Berita UtamaKesehatanPariwisataPendidikanPolitikPolkamwarta Kota

Dari Kefamenanu ke Barcelona, Vincenzo Singers Taklukkan Panggung Dunia

1
×

Dari Kefamenanu ke Barcelona, Vincenzo Singers Taklukkan Panggung Dunia

Sebarkan artikel ini

KEFAMENANU | BELU POS – Ada suara yang lahir dari tanah perbatasan, tumbuh dalam kesederhanaan, lalu menjelma menjadi kebanggaan di panggung dunia. Dari Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), 27 anak muda Nusa Tenggara Timur membawa harmoni musik tradisional ke Barcelona, Spanyol. Mereka pulang bukan dengan tangan kosong, melainkan membawa medali emas yang mengharumkan nama daerah dan Indonesia.

Paduan suara Vincenzo Singers berhasil meraih medali emas kategori Folklore dalam kompetisi internasional Sing for Gold 2026: The World Choral Cup yang berlangsung di Barcelona pada 22–26 Oktober 2026.

Prestasi tersebut menjadi catatan membanggakan bagi perjalanan seni dan kebudayaan NTT. Di tengah persaingan kelompok paduan suara dari berbagai belahan dunia, anak-anak muda dari wilayah perbatasan Indonesia itu membuktikan bahwa kekayaan budaya lokal memiliki tempat terhormat di panggung internasional.

Kabar menggembirakan tersebut mendapat apresiasi langsung dari Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, ketika menerima kunjungan Vincenzo Singers di Rumah Jabatan Gubernur NTT, Sabtu (31/10/2026) siang.

Pertemuan itu bukan sekadar seremoni penyambutan. Di balik medali emas yang dibawa pulang, tersimpan perjalanan panjang tentang latihan, disiplin, pengorbanan, dukungan banyak pihak, dan keyakinan bahwa talenta anak-anak daerah mampu melampaui batas geografis.

Dua Lagu Daerah, Satu Kebanggaan Indonesia

Vincenzo Singers beranggotakan 27 orang muda dari berbagai kalangan. Komposisinya terdiri atas 25 penyanyi, seorang dirigen, dan seorang pemusik.

Di Barcelona, mereka berhadapan dengan 33 kelompok paduan suara lainnya dari 24 negara. Vincenzo Singers memilih kategori Folklore, sebuah panggung yang memberi ruang bagi kekayaan tradisi dan identitas budaya masing-masing peserta.

Mereka tidak datang dengan meninggalkan akar budaya sendiri. Sebaliknya, dua lagu daerah NTT menjadi senjata artistik untuk memperkenalkan kekayaan musik Nusantara kepada dunia.

Lagu pertama adalah Mana Lolo Banda, lagu daerah Rote yang diaransemen Arga Rakasiwi. Lagu kedua, Oel Ana, merupakan lagu daerah TTU ciptaan Egi Anapah yang diaransemen Robert R. G. Toemeluk.

Dua karya dari tanah NTT tersebut dibawakan dalam harmoni paduan suara yang mempertemukan identitas lokal dengan bahasa musikal universal.

Hasilnya, Vincenzo Singers memperoleh nilai total 23,25 dan dianugerahi medali emas dengan Diploma III.

Keikutsertaan mereka dalam kompetisi tersebut merupakan undangan dari INTERKULTUR Foundation, lembaga nirlaba asal Jerman yang menyelenggarakan berbagai kompetisi paduan suara internasional.

Undangan itu menjadi bentuk apresiasi terhadap konsistensi Vincenzo Singers dalam mengembangkan seni paduan suara sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya NTT kepada masyarakat internasional.

Sebelum bertolak ke Barcelona, kelompok yang dipimpin Yuventius Boikletes sebagai dirigen tersebut dilepas langsung oleh Bupati TTU, Yosep Falentinus Kebo, di Kantor Bupati TTU, Rabu (14/10/2026).

Dari pelepasan di Kefamenanu hingga penampilan di Barcelona, perjalanan mereka menjadi bukti bahwa mimpi besar tidak selalu harus dimulai dari kota-kota besar.

Gubernur: Talenta Anak NTT Harus Menembus Dunia

Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena menyampaikan ucapan selamat dan apresiasi kepada seluruh anggota Vincenzo Singers.

Menurutnya, keberhasilan tersebut membuktikan bahwa anak-anak muda NTT memiliki talenta, kemampuan, dan daya saing untuk tampil serta berprestasi di tingkat dunia.

Capaian itu juga memperlihatkan bahwa seni dan budaya daerah bukan hanya warisan yang perlu dijaga, melainkan kekuatan yang dapat memperkenalkan identitas NTT dan Indonesia kepada masyarakat internasional.

Namun, bagi Gubernur, perjalanan Vincenzo Singers memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar kompetisi dan perolehan medali.

Ia melihat talenta bernyanyi sebagai anugerah Tuhan yang dapat dipersembahkan untuk memperkuat iman dan menghadirkan kebaikan bagi sesama.

“Apa yang dilakukan oleh Vincenzo Singers ini bukan sekadar urusan dunia atau hanya mengikuti lomba paduan suara. Ini juga merupakan karya kita kepada Tuhan, bernyanyi untuk Tuhan, bahkan sampai ke Fatima. Karya seperti ini membantu menguatkan iman manusia agar mampu menghadapi berbagai tantangan kehidupan,” ungkap Gubernur.

Pesan tersebut sekaligus menjadi dorongan agar generasi muda NTT tidak membatasi impian mereka oleh keadaan geografis maupun keterbatasan kesempatan.

Gubernur berharap keberhasilan Vincenzo Singers dapat menginspirasi anak-anak muda lainnya untuk mengembangkan potensi masing-masing, baik dalam bidang seni, budaya, olahraga, pendidikan, maupun bidang kehidupan lainnya.

Ia juga mengingatkan agar para anggota tidak cepat berpuas diri. Latihan, disiplin, kekompakan, peningkatan kualitas, dan doa harus tetap menjadi bagian dari perjalanan mereka ke depan.

Sebab, medali emas bukanlah garis akhir. Ia adalah penanda bahwa kerja keras dapat membuka pintu menuju kesempatan yang lebih luas.

Dari Barcelona Menuju Fatima, Seni Menjadi Perjalanan Iman

Di balik keberhasilan tersebut, terdapat kisah perjalanan spiritual yang turut mewarnai langkah Vincenzo Singers.

Pembina Paduan Suara Vincenzo Singers, Adrianus Markus Pontus, mengungkapkan bahwa perjalanan menuju kompetisi internasional itu bukan semata-mata tentang mengejar kemenangan.

Bagi seluruh anggota, perjalanan tersebut menjadi pengalaman iman yang mendalam. Berbagai tantangan harus mereka hadapi sejak masa persiapan, keberangkatan, pelaksanaan kompetisi, hingga perjalanan kembali ke tanah air.

Namun, kesulitan itu justru memperkuat rasa syukur dan keyakinan mereka terhadap pertolongan Tuhan.

“Apa yang kami jalani ini bukan soal perlombaan saja, tetapi merupakan perjalanan iman yang luar biasa. Banyak tantangan yang kami hadapi sampai kami kembali. Dengan hasil yang kami raih ini, puji Tuhan, banyak hal yang membuat kami terus bersyukur dan berharap pada pertolongan Tuhan,” ujar Adrianus.

Perjalanan mereka bahkan tidak berhenti di Barcelona.

Vincenzo Singers menyempatkan diri mengunjungi Fatima, Portugal, untuk memproduksi sebuah album rohani sekaligus video klip lagu rohani tentang Bunda Maria.

