ATAMBUA |BELUPOS.Com) — Ada momen-momen dalam hidup yang begitu sederhana, namun terasa abadi. Sore itu, di sebuah rumah di Atambua, bukan panggung megah, bukan pula sorotan kamera televisi, melainkan ruang tamu sederhana yang menjadi saksi. Kursi-kursi biasa, lantai keramik putih, dan senyum keluarga yang lama menunggu—semua menyatu menjadi panggung cinta.
Pintu rumah terbuka, langkah kaki itu terdengar. Petrus Yohannes Debrito Armando Djaga Kota—dikenal dengan nama Piche Kota—akhirnya pulang. Pulang setelah sekian lama merantau, berjuang, dan bertahan di kerasnya dunia hiburan. Pulang setelah sejak mengikuti Indonesia Idol, tak sekali pun sempat kembali ke rumah.
Ayahnya, Antonius Chen Jaga Kota, tak kuasa menahan rindu. Begitu tubuh anaknya berdiri di hadapan, ia meraih wajah sang putra dengan kedua tangan. Tidak ada kata-kata yang sempat keluar, hanya sebuah ciuman hangat di pipi dan pelukan erat yang seolah ingin berkata: “Nak, engkau telah kembali.” Air mata pun jatuh, bukan karena duka, melainkan karena bahagia yang tak terbendung.
Di samping, Elfrida Martha Mauluan, ibunda Piche, menatap dengan senyum yang bergetar. Senyum itu mengandung seribu cerita: kerinduan panjang, doa yang tak pernah putus, dan syukur yang akhirnya berbuah. “Piche masih istirahat ya, Pak wartawan… Kami sekeluarga sungguh bahagia sekali dengan kehadiran Petrus kembali,” ucapnya dengan suara bergetar, mencoba menahan air mata yang terus mendesak keluar.
Baginya, hari itu adalah anugerah. Rasa haru bercampur bahagia, karena anak yang ia lepas dengan doa kini pulang membawa cerita kemenangan. “Kami berterima kasih kepada para fans Piche Kota dari Atambua, Malaka, TTU, TTS, Kupang, Rote, Sumba, Alor, Flores, hingga seluruh Indonesia Timur bahkan Timor Leste, yang terus mendoakan anak kami hingga di titik ini,” lanjutnya, dengan nada syukur.
Rumah itu sore itu seolah ikut menangis bahagia. Kursi, dinding, bahkan udara yang berhembus seakan tahu, rindu panjang keluarga Kota akhirnya terbayar.
Rencana perjalanan Piche berikutnya pun membuat keluarga kembali bangga. Pada 2 September 2025, ia akan mengunjungi Kabupaten TTU dalam sebuah tour. Di sana, Uskup Atambua, Mgr. Dr. Dominikus Saku, Pr, akan memimpin misa di Gua Bunda Maria TTU—gua yang pembangunannya dulu pernah mendapat dukungan moral dari Piche bersama sahabatnya, Abilio. Seolah takdir ingin menegaskan, Piche bukan hanya sekadar penyanyi, melainkan anak tanah yang tetap dekat dengan akar dan rohnya.
Sang ayah, Thony, kembali larut dalam haru. Ia bercerita bagaimana hatinya luluh ketika membaca berita kedatangan putranya di media. “Waktu saya baca itu, saya langsung menangis… saya sungguh tidak sangka anak saya bisa sampai di titik ini,” ungkapnya, dengan suara lirih, menunduk menahan sesak.
Momen itu menyimpan pelajaran sederhana: betapapun tinggi mimpi seorang anak, betapapun jauh langkah kakinya melangkah, ia akan selalu kembali ke rumah. Rumah bukan hanya bangunan, melainkan doa ayah-ibu yang setia menunggu. Pelukan, ciuman, dan air mata sore itu adalah bahasa cinta yang tak pernah lekang oleh waktu.
Sore itu, rumah keluarga Kota mengajarkan kita satu hal: bahwa di balik panggung megah dan gemerlap sorotan lampu, ada sebuah panggung kecil yang jauh lebih suci—panggung cinta orang tua. Dan di panggung itu, Piche Kota berdiri sebagai anak, bukan bintang. Anak yang kembali untuk dipeluk, dicium, dan ditangisi dalam bahagia.















