banner 728x250

Di Batas Negeri, Falent Mengetuk Nurani Layanan: “Jangan Biarkan Pasien Menunggu Negara”

TTU |BELUPOS.Com— Di lantai dua Kantor Bupati Timor Tengah Utara, Kamis (26/3/2026), udara siang terasa lebih berat dari biasanya. Bukan karena panas, melainkan karena pesan yang dibawa oleh Bupati TTU, —sebuah seruan yang menembus dinding birokrasi dan mengetuk jantung pelayanan kesehatan di wilayah perbatasan.

Di hadapan Kepala Dinas Kesehatan, para direktur rumah sakit, hingga kepala puskesmas se-Kabupaten TTU, Falent tidak sekadar berbicara. Ia seperti sedang merapikan kembali makna kehadiran negara—di ruang tunggu pasien, di lorong puskesmas, dan di detik-detik genting ketika nyawa menunggu keputusan.

Kegiatan itu turut dihadiri Plh. Sekda TTU Trinimus Olin, Asisten I Setda TTU Kristoforus Ukat, Plh. Kepala BKPSDM Ignasius L. Ol Sea, Plt. Kepala Dinas Kesehatan Pauyulia Alfira, Plt. Direktur RSUD Kefamenanu dr. Adrianus Antonius Berkanis Abi, serta Direktur RS Pratama Ponu dr. Theresia Mulowato, bersama jajaran tenaga kesehatan se-TTU.

Falent menyoroti satu hal yang kerap luput dari perhatian publik, namun menentukan denyut layanan: sistem pembayaran. Terutama di puskesmas perbatasan—ruang sunyi yang sering menjadi pintu pertama bagi pasien dari negara tetangga, Timor Leste.

Nada suaranya tidak tinggi, namun tegas. Ia seperti mengingatkan bahwa di balik setiap angka dan prosedur, ada manusia yang menunggu kepastian.

Lebih jauh, Falent menekankan disiplin waktu—sebuah hal sederhana yang kerap menjadi keluhan paling sunyi dari masyarakat. Baginya, keterlambatan bukan sekadar soal manajemen, melainkan soal kepercayaan.

Ia juga menegaskan pentingnya kerja tim yang solid. Di puskesmas, kata dia, tidak boleh ada ruang untuk ego sektoral. Yang ada hanya satu tujuan: memastikan setiap pasien mendapatkan layanan yang layak, cepat, dan manusiawi.

Di tengah tekanan efisiensi anggaran, Falent justru melihat peluang dari sistem rujukan. Ia meminta agar mekanisme rujukan dari puskesmas ke RSUD Kefamenanu tetap dijaga, bukan hanya sebagai prosedur medis, tetapi juga sebagai strategi memperkuat Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Namun di sela ketegasan itu, ada sisi lain yang ia tunjukkan—apresiasi. Falent mengaku telah melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke sejumlah puskesmas. Ia melihat taman-taman kecil yang ditata dengan hati, menghadirkan ketenangan bagi pasien dan keluarga yang menunggu.

Baginya, taman bukan sekadar hiasan. Ia adalah tanda bahwa pelayanan kesehatan tidak hanya menyentuh tubuh, tetapi juga perasaan.

Analisis Kontekstual
Di wilayah perbatasan seperti TTU, pelayanan kesehatan tidak berdiri sendiri. Ia bersinggungan dengan dinamika lintas negara, mobilitas pasien, hingga tekanan fiskal daerah. Penegasan Bupati Falent tentang sistem pembayaran, disiplin waktu, dan penguatan rujukan menunjukkan arah kebijakan yang mencoba menyeimbangkan antara pelayanan publik dan keberlanjutan keuangan daerah. Dalam konteks ini, puskesmas bukan lagi sekadar fasilitas kesehatan dasar, melainkan simpul strategis yang menghubungkan aspek kemanusiaan, administrasi, dan geopolitik perbatasan.

Pada akhirnya, di balik setiap arahan dan kebijakan, tersimpan satu pertanyaan sunyi: sejauh mana negara hadir ketika rakyatnya sakit?
Dan di TTU hari itu, jawaban itu tidak hanya diucapkan—tetapi mulai diperjuangkan.

banner 325x300
Penulis: Redaksi BeluposEditor: Agustinus Bobe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *