ATAMBUA | BELUPOS.COM – Di balik deru mesin bus antarkota, deretan kursi penumpang, dan perjalanan panjang yang menghubungkan satu wilayah dengan wilayah lainnya, ada satu hal yang tidak boleh dikorbankan: keselamatan manusia.
Menjelang perayaan Natal 2026 dan Tahun Baru 2027, ketika mobilitas masyarakat diperkirakan meningkat, kesiapan armada angkutan umum kembali menjadi perhatian. Bus-bus yang akan mengangkut masyarakat menuju kampung halaman, tempat keluarga, maupun berbagai tujuan perjalanan lainnya dituntut tidak hanya siap berangkat, tetapi juga benar-benar laik jalan.
Bagi masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT), perjalanan darat bukan perkara sederhana. Bentang jalan yang panjang, tikungan tajam, tanjakan, turunan, serta perubahan kondisi cuaca menghadirkan tantangan tersendiri bagi pengemudi dan perusahaan angkutan umum.
Apalagi, NTT mulai memasuki musim hujan. Jalan yang sebelumnya dapat dilalui dengan relatif aman bisa berubah menjadi licin, jarak pandang berkurang, dan risiko kecelakaan meningkat apabila kendaraan maupun awak angkutan tidak dipersiapkan secara optimal.
Kondisi inilah yang menjadi perhatian Ketua Organisasi Angkutan Darat (Organda) Kabupaten Belu, Drs. Edmundus Sillan.
Berbicara kepada media ini, Selasa (3/11/2026), Edmundus mengingatkan seluruh pengusaha angkutan umum atau Perusahaan Otobus (PO) agar mempersiapkan kendaraan secara serius, mematuhi ketentuan regulasi, serta menempatkan keselamatan penumpang sebagai prioritas utama menjelang masa angkutan Natal dan Tahun Baru.
Menurutnya, bus yang diberangkatkan bukan sekadar kendaraan yang harus mengejar jadwal perjalanan. Di dalamnya terdapat manusia dengan keluarga yang menanti kepulangan mereka.
“Pengusaha angkutan harus terus mempersiapkan bus secara baik dan taat pada regulasi. Keselamatan penumpang harus dijaga agar mereka dapat tiba di tempat tujuan dengan selamat. Jangan sampai perjalanan yang seharusnya membawa kebahagiaan justru berakhir dengan peristiwa yang tidak kita inginkan,” tegas Edmundus.
Musim hujan, kesiapan awak dan armada diuji
Edmundus menilai, memasuki musim penghujan, perhatian terhadap kelayakan kendaraan tidak boleh berhenti pada pemeriksaan administratif. Kondisi teknis bus harus diperiksa secara menyeluruh sebelum diberangkatkan.
Sistem pengereman, kondisi ban, lampu kendaraan, kemudi, wiper, hingga komponen penting lainnya perlu dipastikan berfungsi dengan baik. Sebab, perjalanan di tengah hujan membutuhkan kendaraan yang benar-benar berada dalam kondisi prima.
Namun, keselamatan transportasi tidak hanya ditentukan oleh kondisi mesin dan kelengkapan kendaraan. Faktor manusia juga memiliki peran yang sangat besar.
Karena itu, ia meminta perusahaan angkutan memperhatikan kesehatan para pengemudi dan awak bus. Pemeriksaan kesehatan secara rutin, pemenuhan hak kesejahteraan, serta pengaturan waktu kerja dan istirahat harus menjadi bagian dari tanggung jawab perusahaan.
Pengemudi yang kelelahan, dipaksa bekerja melampaui batas kemampuan fisiknya, atau tidak memperoleh waktu istirahat yang cukup dapat menghadirkan risiko serius bagi keselamatan perjalanan.
“Para awak angkutan juga harus mendapatkan perhatian. Kesehatan dan kesejahteraan mereka perlu dijaga. Jangan memforsir pengemudi untuk terus-menerus menyetir tanpa diberikan waktu beristirahat atau cuti. Pengemudi juga manusia yang memiliki batas kemampuan fisik,” ujarnya.
Pernyataan tersebut mengingatkan bahwa keselamatan penumpang sesungguhnya dimulai jauh sebelum bus meninggalkan terminal. Ia bermula dari keputusan perusahaan dalam merawat kendaraan, memperlakukan pekerja, dan memastikan setiap pengemudi berada dalam kondisi layak untuk menjalankan tugasnya.
Organda dorong pemeriksaan bersama Dishub
Sebagai organisasi profesi di bidang angkutan darat, Organda Belu juga berharap terbangun kemitraan yang semakin kuat dengan Dinas Perhubungan.
Edmundus menilai, pengawasan dan pemeriksaan kendaraan sebelum keberangkatan harus dilakukan secara serius. Pemeriksaan teknis kendaraan serta pengujian kelayakan perlu melibatkan instansi berwenang sesuai tugas dan kewenangannya.
Dinas Perhubungan memiliki peran penting dalam memastikan kendaraan angkutan umum memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
Dengan demikian, kendaraan yang beroperasi tidak hanya mengejar target perjalanan, tetapi juga memenuhi standar keselamatan transportasi.
“Sebagai organisasi profesi, tentunya kami berharap kemitraan dengan Dinas Perhubungan terus diperkuat. Pemeriksaan kelayakan angkutan sebelum diberangkatkan sangat penting karena instansi yang memiliki kewenangan harus memastikan kendaraan tersebut memenuhi persyaratan dan siap beroperasi,” katanya.
Menurutnya, sinergi antara pemerintah, Organda, dan perusahaan angkutan menjadi salah satu fondasi penting untuk membangun sistem transportasi darat yang aman dan bertanggung jawab.
Jalan NTT bukan lintasan yang boleh diremehkan
Perhatian Edmundus juga tertuju pada karakteristik geografis jalan di NTT.
Jalur transportasi di wilayah ini memiliki tantangan tersendiri. Pengemudi harus menghadapi jalan berkelok-kelok, tanjakan panjang, turunan tajam, serta lintasan antarkabupaten yang membutuhkan konsentrasi tinggi.
Dalam kondisi seperti itu, pengendalian kecepatan menjadi faktor penting. Pengemudi diminta tidak memaksakan kendaraan melaju cepat hanya demi mengejar waktu tempuh atau jadwal kedatangan.
Kecepatan harus disesuaikan dengan kondisi jalan, cuaca, muatan kendaraan, serta kemampuan pengemudi dalam mengendalikan armada.
“Saya mengimbau para pengemudi agar selalu berhati-hati. Kondisi jalan di NTT memiliki banyak tikungan, tanjakan, dan turunan. Karena itu, pengemudi harus memperhatikan batas kecepatan, mengatur laju kendaraan secara terukur, serta tidak memaksakan diri ketika kondisi jalan maupun cuaca tidak memungkinkan,” imbaunya.
Ia juga mengingatkan agar seluruh awak angkutan menjauhi konsumsi minuman beralkohol maupun penggunaan obat-obatan terlarang yang dapat mengganggu konsentrasi dan kemampuan mengemudi.
Sebab, satu keputusan keliru di balik kemudi dapat membawa konsekuensi yang sangat besar. Bukan hanya membahayakan pengemudi, melainkan juga seluruh penumpang dan pengguna jalan lainnya.
Natal harus menjadi perjalanan pulang yang selamat
Menjelang Natal dan Tahun Baru, masyarakat tentu berharap dapat melakukan perjalanan dengan aman, nyaman, dan tanpa hambatan berarti.
Di tengah meningkatnya mobilitas masyarakat, tanggung jawab menjaga keselamatan tidak dapat dibebankan hanya kepada pengemudi. Pengusaha PO, awak kendaraan, pemerintah, petugas terminal, serta seluruh pemangku kepentingan transportasi memiliki tanggung jawab masing-masing.
Pemeriksaan kendaraan, pengawasan keberangkatan, kesehatan pengemudi, kepatuhan terhadap regulasi, dan disiplin berlalu lintas harus berjalan sebagai satu kesatuan.
Pada akhirnya, keberhasilan angkutan Natal dan Tahun Baru tidak semata-mata diukur dari banyaknya bus yang diberangkatkan atau jumlah penumpang yang diangkut.
Ukuran terpentingnya adalah berapa banyak orang yang dapat tiba di tempat tujuan dengan selamat.
Sebab, di setiap perjalanan ada keluarga yang menunggu, ada anak-anak yang merindukan orang tuanya, dan ada harapan sederhana untuk kembali berkumpul di meja Natal.
Bus boleh mengejar waktu, tetapi keselamatan manusia tidak boleh dikalahkan oleh kecepatan.
Natal adalah momentum pulang dan berkumpul bersama keluarga. Jangan biarkan perjalanan menuju kebahagiaan berubah menjadi duka akibat kelalaian yang sebenarnya dapat dicegah.













