MALAKA | BELUPOS.COM – Malam di Betun, ibu kota Kabupaten Malaka, berubah menjadi panggung perlawanan sunyi. Sejumlah ibu-ibu datang dengan wajah letih namun penuh tekad, memenuhi Gedung DPRD Malaka sejak kemarin hingga pagi ini. Mereka bukan sekadar berunjuk rasa, melainkan menjadikan rumah rakyat itu benar-benar rumah mereka—tempat bermalam, memasak, hingga tidur di lantai dingin gedung dewan.
Gedung yang biasanya hanya ramai saat sidang, kini berdenyut oleh suara sendok yang beradu dengan panci, aroma masakan sederhana, serta bisik doa yang keluar dari bibir para perempuan tangguh itu. Mereka menolak pulang, memilih menukar kenyamanan rumah dengan dinginnya lantai gedung DPRD. Semua demi satu kata yang terus mereka gaungkan: keadilan.
“Kami tidak akan pergi sebelum suara kami didengar. Anak-anak kami, keluarga kami, butuh kepastian dari pemerintah. Kami rela tidur di sini,” ujar salah seorang ibu dengan mata yang sembab tapi menyala.
DPRD Malaka, yang biasanya hanya jadi simbol politik, kini betul-betul dihidupi masyarakat. Dindingnya menyimpan keluh kesah, lantainya menjadi saksi tidur beralaskan kain seadanya, sementara halamannya dipenuhi bara semangat yang tak padam.
Bagi para ibu itu, malam panjang di gedung wakil rakyat bukan sekadar protes. Ia menjelma doa kolektif, harapan bersama, agar pemerintah membuka mata dan telinga.
Di tengah dingin malam dan kerasnya kursi-kursi kayu, cinta mereka pada keluarga dan tanah Malaka justru terasa hangat. Seakan-akan, dari tubuh lelah yang berbaring di lantai DPRD itu, lahir sebuah pesan yang sederhana namun menggema: jangan biarkan rakyat menunggu terlalu lama untuk sebuah keadilan.
Ketua DPRD Malaka Merespon
Ibu-Ibu Malaka Menyulam Harapan di Gedung DPRD: Ardin Bria Seran Bicara Soal R3T
– Malam yang dingin di Betun berubah menjadi tenda besar harapan. Sejumlah ibu-ibu dari berbagai pelosok Malaka bertahan di Gedung DPRD, menjadikannya rumah singgah demi menuntut hak yang mereka rasa hilang.
Ketua DPRD Malaka, Adrianus Bria Seran saat ditemui media ini pada Jumat (19/09/2025) di Betun, memberikan penjelasan dengan nada yang menenangkan, seolah ingin meredam gelombang kecewa yang membuncah di hati para perempuan itu.
“Mereka adalah ibu-ibu yang tidak lulus R3T dari total 799 peserta di Kabupaten Malaka. Kami di DPRD, baik ketua, wakil ketua maupun komisi, sudah sepakat untuk berkoordinasi dengan Pemda. Saat ini Bupati Stefanus Bria Seran masih di BAKN Jakarta, memperjuangkan penambahan kuota R3T sebanyak 1.038 untuk Malaka. Itu perjuangan yang sedang berlangsung,” ungkap Ardin dengan nada penuh harap.
Namun, ketika DPRD menyarankan para ibu itu kembali ke rumah masing-masing, kenyataan berkata lain. Mereka tetap memilih tidur di lantai dingin gedung rakyat itu, memasak di sudut-sudut ruang, dan bergantian berjaga.
Koordinator aksi, Gordi Nahak, memperkirakan jumlah mereka mencapai 50 hingga 60 orang. Angka kecil, tetapi gema suaranya menggetarkan Malaka.
Gedung DPRD malam itu seakan berubah wajah: dari gedung formal yang kaku, menjadi panggung kasih sayang dan tekad rakyat. Dindingnya menyimpan cerita, kursinya menjadi alas tidur, dan lorong-lorongnya menjadi saksi doa yang disulam dari sabar dan air mata.
“Kami tidak akan menyerah, karena di balik perjuangan ini ada masa depan anak-anak kami. Di sinilah kami bertahan,” ucap salah seorang ibu, matanya memantulkan sinar keteguhan.
Malam-malam panjang itu menjelma puisi perlawanan rakyat kecil. Dan di ujung doa, mereka menunggu: semoga janji perjuangan dari kursi DPRD hingga meja BAKN benar-benar pulang membawa kabar keadilan.
ENGLISH
Mothers of Malaka Weave Hope at the Parliament House: Ardin Bria Seran on R3T
MALAKA – A cold night in Betun turned into a tent of hope. Dozens of mothers refused to go home, staying inside the Malaka Parliament building as if it were their own home—cooking, sleeping, and guarding the night in silence.
The Speaker of the Malaka Regional House of Representatives, Ardin Bria Seran, when confirmed on Friday (19/09/2025), spoke in a tone that carried both empathy and resolve.
“These mothers are among those who did not pass the R3T selection out of 799 participants in Malaka. We at the DPRD, including the chair, vice-chair, and commission, have agreed to coordinate with the local government. Meanwhile, Regent Stefanus Bria Seran is currently in Jakarta at BAKN, fighting for an additional 1,038 R3T slots for Malaka. This struggle is still ongoing,” said Ardin.
Despite advice from the parliament for the mothers to return home, they chose otherwise. They stayed. Their coordinator, Gordi Nahak, estimated around 50 to 60 women—small in number, yet their voices echoed loudly across Malaka.
The parliament building, usually cold and formal, was transformed into a stage of love and resilience. Walls became storytellers, chairs became beds, and corridors became witnesses of whispered prayers.
“We will not give up, because behind this struggle lies the future of our children. Here, we will endure,” said one of the mothers with eyes burning with determination.
In the silence of the night, their presence became poetry—woven from longing, faith, and the undying call for justice.
BAHASA MALAKA (Nuansa Lokal Tetun/Belu)
Ina-ina Malaka Hahoris Esperansa iha Uma DPRD: Ardin Bria Seran Hatete Kona-ba R3T
MALAKA | – Kalan malirin iha Betun halakon buatuk diak liu. Ina-ina Malaka la hakarak fila fali. Sira to’o uma DPRD, hanorin uma buatuk nain—hanorin, hahoris, toba iha laran uma ne’ebé hakarak hela ba justisa.
Presidente DPRD Malaka, Ardin Bria Seran, husu klarifikasaun, Sexta (19/09/2025), dehan:
“Sira ne’e mak ina-ina ne’ebé la pasa iha prosesu R3T husi total 799 kandidatu iha Malaka. Ami iha DPRD, husi presidente, vicepresidente no komisaun hotu-hotu, akorda atu koordena ho Pemda. Agora, Bupati Stefanus Bria Seran hela iha Jakarta iha BAKN, atu luta ba Malaka, hatama fali 1.038 kuota R3T. Luta ida ne’e seidauk remata,” dehan Ardin.
Maski DPRD hatete atu fila fali ba uma, ina-ina ne’e la rona. Koordenador, Gordi Nahak, hatene populasaun iha loron ne’e to’o 50 ka 60 ema. Numeru kiik, maibé lian sira halakon Malaka tomak.
Uma DPRD, ne’ebé normalmente formal no moras, halakon uma domin no resisténsia. Dinding fahe istoria, cadeira halakon bedi, koridor sai testemunya husi rezas sira.
“Ami sei la haktuir, tanba iha luta ida ne’e, iha futuru ba labarik sira. Iha ne’e ami sei hela,” dehan ina ida ho matan nakfatin.
Kalan sira hahoris poema. Poema ne’ebé hahoris husi dalan, kreda no hakarak justisa.















