TAMBOLAKA |BELUPOS.Com) – Tangis seorang ibu pecah di hadapan Kepala Dinas Pertanian Sumba Barat Daya, Rabu (21/8/2025). Di ruang kerja yang kaku di Jalan Kadulla, air mata itu menjadi suara paling jujur mewakili keresahan para petani: dana tahap kedua yang dijanjikan belum juga cair.
“Saya mohon maaf, Pak Kadis… masyarakat sangat membutuhkan dana itu. Tolonglah, cepat dicairkan,” ucap sang ketua kelompok dengan suara bergetar, sebelum akhirnya tak kuasa menahan tangis.
Air mata perempuan itu seakan mengguncang ruang rapat yang ditempati tiga pejabat penting: Kadis Pertanian, Kabid PSP, dan Kabid PPK. Bukan sekadar tangis pribadi, melainkan jeritan kolektif petani kecil yang sudah lama menanti kejelasan.
Hal senada disampaikan Yocub Yani, Ketua Kelompok Tani asal Kodi Utara. Ia mengaku tertekan karena dituduh menahan uang kelompok, padahal dana tahap kedua memang belum turun.
“Petugas penyedia alat sudah berkali-kali datang menagih. Kami malu, Pak Kadis. Saya bawa persoalan ini langsung ke hadapan Bapak, supaya jelas dan didengar semua,” ungkapnya lirih.
Kepala Dinas Pertanian yang ditemui wartawan hanya bisa menyampaikan permintaan maaf. Ia menjelaskan bahwa segala keputusan pencairan harus melewati mekanisme satu pintu, yakni Bupati.
“Masalah ini memang tidak bisa langsung di tangan dinas. Harus melalui Ibu Bupati,” katanya singkat.
Di antara tumpukan berkas dan meja birokrasi, air mata seorang ibu hari itu telah menjadi catatan penting: bahwa bagi petani, janji dana bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan napas hidup yang ditunggu setiap musim.















