Dari hibah masyarakat adat, perjuangan guru, hingga pengakuan resmi negara, sebuah harapan baru tumbuh di perbatasan Belu.
ATAMBUA |BELUPOS.Com — Di Desa Dualasi Raiulun, Kecamatan Lasiolat, masa depan anak-anak tidak hanya dibangun melalui ruang kelas dan papan tulis. Ia juga tumbuh dari kerelaan masyarakat adat melepaskan sebagian tanahnya demi pendidikan, serta ketekunan para guru yang terus berjuang agar anak-anak di wilayah perbatasan memiliki kesempatan belajar yang lebih baik.
Perjuangan itu kini menemukan babak baru.
SMP Satu Atap (Satap) Maulakak resmi mengantongi izin pendirian, izin operasional, dan Nomor Pokok Sekolah Nasional (NPSN) pada Senin, 26 Oktober 2026. Tiga dokumen tersebut menjadi penanda penting bagi keberlangsungan sekolah yang hadir untuk memperluas akses pendidikan bagi anak-anak di Desa Dualasi Raiulun dan sekitarnya.
Di balik pengakuan administratif itu, tersimpan cerita tentang kepedulian, pengorbanan, dan keyakinan bahwa pendidikan tidak boleh berhenti hanya karena keterbatasan wilayah maupun keadaan ekonomi keluarga.
Tanah yang dihibahkan masyarakat adat bukan lagi semata-mata sebidang lahan. Di atasnya, tersimpan harapan agar generasi berikutnya dapat menapaki jalan kehidupan dengan bekal pengetahuan yang lebih luas.
Ketika tanah adat menjadi warisan masa depan
Wakil Bupati Belu, Vicente Hornai Gonsalves, S.T., menyampaikan apresiasi kepada suku-suku yang telah menghibahkan tanah untuk pembangunan sekolah serta para guru yang terus memperjuangkan keberlangsungan pendidikan di wilayah tersebut.
Baginya, dukungan masyarakat adat merupakan bentuk nyata kepedulian terhadap masa depan generasi muda. Sebab, ketika masyarakat bersedia menyediakan tanah bagi pendidikan, manfaatnya tidak berhenti pada satu generasi, melainkan dapat dirasakan oleh anak-anak yang akan datang.
“Dengan pendidikan, masyarakat kita bisa maju. Terima kasih kepada suku-suku yang rela memberikan lahannya untuk pembangunan sekolah ini. Ini merupakan bentuk kepedulian terhadap masa depan anak-anak kita,” ujar Vicente.
Pernyataan itu menegaskan bahwa pembangunan pendidikan tidak selalu bermula dari proyek besar atau bangunan megah. Dalam banyak komunitas, langkah pertama justru lahir dari kesediaan masyarakat membuka ruang bagi anak-anak untuk belajar.
Tanah yang diserahkan hari ini menjadi bagian dari ikhtiar panjang membangun sumber daya manusia. Di atasnya, anak-anak diharapkan memperoleh kesempatan untuk mengenal dunia, mengembangkan kemampuan, dan mempersiapkan masa depan mereka.
Namun, tersedianya lahan dan berdirinya sekolah hanyalah permulaan. Pendidikan yang berkelanjutan membutuhkan tanggung jawab bersama untuk menjaga fasilitas, mendukung tenaga pendidik, serta memastikan lingkungan belajar tetap aman dan nyaman.
Menjaga sekolah, merawat kepercayaan
Wakil Bupati Belu meminta masyarakat, pemerintah desa, dan para guru bekerja bersama menjaga fasilitas SMP Satap Maulakak agar kegiatan belajar mengajar dapat berlangsung dengan baik.
Ia juga menekankan pentingnya menyimpan dokumen penyerahan tanah secara tertib, termasuk di rumah suku, sebagai bukti yang dapat diwariskan kepada generasi penerus.
Pesan tersebut memiliki arti penting dalam kehidupan masyarakat adat. Penyerahan tanah untuk kepentingan pendidikan bukan hanya keputusan pada hari ini, melainkan amanah yang perlu dijaga agar tujuan awalnya tetap terang di masa mendatang.
Dokumen yang tersimpan dengan baik menjadi bagian dari upaya merawat kepercayaan antara masyarakat adat dan kepentingan publik. Sementara itu, pemeliharaan sekolah menjadi tanggung jawab bersama agar fasilitas yang telah tersedia benar-benar mendukung proses pendidikan.
