KUPANG | BELUPOS.Com – Di tengah jejak gempa yang meninggalkan luka pada rumah-rumah, fasilitas umum, dan kehidupan masyarakat di Pulau Flores, solidaritas kemanusiaan hadir melampaui batas organisasi, agama, dan wilayah. Ketika warga masih berjuang menata kembali kehidupan, puluhan lembaga zakat dan ratusan relawan memilih untuk tidak membiarkan masyarakat terdampak menghadapi bencana seorang diri.
Di balik angka-angka bantuan, ada kerja kemanusiaan yang bergerak dari satu titik ke titik lainnya. Ada relawan yang menembus wilayah terdampak, dapur umum yang terus mengepulkan asap, layanan kesehatan yang menjangkau warga, hingga penyediaan air bersih bagi mereka yang kehilangan akses terhadap kebutuhan dasar.
Gerakan solidaritas itu menjadi salah satu pokok pembahasan ketika Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Emanuel Melkiades Laka Lena, menerima audiensi jajaran Inisiatif Zakat Indonesia (IZI) di Rumah Jabatan Gubernur NTT, Sabtu (31/10/2026).
Pertemuan tersebut bukan semata-mata agenda penyampaian laporan kelembagaan. Lebih dari itu, menjadi ruang untuk memperlihatkan bagaimana kekuatan jejaring kemanusiaan bekerja bersama dalam merespons bencana gempa bumi yang melanda Pulau Flores.
Hadir dalam audiensi tersebut Direktur Utama IZI, Wildhan Dewayaha, General Manager Pendistribusian IZI, Arman, serta tim IZI di NTT, yakni Muh Guhur, Syamsul Ali, dan sejumlah anggota tim lainnya.
Dalam kesempatan itu, Wildhan memaparkan keterlibatan IZI bersama jejaring lembaga kemanusiaan dalam penanganan bencana. Respons tersebut melibatkan sekitar 80 lembaga zakat yang bergerak melalui 58 titik pos respons bencana dengan dukungan 581 relawan.
Di lapangan, operasi kemanusiaan itu ditopang 71 unit sepeda motor, 87 unit mobil, serta 14 unit ambulans. Armada tersebut menjadi bagian penting dalam menunjang mobilitas relawan, distribusi bantuan, dan pelayanan bagi masyarakat di wilayah terdampak.
Angka-angka itu menggambarkan luasnya kerja kolektif yang dibangun. Namun, ukuran keberhasilan sebuah gerakan kemanusiaan tidak berhenti pada jumlah personel, kendaraan, ataupun paket bantuan yang disalurkan. Ukuran sesungguhnya terletak pada sejauh mana kehadiran tersebut mampu menjangkau mereka yang membutuhkan.
Lima klaster, satu tujuan kemanusiaan
Dalam pemaparannya, Wildhan menjelaskan bahwa dukungan kemanusiaan tersebut mencakup lima klaster utama, yakni kesehatan, logistik, pendidikan, pencarian dan pertolongan, serta pengungsian dan perlindungan.
Pada klaster kesehatan, bantuan diarahkan untuk menjaga kebutuhan dasar sekaligus mengurangi risiko gangguan kesehatan masyarakat pascabencana.
Tercatat sebanyak 906 paket perlengkapan bayi, 8.350 paket hygiene kit, 2.818 paket layanan kesehatan, 7.277 buah obat-obatan, serta 180 unit layanan pemeriksaan kesehatan atau medical check-up (MCU) darurat telah disalurkan.
Di tengah situasi darurat, perlengkapan bayi dan kebutuhan kebersihan bukanlah perkara kecil. Bagi keluarga yang kehilangan kenyamanan tempat tinggal, bantuan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan dan martabat manusia.
Sementara itu, pada klaster logistik, IZI bersama jejaring kemanusiaan menghadirkan 42 titik pos hangat dan 58 titik dapur umum.
Sebanyak 21.825 paket sembako, 19.670 porsi makanan siap saji, 5.726 buah selimut, serta 1.529 paket perlengkapan lansia turut disalurkan kepada masyarakat terdampak.
Di balik setiap porsi makanan yang dibagikan, terdapat kebutuhan mendasar yang harus dipenuhi agar keluarga terdampak tetap mampu bertahan. Begitu pula selimut dan perlengkapan lansia yang menjadi perhatian bagi kelompok masyarakat yang membutuhkan perlindungan lebih.
Perhatian terhadap masa depan generasi muda juga menjadi bagian dari respons tersebut.
Melalui klaster pendidikan, disediakan 13 unit sekolah darurat dan 1.083 paket bantuan sekolah. Langkah ini menunjukkan bahwa situasi bencana tidak boleh memutus hak anak-anak untuk memperoleh pendidikan.
Sebab, ketika bangunan sekolah mengalami kerusakan dan aktivitas belajar terganggu, anak-anak tetap membutuhkan ruang untuk belajar, berinteraksi, dan menjaga harapan terhadap masa depan mereka.
Pada klaster pencarian dan pertolongan, kegiatan difokuskan pada pembersihan puing di 772 titik. Upaya ini menjadi bagian dari penanganan lingkungan terdampak sekaligus mendukung proses pemulihan kawasan.
Adapun pada klaster pengungsian dan perlindungan, bantuan yang diberikan mencakup 389 unit tenda pengungsi, 25 pos tempat ibadah darurat, 78.269 liter air bersih, 1.048 potong pakaian baru, serta 16 unit perangkat Starlink untuk mendukung konektivitas komunikasi di wilayah terdampak.
Ketersediaan air bersih menjadi kebutuhan mendesak bagi warga yang harus menjalani kehidupan dalam situasi pengungsian. Sementara dukungan perangkat komunikasi menjadi penting untuk membantu menjaga konektivitas, terutama ketika akses komunikasi di sejumlah wilayah mengalami kendala.
Dari pelayanan kesehatan hingga pendidikan, dari dapur umum hingga fasilitas pengungsian, seluruh dukungan tersebut memperlihatkan bahwa penanganan bencana membutuhkan pendekatan yang menyentuh berbagai sisi kehidupan manusia.
Melki: solidaritas harus berlanjut hingga pemulihan
Mendengarkan laporan tersebut, Gubernur Melki menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada IZI beserta seluruh jejaring relawan dan lembaga kemanusiaan yang telah mengambil bagian dalam membantu masyarakat terdampak gempa bumi di Pulau Flores.
Baginya, keterlibatan berbagai pihak merupakan wujud nyata solidaritas dan kepedulian kemanusiaan yang perlu terus dipelihara.
Pemerintah, menurutnya, tidak dapat berjalan sendiri dalam menghadapi dampak bencana. Kolaborasi dengan lembaga sosial, organisasi kemanusiaan, relawan, dan masyarakat menjadi bagian penting agar penanganan dapat berlangsung efektif serta menjangkau kelompok yang membutuhkan.
Dalam pertemuan itu, Melki juga menekankan bahwa perhatian terhadap masyarakat terdampak tidak boleh berhenti ketika fase tanggap darurat mulai berlalu.
“Kami tentu berharap sinergi dan kolaborasi ini dapat terus diperkuat, terutama saat ini ketika penanganan bencana mulai memasuki tahapan pemulihan. Perhatian tidak boleh berhenti pada penanganan tanggap darurat, tetapi juga harus dilanjutkan melalui upaya pemulihan kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat terdampak.”— Emanuel Melkiades Laka Lena, Gubernur NTT.
Pernyataan tersebut menempatkan pemulihan sebagai pekerjaan lanjutan yang tidak kalah penting dibandingkan respons darurat.
Sebab, setelah bantuan logistik diterima dan kebutuhan mendesak mulai terpenuhi, masyarakat masih harus menghadapi pekerjaan yang lebih panjang: memperbaiki tempat tinggal, memulihkan mata pencaharian, menghidupkan kembali aktivitas pendidikan, serta membangun rasa aman setelah bencana.
Di sinilah kolaborasi lintas lembaga dibutuhkan agar bantuan tidak berhenti sebagai respons sesaat, tetapi berkembang menjadi dukungan berkelanjutan bagi kehidupan masyarakat.
Dari bantuan menuju kebangkitan Flores
Pemerintah Provinsi NTT menyatakan terbuka terhadap berbagai bentuk kolaborasi dan dukungan dari seluruh pihak untuk mempercepat pemulihan wilayah terdampak.
Keterbukaan tersebut menjadi penting karena pemulihan pascabencana bukan pekerjaan satu institusi. Dibutuhkan kesinambungan koordinasi, ketepatan distribusi bantuan, serta keterlibatan berbagai unsur agar masyarakat dapat kembali menjalani kehidupan secara normal.
Laporan IZI dalam audiensi tersebut sekaligus memperlihatkan besarnya sumber daya kemanusiaan yang telah digerakkan melalui jejaring lembaga zakat dan relawan.
Namun, di balik seluruh angka yang dipaparkan, terdapat satu pesan yang jauh lebih penting: bencana mungkin merusak bangunan dan mengubah kehidupan masyarakat dalam sekejap, tetapi solidaritas memberi kekuatan untuk memulai kembali.
Bagi masyarakat Flores, perjalanan menuju pemulihan masih membutuhkan waktu, perhatian, dan kerja bersama. Kehadiran lembaga kemanusiaan, pemerintah, serta para relawan menjadi bagian dari ikhtiar panjang untuk memastikan bahwa tidak ada warga yang tertinggal dalam proses kebangkitan tersebut.
Sebab, pada akhirnya, kemanusiaan tidak diukur dari seberapa besar nama sebuah lembaga dikenal, melainkan dari seberapa jauh tangan-tangan kepedulian mampu menjangkau mereka yang sedang membutuhkan pertolongan.
Flores tidak boleh berjalan sendiri. Di tengah luka bencana, solidaritas adalah jembatan menuju harapan.













