banner 728x250

Prof. Sutan Nasomal: Program Makan Bergizi Gratis Harus Sehat, Transparan, dan Bebas Korupsi

 

JAKARTA, (BELUPOS.Com) – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang pemerintah sebagai wujud Asta Cita Presiden kini mendapat sorotan tajam. Apa yang semula dielu-elukan sebagai solusi meringankan beban ekonomi orang tua murid, kini justru dipertanyakan setelah muncul kasus dugaan keracunan massal di sekolah dasar negeri di Sukabumi, Jawa Barat.

Puluhan murid di Kecamatan Parakansalak dilaporkan mengalami mual, muntah, dan sakit perut usai menyantap menu bergizi gratis.

 

Peristiwa itu menimbulkan keresahan baru: sejauh mana kualitas dan standar keamanan makanan benar-benar terjamin di bawah program nasional yang menelan triliunan rupiah anggaran rakyat.

Pakar hukum internasional sekaligus ekonom, Prof. Dr. Sutan Nasomal, SH, MH, menilai kasus ini tidak boleh dipandang sebelah mata.

“Pertama, ini menyangkut keselamatan anak-anak bangsa. Program yang diklaim untuk menyehatkan jangan sampai menjadi ancaman kesehatan. Kedua, kita wajib awas: apakah program ini dijalankan dengan niat tulus atau sekadar seremonial politik untuk menutup kekurangan program Asta Cita Presiden,” ujarnya di Jakarta, Sabtu (23/8/2025).

Ia menegaskan, program dengan skala nasional dan anggaran besar berpotensi menjadi ladang subur praktik korupsi.

“Kita tahu, mafia anggaran di negeri ini selalu mencari celah. Jangan sampai dana yang seharusnya untuk gizi anak-anak justru masuk kantong segelintir orang,” tandasnya.

Dari perspektif hukum kesehatan, Prof. Sutan menekankan pentingnya pengawasan ketat atas bahan baku, proses memasak, hingga distribusi makanan. Dugaan keracunan, katanya, bisa muncul akibat rantai pengolahan yang longgar: mulai dari pemasok pangan yang tak terverifikasi, dapur yang tak higienis, hingga kontrol pemerintah yang lemah.

“Kita bicara soal anak-anak. Masa depan bangsa dipertaruhkan di meja makan sekolah. Kalau pengawasan lalai, akibatnya fatal. Pemerintah tidak boleh main-main. Program ini harus transparan, akuntabel, dan berbasis kepentingan rakyat—bukan kepentingan politik sesaat,” tegasnya.

Prof. Sutan, yang juga Presiden Partai Oposisi Merdeka sekaligus pendiri Ponpes Ass Saqwa Plus Jakarta, menutup pernyataannya dengan nada reflektif:

“Makanan adalah doa yang masuk ke tubuh anak-anak kita. Jika tercemar, bukan hanya kesehatan yang tergadai, tetapi juga masa depan bangsa.”

Kini masyarakat menanti langkah konkret pemerintah: menindaklanjuti kasus keracunan, memperbaiki tata kelola MBG, dan memastikan bahwa program ini benar-benar hadir sebagai penjamin gizi anak-anak, bukan sekadar proyek mercusuar yang menyisakan luka.

 

banner 325x300
Penulis: Redaksi BeluposEditor: Agustinus Bobe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *