banner 728x250

Abrasi dan Banjir Ancam Warga Fatubenao, Sawah Hilang, Rumah Terancam

ATAMBUA,|BELUPOS.Com] – Di bantaran Kali Talau yang bertemu dengan Kali Motabuik, kelurahan Fatubenao, setiap tahun air membawa kisah duka. Tanah longsor perlahan menggerus lahan pertanian, dan banjir yang datang dari Desember hingga April selalu menyisakan rasa waswas bagi warga di RT 14, 15, 26, dan 27.

Sawah kami sudah tak bisa lagi diolah. Sekitar dua hektar hilang digerus air, sementara rumah-rumah di RT 14 terancam hanyut bila banjir besar datang,” tutur Anis Koson, warga Uma Kulit, Kelurahan Fatubenao, dengan suara terbata-bata, Selasa (26/8/2025).

Sejak tahun 2020, warga telah mengajukan proposal aspirasi ke Balai Wilayah Sungai (BWS) Nusa Tenggara II Kupang. Namun, hingga kini tak ada jawaban. Yang tersisa hanyalah inisiatif darurat: normalisasi alur sungai dengan bantuan alat berat dari PUPR Belu, serta tanggul sementara hasil gotong royong warga dan pengusaha pengambil material pasir.

Pemerintah daerah pun pernah berupaya menanam bambu dan pohon johar di bantaran sungai—melibatkan ASN, pramuka, lurah, camat, dan masyarakat sejak 2023 hingga awal 2025.

Meski begitu, hujan deras tetap datang, banjir tetap mengancam, dan abrasi terus merayap mendekati rumah-rumah.

Kami hanya ingin bisa bekerja di sawah dengan tenang, bisa membesarkan anak-anak tanpa rasa takut rumah kami disapu air. Tolonglah, pemerintah kabupaten Belu dan provinsi NTT, lihatlah nasib kami,” pinta Anis dengan mata berkaca-kaca.

Di Fatubenao, banjir bukan sekadar air bah. Ia adalah wajah ketidakpastian yang setiap tahun mengetuk pintu warga, membawa pertanyaan yang sama: sampai kapan mereka harus bertahan?

 

banner 325x300
Penulis: L-24Editor: Agustinus Bobe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *