenakan. Di dalamnya terdapat pengetahuan, keterampilan, simbol dan warisan yang diturunkan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Karena itu, pengetahuan mengenai asal-usul, makna dan sejarah kebudayaan lokal menjadi penting untuk terus digali.

Duarato dan dua penguasa

Di tengah perjalanan memahami kebudayaan Duarato, sejarah kampung itu sendiri menjadi bagian yang menarik.

Judi menyebut penjelasan mengenai asal-usul nama Duarato, sebagaimana disampaikan Nai Duarato, berkaitan dengan dua penguasa, yakni Loro Tahakae dan Loro Lakaan.

Pengetahuan seperti itu, menurutnya, perlu terus digali dan diperkenalkan. Bukan hanya kepada masyarakat setempat, tetapi juga kepada para tamu yang datang ke Duarato.

“Ini harus terus digali untuk bisa dijadikan pengantar. Ini penting dan harus dikuasai oleh tamu maupun masyarakat Desa Duarato dan sekitarnya.”

Pernyataan itu memperlihatkan bahwa pelestarian budaya tidak hanya berbicara tentang menjaga benda-benda lama. Lebih jauh, ia menyangkut kemampuan masyarakat untuk memahami dan menceritakan kembali asal-usul mereka.

Sebab ketika sebuah generasi kehilangan cerita tentang kampungnya sendiri, maka yang perlahan hilang bukan hanya cerita, tetapi juga sebagian dari identitasnya.

Kebudayaan bukan sekadar tontonan

Judi kemudian mengaitkan pelestarian budaya tersebut dengan amanat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.

Ia menegaskan bahwa pemajuan kebudayaan antara lain diarahkan untuk memperkuat ketahanan budaya dan meningkatkan kontribusi kebudayaan.

Karena itu, kebudayaan tidak semestinya selalu diukur hanya dari manfaat ekonomi yang langsung terlihat.

“Dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 ditekankan bahwa pemajuan kebudayaan itu adalah memperkuat ketahanan budaya dan kontribusi budaya. Jadi jangan lupa, kebudayaan itu bukan berhubungan langsung dengan kesejahteraan yang bisa menghidupi kehidupan.”

Baginya, kebudayaan memiliki ruang yang jauh lebih luas.

Tradisi lisan, pantun, syair, manuskrip, teknologi tradisional, arsitektur, seni, permainan tradisional hingga olahraga tradisional merupakan bagian dari kekayaan yang perlu dipahami sebagai satu kesatuan.

Apa yang tampak sederhana hari ini, bisa jadi merupakan hasil kecanggihan pengetahuan masyarakat pada zamannya.

“Kemajuan kebudayaan itu bukan hanya tradisi lisan seperti pantun dan syair. Ada manuskrip, ada teknologi tradisional, arsitektur. Dari kekayaan yang kita lihat ternyata bukan hanya masa sekarang, masa dulu juga sudah canggih sesuai dengan masanya.”

Menjaga yang diwariskan, meneruskan yang belum selesai

Di Kampung Adat Duarato, festival akhirnya menemukan maknanya sendiri.

Ia bukan hanya panggung tempat tarian ditampilkan. Bukan hanya tempat kain tenun diperlihatkan. Bukan pula sekadar pertemuan antara pemerintah dan masyarakat adat.

Festival itu menjadi ruang perjumpaan antara masa lalu dan masa kini.

Di sana, suara gong bertemu dengan suara generasi baru. Syair lama kembali terdengar. Kain yang dikerjakan dengan tangan kembali mendapat tempat. Cerita leluhur kembali dituturkan.

Semua itu mengingatkan bahwa kebudayaan tidak pernah benar-benar selesai diwariskan.

Ia selalu membutuhkan generasi yang bersedia menerima, memahami, merawat, lalu meneruskannya.

Judi Wahjudin mengaku sangat terkesan dengan pengalaman yang diperolehnya selama berada di Duarato.

“Saya sangat terkesan hadir di sini. Mudah-mudahan nanti ada rezekinya lagi, kita akan berkumpul lagi di sini.”

Kalimat itu seperti menjadi penutup sederhana dari sebuah perjalanan budaya.

Namun di balik kesederhanaannya, tersimpan harapan yang lebih panjang: agar Duarato tetap menjadi rumah bagi cerita-cerita leluhur, agar tais tetap berbicara melalui motif dan warna, agar syair tidak kehilangan suara, dan agar generasi yang datang kemudian masih dapat mengenali dirinya melalui warisan budaya yang dijaga hari ini.

Sebab di sebuah kampung adat di perbatasan, masa lalu ternyata belum benar-benar pergi.

Ia masih hidup—di antara gong, tenunan, syair, rumah adat dan ingatan manusia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *