SURABAYA | BELUPOS.COM — Di tengah derasnya arus informasi yang bergerak tanpa batas, persatuan bangsa tidak hanya diuji oleh perbedaan pandangan, tetapi juga oleh cara masyarakat menerima, mengolah, dan menyebarkan berita. Di ruang digital yang kian riuh, semangat Sumpah Pemuda kembali mengingatkan bahwa Indonesia dibangun bukan untuk mempertajam perbedaan, melainkan untuk merawat kebersamaan.
Memperingati Hari Sumpah Pemuda, Rabu, 28 Oktober 2026, Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Jurnalis Independen Nusantara (DPP IJEN) menyampaikan ucapan selamat sekaligus seruan agar generasi muda, khususnya insan pers, terus menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.
Ketua Umum DPP IJEN, Ali Maskur, mengajak seluruh anggota organisasi untuk menjadikan peringatan bersejarah ini sebagai momentum memperkuat tanggung jawab jurnalistik. Baginya, semangat pemuda yang diwariskan para pendahulu bangsa perlu diterjemahkan ke dalam kerja nyata, termasuk melalui pemberitaan yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Semangat Sumpah Pemuda dapat menjadi inspirasi bagi kita semua, termasuk melalui peran jurnalis yang tergabung dalam IJEN yang terus memberikan pemberitaan yang berdampak positif bagi masyarakat.”
— Ali Maskur, Ketua Umum DPP IJEN
Pesan tersebut menempatkan jurnalis bukan hanya sebagai penyampai kabar, tetapi juga sebagai bagian dari kehidupan demokrasi yang memiliki tanggung jawab terhadap kepentingan publik. Di tengah masyarakat yang beragam, setiap informasi yang diterbitkan dapat membantu memperluas pemahaman, membangun kesadaran, atau sebaliknya, memantik perselisihan apabila disampaikan tanpa kehati-hatian.
Dari ikrar 1928 menuju tantangan zaman digital
Sumpah Pemuda yang lahir dari Kongres Pemuda II di Jakarta pada 28 Oktober 1928 merupakan salah satu tonggak penting perjalanan kebangsaan Indonesia. Kala itu, para pemuda dari beragam latar belakang menyatukan tekad melalui ikrar bertanah air satu, berbangsa satu, dan menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.
Ikrar itu lahir ketika perbedaan daerah, bahasa, dan identitas tidak menjadi alasan untuk berjalan sendiri-sendiri. Sebaliknya, keberagaman dirajut menjadi kekuatan untuk memperjuangkan cita-cita bersama.
Hampir satu abad kemudian, tantangan yang dihadapi generasi muda memang berbeda. Perjuangan tidak lagi berlangsung dalam suasana pergerakan menuju kemerdekaan, tetapi semangat persatuan tetap dibutuhkan untuk menghadapi polarisasi, provokasi, penyebaran kabar bohong, serta ujaran kebencian di ruang publik.
Ali Maskur mengingatkan bahwa peringatan Sumpah Pemuda seharusnya tidak berhenti pada seremoni tahunan. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya perlu hadir dalam perilaku sehari-hari, termasuk dalam cara masyarakat berkomunikasi dan menyikapi informasi.
“Sumpah Pemuda bukan sekadar peristiwa sejarah, tetapi juga pesan moral bagi generasi penerus untuk terus memperjuangkan persatuan dan kemajuan bangsa.”
— Ali Maskur, Ketua Umum DPP IJEN
Bagi insan pers, pesan itu mengandung tanggung jawab yang mendasar: menjaga agar informasi tetap berpijak pada fakta, menghormati kepentingan publik, serta tidak menjadikan perbedaan sebagai bahan untuk memperkeruh suasana.
Melawan hoaks, merawat kepercayaan publik
Di tengah kecepatan distribusi informasi melalui media sosial dan berbagai platform digital, sebuah kabar dapat menyebar luas sebelum kebenarannya sempat diperiksa. Informasi yang tidak terverifikasi berpotensi membentuk persepsi keliru, memicu prasangka, bahkan merusak hubungan antarkelompok masyarakat.
Karena itu, Ali Maskur menekankan pentingnya sikap bijaksana dalam menggunakan dan menyebarkan informasi. Ia mengingatkan anggota IJEN agar tidak memberi ruang bagi hoaks dan provokasi yang berpotensi mengganggu stabilitas sosial serta keharmonisan warga.
“Kita harus bijak dalam menggunakan informasi. Hoaks dan provokasi dapat mengganggu stabilitas sosial dan merusak keharmonisan antarwarga.”
— Ali Maskur, Ketua Umum DPP IJEN
Seruan tersebut menjadi pengingat bahwa kebebasan pers berjalan beriringan dengan tanggung jawab profesional. Jurnalis dituntut bekerja secara independen, melakukan verifikasi, memberikan ruang bagi klarifikasi, serta membedakan fakta dari opini.
Dalam menjalankan fungsi kontrol sosial, pers tetap harus kritis terhadap kekuasaan dan persoalan publik. Namun, sikap kritis tidak boleh dicampuradukkan dengan penyebaran informasi yang belum teruji kebenarannya. Justru melalui ketelitian, keberimbangan, dan keberanian mengungkap fakta, pers dapat menjaga kepercayaan masyarakat.
Di sinilah semangat Sumpah Pemuda menemukan relevansinya dalam dunia jurnalistik masa kini: menyatukan masyarakat melalui informasi yang bertanggung jawab, tanpa membungkam perbedaan dan tanpa mengorbankan kebenaran.
IJEN dan panggilan menjaga ruang kebangsaan
Jurnalis asal Kabupaten Tuban tersebut juga mengajak seluruh anggota IJEN untuk berpartisipasi aktif dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, sekaligus menyebarluaskan informasi yang positif dan bermanfaat bagi kemajuan bersama.
Ajakan itu sekaligus menjadi refleksi bagi organisasi pers untuk terus membangun budaya kerja yang profesional, bermartabat, dan berorientasi pada kepentingan masyarakat. Organisasi jurnalis tidak cukup hanya menjadi wadah berhimpun, tetapi juga perlu mendorong peningkatan kualitas pemberitaan serta memperkuat etika dalam menjalankan profesi.
“Dengan semangat Sumpah Pemuda, mari kita bangun organisasi yang lebih baik dan bermartabat.”
— Ali Maskur, Ketua Umum DPP IJEN
Peringatan Hari Sumpah Pemuda pada akhirnya membawa bangsa kembali pada satu pertanyaan penting: bagaimana menjaga persatuan di tengah perbedaan yang terus berkembang?
Jawabannya tidak selalu hadir dalam tindakan besar. Ia dapat dimulai dari kesediaan memeriksa kebenaran sebelum membagikan berita, menghormati pandangan yang berbeda, menolak provokasi, serta menyampaikan kritik secara bertanggung jawab.
Sebab, persatuan bukan berarti semua orang harus memiliki pendapat yang sama. Persatuan adalah kesanggupan untuk tetap berdiri bersama sebagai satu bangsa, meskipun memiliki cara pandang yang berbeda.
Dari ikrar pemuda pada 1928 hingga tantangan informasi pada 2026, pesan kebangsaan itu tetap hidup: Indonesia akan semakin kuat ketika perbedaan dirawat dengan kedewasaan, kebenaran dijaga dengan keberanian, dan pers dijalankan dengan tanggung jawab.
BELUPOS.COM — Menyuarakan Suara Rakyat dari Perbatasan untuk Dunia.













