banner 728x250

Rumah Adat Uma Kakaluk di Perbatasan Belu Ludes Terbakar

ATAMBUA | BELUPOS.COM – Malam di perbatasan berubah duka ketika kobaran api melahap sebuah rumah adat milik Suku Uma Kakaluk di Dusun Likubauk, Desa Tohe Leten, Kecamatan Raihat, Kabupaten Belu, Kamis (18/9/2025) sekitar pukul 19.50 WITA.

Rumah adat beratap alang-alang itu menjadi saksi bisu perih kehilangan seorang janda tua, Nene Wilhelmina Bikan, yang seketika harus merelakan pusaka leluhur dan benda-benda pemali yang diwariskan turun-temurun.

“Api pertama kali muncul dari belakang rumah, kecil lalu membesar. Kami tak sempat menyelamatkan barang-barang pemali… semuanya ludes,” ujar anak Nene Wilhelmina dengan suara bergetar menahan sedih.

Tak ada korban jiwa, namun harta pusaka berupa surik, plat, koba, dan peninggalan adat lain habis dilalap api. Warga menduga kebakaran dipicu oleh api tungku masak yang ditinggalkan hingga merambat cepat ke atap alang-alang.

Kini, yang tersisa hanya abu dan kenangan. Kerugian ditaksir mencapai ratusan juta rupiah. Tetapi yang lebih berat adalah kehilangan jejak budaya, jejak leluhur yang kini hanya tersimpan dalam ingatan.

“Rumah adat bukan sekadar tempat tinggal. Ia adalah jiwa, warisan, dan kebanggaan suku. Kehilangannya adalah kehilangan sejarah,” tutur seorang tokoh masyarakat yang ikut menyaksikan puing-puing terbakar.


🔥 Traditional House Uma Kakaluk in Belu Border Razed by Fire

ATAMBUA | BELUPOS.COM – A tragic fire engulfed a traditional house of the Uma Kakaluk clan in Likubauk Hamlet, Tohe Leten Village, Raihat Subdistrict, Belu Regency, East Nusa Tenggara, Thursday night (Sept 18, 2025).

The house, built with alang-alang thatched roof, belonged to Nene Wilhelmina Bikan, a widow who now grieves the loss of ancestral relics and sacred heirlooms.

“The fire started from the back of the house… it spread so fast. All the sacred heirlooms were burned to ashes,” said her child with trembling voice.

No lives were lost, but heirlooms such as surik, plat, koba and other sacred objects were reduced to ashes. The fire was suspected to have originated from a cooking fire left unattended.

Losses are estimated to reach hundreds of millions of rupiah, yet the true wound lies in the cultural and spiritual heritage now gone forever.


🔥 Uma Kakaluk iha Fronteira Belu Toba ho Api

ATAMBUA | BELUPOS.COM – Uma adat Uma Kakaluk iha Likubauk, Suku Tohe Leten, Postu Raihat, Munisipiu Belu, toba ho api iha quinta (18/9/2025) tuku 19:50 kalan.

Uma ne’ebé kaben hela, Nene Wilhelmina Bikan, lakohi hatene atu simu moris foun, tanba fatin lulik no sasaan adat hotu-hotu halakon.

“Api hahú husi kotuk uma… barak barak, no sai boot. Sasan lulik hotu toba ho api,” dehan oan Nene Wilhelmina ho laran susar.

La iha vitima mate, maibé sasan lulik hanesan surik, plat, koba hotu lakon. Halakon ne’e bele asesu juta-juta Rupiah, maibé perda boot mak perda kultura no istoria.


🔥 Uma Kakaluk na Raihat Tohe Leten Toba ho Api (Bahasa Belu Atambua)

ATAMBUA | BELUPOS.COM – Uma adat Uma Kakaluk na Dusun Likubauk, Desa Tohe Leten, Raihat, Belu, toba ho api iha malam Kamis (18/9/2025).

Uma adat ne’e atap alang-alang, uma na’inya Nene Wilhelmina Bikan, feto janda. Api mai husi belakang uma, sae sae lai no halo uma hotu tesa.

“Api mai kotuk uma, sae lai jadi boot. Sasan adat surik, plat, koba hotu halakon,” husu oan Nene Wilhelmina.

La iha mate, maibé kerugian juta rupiah. Uma adat ne’e bukan sekedar uma, maibé jiwa no warisan suku.


🌐 BELUPOS.COM — Menyuarakan Rakyat dari Perbatasan untuk Nusantara


 

banner 325x300
Penulis: Agust BobeEditor: Agustinus Bobe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *