Oleh: Raimundus Piter Ramo Luan, S.E – Pengamat Politik dan Kebijakan Publik
KUPANG | BELUPOS.Com –
Ada luka yang tak terucap, ketika keadilan hukum berselisih dengan nurani rakyat. Tunjangan DPRD NTT senilai Rp41,4 miliar mungkin sah secara regulasi—tertulis rapi dalam Pergub NTT Nomor 22 Tahun 2025. Namun, di balik legalitas itu, ada ironi yang mencabik hati rakyat yang masih berjuang dengan kemiskinan.
“Legalitas tidak selalu identik dengan kepatutan. Ada jurang nurani yang semakin melebar ketika kenyamanan elite dibangun di atas penderitaan rakyat,” ungkap Raimundus Piter Ramo Luan, pengamat politik dan kebijakan publik.
Data berbicara: kemiskinan NTT masih 18,6 persen. Banyak keluarga kesulitan memenuhi kebutuhan dasar. Di tengah derita itu, DPRD justru menerima tunjangan perumahan Rp23,6 juta per bulan dan transportasi hingga Rp31,8 juta untuk pimpinan—angka yang kontras dengan realitas biaya hidup masyarakat Kupang.
Sebagai mantan ketua partai buruh di NTT dan sarjana ekonomi, saya melihat ada tiga langkah moral yang perlu ditempuh:
- Transparansi penuh – rakyat berhak tahu detail pemanfaatan tunjangan.
- Audit kewajaran – melibatkan Ombudsman, BPK, dan elemen sipil untuk menilai kesesuaian dengan kondisi daerah.
- Etika politik – DPRD dapat menunjukkan solidaritas dengan mengembalikan sebagian tunjangan untuk program sosial.
DPRD bukan sekadar penerima manfaat regulasi, melainkan pelayan rakyat. Legalitas mungkin sah, tetapi keadilan sosial adalah panggilan yang lebih mendesak. Saatnya wakil rakyat membuktikan: mereka benar-benar ada untuk rakyat, bukan sekadar untuk dirinya sendiri.
🌍 English Version
NTT Parliament Allowances: Legal in Regulation, Wounded in Conscience
By: Raimundus Piter Ramo Luan, S.E – Political and Public Policy Analyst
KUPANG | BELUPOS.Com –
There is a wound that words can barely heal, when legality stands apart from morality. The IDR 41.4 billion allowance for NTT Parliament members may be legitimate on paper—anchored in Governor Regulation No. 22/2025. Yet behind its legality lies an irony that pierces the hearts of the poor.
“Legality does not always mean propriety. There is a moral chasm widening, when the comfort of the elite is built upon the suffering of the people,” said Raimundus Piter Ramo Luan.
Poverty in NTT still stands at 18.6 percent. Many families struggle to meet basic needs. Amid this struggle, parliament members receive housing allowances of IDR 23.6 million monthly and transportation benefits up to IDR 31.8 million for leaders—numbers starkly disconnected from Kupang’s cost of living.
As a former labor party leader in NTT and an economist, I propose three urgent steps:
- Full transparency – citizens deserve to know how allowances are spent.
- Fairness audit – involving Ombudsman, Audit Board, and civil society to assess appropriateness.
- Political ethics – parliament could return part of the funds to social programs.
Parliament is not merely a beneficiary of regulation but a servant of the people. Legality may stand, but social justice must rise above it. Now is the moment for representatives to prove: they exist for the people, not just for themselves.
🇹🇱 Tetun Version
Subsídios ba DPR NTT: Lei Justu, Maibé Konsiénsia Makar
Husi: Raimundus Piter Ramo Luan, S.E – Analista Politika no Polítika Publiku
KUPANG | BELUPOS.Com –
Iha liafuan lei, subsídios ba membrus DPR NTT nian (Rp 41,4 biliar) hanesan legitimu. Maibé iha rai realidade, ita haree ferida ida mak lulik. Lei fo direitu, maibé povu hela hanoin ne’ebé moras tanba pobreza seidauk la’o, 18,6%.
“Lei la’o buat ida, maibé konsiénsia no justisa sosial mak buat seluk. Karik elite simu komfortu husi sofrimento povu, entaun ita iha jurang ida boot,” hateten Raimundus Piter Ramo Luan.
Iha tempu ne’e, membrus DPR simu subsídios uma hela Rp 23,6 juta/fulan no transportasaun to’o Rp 31,8 juta—numerus ne’ebé la hanesan ho realidade moris ema Kupang.
Hanesan ex-líder partidu funsionáriu no ekonomista, hau hatene katak:
- Transparénsia – povu iha direitu atu hatene detalhu uzu subsídios.
- Auditoria justisa – involve Ombudsman, BPK, no sosiedade sivíl.
- Ética polítika – DPR bele fo fila parte subsídios ba programa sosial.
DPR la’o la’ós de’it simu regulasaun, maibé servisu povu. Lei importante, maibé justisa sosial mak prioridadi. Iha tempu ida nee, representante tenke prova katak sira verdadeiramente iha ba povu.
🇲🇾 Bahasa Melayu Malaysia Version
Elaun Ahli Dewan NTT: Sah di Atas Kertas, Luka di Hati Rakyat
Oleh: Raimundus Piter Ramo Luan, S.E – Penganalisis Politik dan Dasar Awam
KUPANG | BELUPOS.Com –
Ada luka yang sukar diubati bila undang-undang berjalan tanpa mempertimbangkan rasa hati rakyat. Elaun Ahli Dewan NTT berjumlah Rp41.4 bilion memang sah menurut Peraturan Gabenor No. 22/2025. Namun di sebalik kesahan itu, tersimpan ironi yang merobek nurani rakyat yang masih berjuang dalam kemiskinan.
“Undang-undang tidak semestinya bermakna kepatutan. Ada jurang nurani yang semakin melebar bila keselesaan elit dibina atas penderitaan rakyat,” kata Raimundus Piter Ramo Luan.
Kadar kemiskinan di NTT masih 18.6 peratus. Ramai keluarga berdepan kesukaran memenuhi keperluan asas. Dalam keadaan sebegini, ahli dewan menerima elaun rumah Rp23.6 juta sebulan dan pengangkutan hingga Rp31.8 juta untuk pimpinan—angka yang jauh dari realiti kos sara hidup di Kupang.
Sebagai bekas ketua parti buruh di NTT dan sarjana ekonomi, saya cadangkan tiga langkah utama:
- Ketelusan penuh – rakyat berhak tahu butiran penggunaan elaun.
- Audit kewajaran – melibatkan Ombudsman, BPK dan masyarakat sivil.
- Etika politik – dewan boleh tunjuk solidariti dengan menyalurkan sebahagian elaun ke program sosial.
Dewan bukan hanya penerima manfaat undang-undang, tetapi pelayan rakyat. Kesahan undang-undang mungkin ada, tetapi keadilan sosial lebih mendesak. Inilah masa untuk wakil rakyat membuktikan: mereka ada demi rakyat, bukan demi diri sendiri.