Sekolah yang bertahan bukan hanya sekolah yang memiliki izin, melainkan sekolah yang terus mendapat dukungan, memiliki tenaga pendidik yang bekerja dengan dedikasi, dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di sekitarnya.
Di sinilah peran pemerintah desa, masyarakat adat, orang tua, dan guru menemukan titik temu: memastikan bahwa kesempatan belajar anak-anak tidak berhenti pada seremoni peresmian atau penyerahan dokumen.
Pendidikan harus berjalan bersama kesejahteraan
Dalam kesempatan tersebut, Vicente juga mendorong Desa Dualasi Raiulun agar mengembangkan potensi sebagai desa wisata. Ia mengingatkan aparatur pemerintah untuk mengutamakan pelayanan kepada masyarakat serta mendorong pemerintah desa memprioritaskan program pertanian dan peternakan sesuai ketentuan penggunaan Dana Desa.
Pesan itu memperlihatkan bahwa kemajuan sebuah desa tidak dapat diukur hanya dari satu sektor. Pendidikan perlu berjalan beriringan dengan penguatan ekonomi keluarga, pengembangan potensi lokal, dan ketahanan pangan.
Anak-anak membutuhkan sekolah untuk memperluas pengetahuan. Keluarga membutuhkan sumber penghidupan yang memadai agar dapat menopang pendidikan mereka. Desa membutuhkan tata kelola yang berpihak pada kepentingan masyarakat supaya potensi yang dimiliki benar-benar memberi manfaat.
Apabila pendidikan, pertanian, peternakan, dan pariwisata dikembangkan secara terarah, Dualasi Raiulun memiliki ruang untuk membangun masa depan yang lebih kuat dengan bertumpu pada potensi wilayahnya sendiri.
Tentu, harapan tersebut membutuhkan perencanaan, pendampingan, dan pelaksanaan program yang konsisten. Pengembangan desa wisata, misalnya, perlu bertumpu pada potensi nyata, keterlibatan masyarakat, serta pelestarian lingkungan dan budaya setempat.
Demikian pula, program pertanian dan peternakan perlu disesuaikan dengan kebutuhan warga serta ketentuan yang berlaku. Dengan begitu, kemajuan ekonomi dapat menjadi penopang bagi keberlangsungan pendidikan, bukan berjalan sendiri-sendiri.
Dari perbatasan, harapan itu diteruskan
Penyerahan dokumen perizinan SMP Satap Maulakak menjadi langkah penting dalam memperkuat akses pendidikan di wilayah Kabupaten Belu, daerah yang memiliki arti strategis sebagai bagian dari kawasan perbatasan Indonesia dan Timor-Leste.
Bagi masyarakat, pengakuan resmi terhadap sekolah ini bukan akhir dari perjuangan. Justru dari sinilah pekerjaan berikutnya dimulai: menjaga keberlangsungan kegiatan belajar, memperkuat dukungan terhadap guru, merawat fasilitas, dan memastikan anak-anak memperoleh pendidikan yang layak.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Camat Lasiolat, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Kepala Dinas Pertanian, Kepala Desa Dualasi Raiulun, para guru, serta orang tua murid.
Kehadiran unsur pemerintah dan masyarakat itu memperlihatkan bahwa pendidikan merupakan urusan bersama. Keberhasilan sekolah tidak hanya ditentukan oleh dokumen yang telah diterbitkan, tetapi juga oleh kesungguhan semua pihak dalam menghidupkan fungsi sekolah dari hari ke hari.
Di Dualasi Raiulun, tanah yang dihibahkan masyarakat adat kini menjadi bagian dari perjalanan pendidikan generasi muda. Para guru melanjutkan pengabdian, pemerintah memikul tanggung jawab pelayanan, dan orang tua menyimpan harapan agar anak-anak mereka memiliki masa depan yang lebih luas.
Sebab, nilai sebuah tanah tidak selalu ditentukan oleh luasnya, melainkan juga oleh harapan yang tumbuh di atasnya.
Dan ketika tanah adat dibuka untuk pendidikan, yang diwariskan bukan hanya tempat untuk mendirikan sekolah, melainkan kesempatan bagi generasi penerus untuk melangkah lebih jauh.
BELU POS — Tapal Batas NKRI, Menyuarakan Suara Rakyat dari Perbatasan
(Sumber: Prokopim Kabupaten Belu, diolah redaksi Belu Pos.)