Proses produksi tersebut juga menghadirkan tantangan tersendiri. Meski demikian, seluruh anggota tetap berkomitmen menyelesaikan karya tersebut dengan harapan dapat menjangkau lebih banyak orang, menginspirasi kehidupan iman, dan menyampaikan pesan kebaikan kepada masyarakat luas.

Bagi mereka, perjalanan seni dan perjalanan iman berjalan beriringan. Musik bukan hanya tentang suara yang berpadu menjadi harmoni, tetapi juga tentang pesan yang dapat menyentuh hati manusia.

Adrianus pun mengungkapkan rasa syukur karena seluruh anggota dapat menuntaskan rangkaian perjalanan internasional tersebut dan kembali ke Kupang dengan selamat.

Dukungan Banyak Pihak Mengantarkan Mimpi ke Barcelona

Prestasi internasional tidak lahir dalam ruang kosong. Di belakang 27 anggota Vincenzo Singers, terdapat dukungan pemerintah, para donatur, keluarga, masyarakat, dan berbagai pihak yang ikut membantu perjalanan mereka.

Adrianus Markus Pontus menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Provinsi NTT, Gubernur dan Wakil Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat, Kompas Gramedia, serta para donatur.

Dukungan juga datang melalui penggalangan dana dan usaha mandiri para anggota, termasuk penyelenggaraan konser langsung dan kegiatan live streaming.

Menurut Adrianus, kontribusi berbagai pihak tersebut menjadi bagian penting yang memungkinkan Vincenzo Singers memenuhi undangan kompetisi paduan suara tingkat dunia.

“Ini merupakan kesempatan yang luar biasa bagi kami karena untuk pertama kalinya kami diundang mengikuti kompetisi paduan suara tingkat dunia dan bisa memperoleh medali emas dalam kategori Folklore,” ungkap Adrianus.

Dalam kompetisi Sing for Gold 2026, terdapat tujuh kategori yang diperlombakan, yakni Children’s Choir, Youth Choirs, Chamber Choirs and Vocal Ensembles, Adult Choirs, Musica Sacra, Pop-Jazz-Gospel, serta Folklore.

Pilihan Vincenzo Singers pada kategori Folklore menjadi keputusan yang sarat makna. Mereka membawa lagu-lagu daerah sebagai identitas budaya yang diperkenalkan melalui pendekatan musikal paduan suara.

Di tengah keberagaman bangsa-bangsa peserta, musik tradisional NTT menemukan ruang untuk didengar dan diapresiasi.

Dari Tanah Perbatasan, Suara untuk Dunia

Kisah Vincenzo Singers menghadirkan pesan penting bagi masa depan generasi muda NTT. Bahwa keterbatasan geografis bukan alasan untuk berhenti bermimpi. Bahwa anak-anak dari daerah perbatasan pun memiliki kesempatan untuk berdiri sejajar dengan talenta dunia.

Dua lagu daerah yang mereka bawakan di Barcelona menjadi lebih dari sekadar materi perlombaan. Keduanya adalah representasi kekayaan budaya, identitas masyarakat, dan warisan seni yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Medali emas yang dibawa pulang bukan hanya milik 27 anggota Vincenzo Singers. Kebanggaan itu juga menjadi milik masyarakat TTU, seluruh warga NTT, dan Indonesia.

Pada pertemuan di Rumah Jabatan Gubernur NTT, turut hadir Pembina Paduan Suara Vincenzo Singers Adrianus Markus Pontus dan pastor pendamping RD. Kristoforus Bobo Oki. Gubernur NTT didampingi Kepala Biro Administrasi Pimpinan Setda Provinsi NTT, Yohanes Abrianto Kore.

Dari Kefamenanu, suara itu telah melintasi batas negara. Dan ketika harmoni musik tradisional NTT menggema di Barcelona, dunia mendengar satu pesan: tanah perbatasan juga mampu melahirkan prestasi yang mendunia.

BELU POS – Tapal Batas NKRI, Menyuarakan Suara Rakyat dari Perbatasan untuk Dunia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *