KUPANG |BELUPOS.Com— Kabar duka dari Papua Pegunungan tidak berhenti pada sebuah pemakaman di tanah Rote. Ia pulang bersama kecemasan, mengetuk pintu keluarga, lalu menjelma menjadi pertanyaan yang sulit diabaikan: bagaimana nasib para aparatur sipil negara asal Nusa Tenggara Timur yang masih bertugas di tanah Papua?
Pertanyaan itu semakin berat setelah ponsel milik almarhumah Wili Mbuik, seorang CPNS asal Kabupaten Rote Ndao yang menjadi korban penembakan oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Provinsi Papua Pegunungan, diambil oleh kelompok tersebut.
Dari perangkat yang berpindah tangan itu, muncul ancaman dan teror yang membuat keluarga korban khawatir terhadap keselamatan ASN asal Rote Ndao lainnya yang masih menjalankan tugas di Papua Pegunungan.
Di tengah suasana duka itulah Wakil Gubernur NTT Johni Asadoma menerima langsung kegelisahan keluarga almarhumah.
Pertemuan itu bukan sekadar perjumpaan seorang pejabat dengan keluarga yang sedang berduka. Ada keresahan yang dibawa dari Papua, ada rasa takut yang menyelinap ke ruang-ruang keluarga, dan ada harapan agar pemerintah tidak datang terlambat ketika keselamatan manusia dipertaruhkan.
“Saat hadir memberikan penguatan kepada keluarga almarhumah Wili Mbuik di Rote, saya menerima langsung aspirasi keluarga terkait ancaman jiwa dan teror yang dialami para ASN kita di Papua Pegunungan. Ini harus kita tanggapi secara sangat serius karena menyangkut keselamatan dan nyawa warga negara,” ujar Johni Asadoma.
Dari sana, perhatian Pemerintah Provinsi NTT bergerak dari ruang duka menuju meja koordinasi pemerintah pusat.
Pada Jumat, 25 September 2026, Johni Asadoma melakukan audiensi dengan Wakil Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB), Purwadi Arianto, di Kantor Kementerian PANRB, Jakarta.
Pertemuan tersebut menjadi bagian dari langkah Pemerintah Provinsi NTT untuk mencari jalan perlindungan bagi ASN asal NTT yang berada di wilayah Papua.
Ada 21 ASN asal Kabupaten Rote Ndao yang tercatat telah mengabdi di wilayah Papua.
Mereka datang membawa tugas negara. Mereka bekerja jauh dari kampung halaman, meninggalkan keluarga, dan menempuh ruang pengabdian yang tidak selalu mudah. Namun, ketika ancaman terhadap keselamatan mulai muncul, persoalannya tidak lagi sebatas penempatan aparatur.
Ia menyentuh hak paling mendasar: keselamatan manusia.
Dari meja pemerintah menuju perlindungan nyata
Dalam pertemuan di Jakarta itu, Kementerian PANRB menyambut baik sekaligus memahami kondisi darurat yang dihadapi para ASN asal NTT tersebut.
Pemerintah Provinsi NTT diminta terus membangun koordinasi erat dengan TNI dan Polri, terutama berkaitan dengan jaminan perlindungan keamanan bagi para ASN di lapangan.
Bagi Pemerintah Provinsi NTT, koordinasi tersebut menjadi bagian penting agar persoalan keselamatan tidak berhenti sebagai laporan administratif.
Sebab, di balik angka 21 ASN itu terdapat manusia dengan keluarga yang menunggu kabar.
Ada orang tua yang berharap anaknya pulang. Ada pasangan yang menanti kepastian. Ada keluarga yang setiap kali telepon berdering mungkin berharap mendengar suara yang mereka kenal dari kejauhan.
Papua bagi mereka adalah tempat menjalankan pengabdian. Tetapi ketika ancaman hadir, jarak antara tempat tugas dan rumah terasa semakin panjang.
Karena itu, pemerintah dituntut memastikan bahwa pengabdian tidak berubah menjadi taruhan keselamatan.
Persaudaraan NTT dan Papua
Johni Asadoma juga memilih untuk melihat persoalan ini tidak semata-mata dari sisi keamanan.
Ada hubungan sosial dan persaudaraan yang jauh lebih panjang antara masyarakat NTT dan Papua.
Karena itu, di tengah situasi yang penuh kekhawatiran, ia menyampaikan permohonan dukungan kepada tokoh masyarakat dan warga Papua agar bersama-sama menjaga serta memberikan pengamanan kepada warga NTT yang berada di wilayah tersebut.
Pesan itu menjadi penting karena keamanan tidak hanya dibangun melalui pendekatan institusional. Dalam banyak keadaan, rasa saling menjaga di tengah masyarakat juga menjadi ruang perlindungan bagi mereka yang hidup dan bekerja jauh dari kampung halaman.
Johni menegaskan bahwa Indonesia tidak boleh membiarkan konflik terus melahirkan korban.
“Bangsa Indonesia sangat mencintai Papua dan pemerintah memberikan perhatian yang sangat besar. Konflik ini harus segera diselesaikan agar tidak ada lagi korban jiwa yang tidak perlu,” katanya.
Kalimat itu kemudian ditutup dengan pesan yang lebih luas: persatuan sebagai jalan membangun masa depan bangsa.
“Hanya dengan bersatu membangun Indonesia, bangsa kita akan menjadi maju dan kuat,” pungkasnya.
Di Rote, keluarga almarhumah Wili Mbuik masih menyimpan duka. Di Papua, para ASN asal NTT masih menjalankan tugas. Dan di antara keduanya terbentang jarak yang tidak hanya diukur dengan kilometer, tetapi juga oleh rasa cemas setiap kali kabar dari tanah tugas belum datang.
Karena pada akhirnya, pengabdian kepada negara tidak seharusnya membuat seseorang kehilangan hak untuk merasa aman.
Dan ketika ancaman datang dari tempat yang jauh, rumah seharusnya tidak tinggal diam.
NTT telah menyampaikan pesan itu: keselamatan manusia adalah prioritas, sementara persaudaraan harus menjadi jembatan untuk menjaga mereka yang sedang mengabdi jauh dari tanah kelahiran.













