banner 728x250

Dari Dapur Sekolah ke Panggung Ekonomi: Melki Laka Lena Resmikan Flobamora, Menghidupkan Rasa dan Harapan dari Belu

ATAMBUA | BELUPOS.Com — Pagi itu tidak sekadar menghadirkan seremoni. Di halaman SMK Kusuma Atambua, aroma masa depan terasa lebih kuat dari sekadar wangi masakan. Di antara sorak hangat para siswa dan derap langkah tamu undangan, Gubernur Nusa Tenggara Timur, Emanuel Melki Laka Lena, datang membawa satu pesan sederhana namun dalam: dapur bisa menjadi panggung peradaban.

Setibanya di lokasi, suasana berubah menjadi perayaan kecil penuh kebanggaan. Anak-anak sekolah menyambut dengan mata berbinar, seolah menyadari bahwa hari itu, ruang belajar mereka naik kelas—dari sekadar tempat menimba ilmu menjadi etalase identitas daerah. Bersama Bupati Belu, sang gubernur memotong pita, membuka secara resmi Dapur Flobamora SMK Kusuma—sebuah ruang yang kini menjanjikan lebih dari sekadar hidangan.

Langkah kaki pun berlanjut meninjau sudut-sudut dapur. Di sana, kreativitas anak-anak muda Belu berdiri tegak, tersaji dalam cita rasa lokal yang selama ini hanya hidup di dapur-dapur rumah.

╔════════════════════════════════════════╗
“Ini yang kita harapkan agar anak-anak sekolah dilatih sejak masih di bangku sekolah. Jika mau makan makanan tradisional khas Belu atau khas NTT, alternatifnya ada di SMK Kusuma, ada Dapur Flobamora.”
╚════════════════════════════════════════╝

Apresiasi itu bukan basa-basi. Ia datang sebagai pengakuan bahwa pendidikan vokasi, ketika dipadukan dengan kearifan lokal, mampu melahirkan sesuatu yang hidup—bukan hanya keterampilan, tetapi juga identitas.

Tak berhenti pada pujian, Melki Laka Lena bahkan menegaskan komitmennya dengan nada setengah instruksi, setengah ajakan: menjadikan dapur ini sebagai destinasi wajib.

╔════════════════════════════════════════╗
“Saya pastikan ini menjadi salah satu tempat wajib ASN provinsi NTT ke Kabupaten Belu. Nanti makan di Dapur Flobamora SMK Kusuma.”
╚════════════════════════════════════════╝

Di balik pernyataan itu, tersimpan strategi sederhana namun berdampak: menghadirkan pasar nyata bagi produk lokal. Sebuah pendekatan yang tidak hanya membangun dari atas, tetapi menghidupkan dari bawah—langsung dari tangan-tangan pelajar.

Dapur Flobamora bukan sekadar ruang memasak. Ia adalah simpul antara pendidikan, ekonomi, dan budaya. Ketika siswa belajar memasak makanan tradisional, mereka sebenarnya sedang menjaga ingatan kolektif sekaligus menciptakan peluang ekonomi baru.

Secara kontekstual, langkah ini menjadi penting di tengah tantangan daerah yang kerap bergulat dengan keterbatasan akses pasar dan rendahnya hilirisasi produk lokal. Dengan menghadirkan ruang seperti Dapur Flobamora di lingkungan sekolah, pemerintah secara tidak langsung membangun ekosistem ekonomi mikro berbasis pendidikan—sebuah model yang jika konsisten dikembangkan, dapat menjadi fondasi kemandirian daerah.

Acara peluncuran ini pun dihadiri oleh Bupati Belu, jajaran pimpinan OPD provinsi dan kabupaten, kepala sekolah SMA dan SMK, serta seluruh siswa-siswi SMK Kusuma Atambua—menjadikan momen tersebut bukan sekadar seremoni, melainkan pernyataan bersama tentang arah masa depan.

Dan di ujung acara itu, satu hal terasa pasti: dari dapur sederhana di sebuah sekolah di perbatasan, harapan sedang dimasak perlahan—hingga suatu hari, aromanya akan menjangkau lebih jauh dari Belu, bahkan melintasi batas-batas yang selama ini dianggap tak terjangkau.

banner 325x300
Penulis: Redaksi BeluposEditor: Agustinus Bobe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *