ATAMBUA |BELUPOS.Com) – Anggaran pembangunan kembali menorehkan harapan baru. Pemerintah Kabupaten Belu menetapkan rencana Rp1 miliar per tahun untuk setiap kelurahan, mulai tahun anggaran 2026. Ada 12 kelurahan yang akan tersentuh, tersebar di Kecamatan Kota Atambua, Atambua Selatan, dan Atambua Barat.
Papan Gang dan Nomor Rumah
Di sela kunjungan Bupati Belu Willybrodus Lay, S.H., untuk pencanangan papan gang dan penomoran rumah di Kelurahan Lidak, suara lain ikut bergema. Bukan sekadar sambutan formal, melainkan jeritan lirih tentang keseharian para perangkat RT, RW, LPM, hingga kader kesehatan.
Suara dari RT 17
“Selama ini jasa kami hanya Rp500 ribu per bulan. Sementara biaya hidup terus naik, biaya sekolah anak makin kompleks, dan kertas untuk administrasi pun kami tanggung sendiri,” tutur Arsi Luan, Ketua RT 17 Kelurahan Lidak, kepada Belu Pos.
Ia menyebut kebutuhan akan perhatian pemerintah sudah mendesak: peningkatan insentif RT, RW, LPM, dan kader kesehatan setidaknya setara UMR Kabupaten Belu yang kini mendekati Rp2,3 juta.
Beban Kecil yang Jadi Dilema
Di balik meja kecil RT, ada dokumen fotokopi yang dibiayai pribadi. Ada sumbangan duka, hari besar nasional, hingga acara keagamaan yang tak bisa dihindari. Semua itu ditanggung dengan hati, meski dompet sering tak cukup.
“Sebagai perangkat pemerintah terkecil, kami berhadapan langsung dengan masyarakat setiap hari. Tetapi sering kali justru kami yang paling rapuh,” ucap Arsi lirih.
Harapan pada Pemimpin
Seruan ini ditujukan kepada Bupati Willy Lay dan Wakil Bupati Vicente de Hornai, juga kepada DPRD Belu di bawah kepemimpinan Feby Juang. Harapan itu sederhana: agar kebijakan besar di tingkat kabupaten jangan lupa menghidupi yang kecil di lapangan.
“Pemerintah sudah menjanjikan porang dan SIM gratis. Kami hanya meminta hal yang sama: perhatian pada RT, RW, LPM, dan kader kesehatan. Karena kami adalah wajah pertama pemerintah di mata rakyat,” pungkas Arsi.
Titik Temu
Rp1 miliar per kelurahan adalah langkah besar. Namun, suara lirih dari RT di Lidak menyadarkan kita: pembangunan bukan hanya soal infrastruktur, tetapi juga menghidupi mereka yang setiap hari menjaga denyut pelayanan publik di akar rumput.















