ATAMBUA | BELUPOS.COM — Ada sesuatu yang selalu pulang bersama aroma pangan.
Ia membawa kita kepada tanah, kepada kebun, kepada tangan-tangan yang menanam, dan kepada ingatan tentang rumah.
Di pelataran Plaza Pelayanan Publik, Jumat (2/10/2026) malam, ingatan itu seperti kembali disapa. Pangan lokal Belu hadir dalam berbagai rupa, warna, dan cita rasa. Ia tidak hanya dipamerkan sebagai hasil bumi, tetapi juga sebagai bagian dari cerita panjang masyarakat yang hidup berdampingan dengan tanahnya.
Malam itu, pangan berbicara lebih jauh daripada sekadar rasa.
Ia berbicara tentang identitas.
Tentang ketahanan.
Tentang perempuan yang mengolah hasil kebun menjadi produk bernilai ekonomi.
Dan tentang sebuah daerah yang sedang belajar mencintai kembali apa yang tumbuh dari tanahnya sendiri.
Dalam pembukaan Pameran Pangan Lokal bertema “Kreasi Lokal untuk Ketahanan Berkelanjutan”, Wakil Bupati Belu, Vicente Hornai Gonsalves, S.T., mengajak masyarakat membangun kebanggaan terhadap pangan lokal.
Bukan sekadar bangga ketika dipamerkan.
Tetapi bangga ketika dikonsumsi.
Rai Belu, Fila Ba Abut
Vicente menyampaikan ajakan itu dalam semangat Rai Belu, Fila Ba Abut—kembali ke akar.
Akar itu bukan hanya tempat sebuah pohon berpijak. Dalam kehidupan masyarakat Belu, akar juga dapat dimaknai sebagai warisan yang menghubungkan generasi hari ini dengan leluhur.
Pangan menjadi salah satu jejaknya.
“Gerakan konsumsi pangan lokal harus dimulai dari keluarga, sekolah, masyarakat hingga lingkungan pemerintahan. Kita perlu terus mendorong diversifikasi pangan karena sumber makanan bergizi tidak hanya berasal dari beras, tetapi juga jagung, ubi dan berbagai hasil pangan lokal lainnya.”
Kutipan Vicente itu seperti mengetuk pintu paling sederhana dalam kehidupan: meja makan. Dari sanalah kecintaan terhadap pangan lokal dapat dimulai—bukan melalui slogan, melainkan melalui pilihan yang hadir setiap hari.
Sebab sebelum menjadi produk pameran, pangan lokal terlebih dahulu merupakan bagian dari kehidupan.
Ia tumbuh di tanah.
Dipanen oleh tangan.
Dibawa pulang.
Dimasak.
Kemudian diwariskan sebagai rasa.
Ai Uhik Kuhus dan Ingatan yang Tidak Boleh Hilang
Ada alasan lain mengapa malam itu terasa istimewa.
Ai Uhik Kuhus—ubi kayu kukus—telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia Tahun 2026.
Sebuah pangan sederhana memperoleh tempat dalam catatan kebudayaan Indonesia.
Namun pengakuan bukanlah akhir dari perjalanan.
Ia justru menghadirkan tanggung jawab baru: menjaga agar pengetahuan, cara pengolahan, dan kebiasaan mengonsumsi pangan tersebut tetap hidup di tengah generasi yang terus berubah.
Di situlah warisan budaya menemukan maknanya.
Bukan hanya untuk dikenang.
Tetapi untuk terus dihidupkan.
Ketika Tangan Perempuan Mengubah Hasil Bumi
Pangan lokal juga menyimpan cerita tentang perempuan.
Di banyak rumah, tangan perempuan menjadi jembatan antara hasil kebun dan meja makan. Dari tangan yang sama, bahan pangan dapat berubah menjadi produk olahan yang memiliki nilai ekonomi.
Vicente menaruh perhatian pada potensi tersebut.
Ia mendorong pelaku UMKM, khususnya kaum perempuan, untuk terus mengembangkan produk pangan lokal agar semakin kreatif, higienis, bernilai tambah, dan mampu menembus pasar yang lebih luas.
“Membeli dan mengonsumsi pangan lokal berarti kita mendukung petani, nelayan, pelaku UMKM, serta seluruh masyarakat yang terlibat dalam rantai ekonomi.”
Kutipan itu menyimpan satu pesan penting: pangan tidak pernah berdiri sendiri. Di belakang satu produk terdapat banyak tangan yang bekerja dan banyak keluarga yang menggantungkan kehidupan pada perputaran ekonomi tersebut.
Karena itu, ketika seseorang membeli pangan lokal, yang bergerak bukan hanya uang dari satu tangan ke tangan lain.
Ada petani yang kembali memiliki ruang untuk menanam.
Ada pelaku UMKM yang memperoleh kesempatan memperbesar usaha.
Ada keluarga yang mendapatkan penghasilan.
Dan ada tradisi yang tetap memiliki tempat dalam kehidupan modern.
Dari Pangan, Belu Menulis Masa Depan
Pemerintah Kabupaten Belu, kata Vicente, berkomitmen mendukung pengembangan UMKM melalui pelatihan pengolahan produk dan berbagai kegiatan pameran.
Upaya itu sekaligus diarahkan untuk menjadikan Belu sebagai pusat festival di Pulau Timor.
Namun jauh sebelum sebuah festival menjadi besar, ada sesuatu yang lebih mendasar yang harus tumbuh: kebanggaan masyarakat terhadap apa yang mereka miliki.
Dan kebanggaan itu, mungkin, bermula dari satu keputusan yang sangat sederhana.
Memilih produk sendiri.
Memilih pangan yang tumbuh di tanah sendiri.
Menjadikan hasil bumi daerah sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Pada akhirnya, pembangunan tidak selalu hadir dalam bentuk gedung tinggi atau jalan panjang.
Kadang ia hadir dalam bentuk yang sederhana—sebutir jagung, sepotong ubi, sebuah produk UMKM, atau makanan tradisional yang tetap disajikan di meja keluarga.
Menutup sambutannya, Vicente menyampaikan:
“Dari pangan lokal kita bangun Kabupaten Belu. Dari Kabupaten Belu kita bangun NTT yang semakin maju.”
Kutipan itu menjadi penutup sekaligus benang merah: bahwa masa depan sebuah daerah dapat dirawat dari apa yang ditanam, diolah, dihargai, dan dikonsumsi oleh masyarakatnya sendiri.
Malam semakin larut di Atambua.
Pameran mungkin akan selesai.
Meja-meja akan kembali kosong.
Namun cerita tentang pangan lokal tidak semestinya ikut berakhir.
Sebab selama tanah masih ditanami, tangan masih bekerja, dan masyarakat masih bangga pada hasil buminya, harapan akan selalu menemukan jalan untuk tumbuh.













