banner 728x250

Langkah Disiplin di Perbatasan: Satgas Pamtas Ajarkan PBB di SMA Amfoang

 

KUPANG|BELUPOS.Com) –
Mentari pagi baru menembus kabut tipis di perbukitan Amfoang ketika derap langkah siswa-siswi SMA Negeri Amfoang mulai terdengar. Bukan sekadar langkah biasa, tapi irama disiplin yang dipandu tiga prajurit Satgas Pamtas RI-RDTL Sektor Barat Yonarhanud 15/DBY dari Pos Oepoli Tengah.

Dipimpin oleh Pratu Irfandho, pelajaran Peraturan Baris Berbaris (PBB) itu menjadi lebih dari sekadar latihan baris-berbaris. Ia menjelma ruang belajar tentang cinta tanah air, kebersamaan, dan karakter.

Kami sangat menghargai kehadiran Satgas Pamtas yang telah membantu kami dalam memberikan pelajaran PBB. Ini kesempatan bagi siswa untuk belajar tentang kedisiplinan dan mencintai tanah air,” ungkap Kepala Sekolah Paulus Bundur, S.Ip, penuh rasa syukur.

Anak-anak tampak antusias. Ada yang tersenyum malu ketika salah melangkah, ada pula yang penuh percaya diri mengikuti aba-aba. Suara tawa sesekali pecah, berpadu dengan hentakan kaki di halaman sekolah.

Kegiatan ini sangat menyenangkan dan memberikan kami banyak pelajaran berharga tentang disiplin,” tutur seorang siswa, matanya berbinar di balik keringat yang mengalir.

Di ujung perbatasan ini, baris-berbaris bukan hanya keterampilan, melainkan jembatan hati antara prajurit dan rakyat. Satgas Pamtas tidak sekadar menjaga tapal batas, tetapi juga menanamkan nilai kebangsaan di dada generasi muda Amfoang.

Karena di Amfoang, bahkan langkah kaki bisa berubah menjadi puisi tentang cinta negeri.


Versi Gabungan (Indonesia – Inggris – Tetum – Amfoang Dawan)

Discipline at the Border: Soldiers Teach PBB with Heart in Amfoang

Napunef, Amfoang Timur | Belu Pos
The sun rose gently over the hills of Amfoang when the marching steps of young students filled the schoolyard. Three soldiers of Satgas Pamtas RI-RDTL Sektor Barat Yonarhanud 15/DBY, led by Pratu Irfandho from Pos Oepoli Tengah, came not only to teach Peraturan Baris Berbaris (PBB). They came to sow discipline, unity, and love for the homeland.

Kami sangat menghargai kehadiran Satgas Pamtas yang telah membantu kami dalam memberikan pelajaran PBB. Ini kesempatan bagi siswa untuk belajar tentang kedisiplinan dan mencintai tanah air,” said Headmaster Paulus Bundur, S.Ip, his tone blending gratitude and pride.

The students’ faces lit up—some shy, some bold. Their laughter echoed between commands: left, right, forward march.
A young boy whispered to his friend: “This is more than marching, this is about us, about our future.”

One student, catching his breath, smiled and said:
Kegiatan ini sangat menyenangkan dan memberikan kami banyak pelajaran berharga tentang disiplin.
Or in his own attempt at English: “We learn discipline, and we learn togetherness. We are proud.”

From the edge of the frontier, a teacher softly spoke in Amfoang Dawan:
Tasi tasi boes, tasi tasi neon. Na’i tauni hena monef, TNI feto-mone feto na’u.
(Langkah demi langkah, terang demi terang. Hari ini anak-anak kami belajar, bersama TNI sebagai saudara.)

And in Tetum, another villager added:
Iha fronteira ida ne’e, disciplina laos deit regra, maibé ligasaun entre povu no soldadu.
(Di perbatasan ini, disiplin bukan sekadar aturan, tapi ikatan antara rakyat dan tentara.)

At Napunef, the border became classroom, the drill became poetry, and every step echoed the promise of a stronger generation.


📰 BeluPos.com – Menyuarakan Suara Rakyat dari Perbatasan untuk Dunia


 

banner 325x300
Penulis: Redaksi BeluposEditor: Agustinus Bobe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *