KUPANG | BELUPOS.COM – Siang itu, di Aula Rumah Jabatan Wali Kota Kupang, pembicaraan tentang sepiring makanan bergizi melampaui sekadar urusan mengisi perut. Di balik program Makan Bergizi Gratis (MBG), tersimpan harapan besar tentang masa depan anak-anak, denyut ekonomi rakyat, hingga kebangkitan produk lokal Nusa Tenggara Timur.
Di hadapan para pemangku kepentingan yang memenuhi ruangan, Gubernur NTT Melki Laka Lena membuka Rapat Koordinasi Satuan Tugas Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Kota Kupang, Jumat (26/6/2026), dengan sebuah penekanan yang kuat: program ini harus menjadi instrumen pembangunan yang menyentuh dua tujuan sekaligus, yakni meningkatkan kualitas gizi masyarakat dan memperkuat ekonomi daerah berbasis potensi lokal.
“Rapat koordinasi ini harus menjadi momentum untuk mengevaluasi sekaligus memperkuat pelaksanaan program agar manfaatnya tidak hanya meningkatkan status gizi masyarakat, tetapi juga menggerakkan pertumbuhan ekonomi daerah melalui keterlibatan petani, peternak, pelaku UMKM, serta optimalisasi produk-produk lokal NTT dalam rantai pasok program,” tegas Gubernur Melki.
Gubernur mengungkapkan bahwa rapat tersebut merupakan kali pertama dirinya menghadiri koordinasi khusus terkait pelaksanaan Program MBG. Karena itu, ia berharap Kota Kupang mampu tampil sebagai model yang dapat ditiru kabupaten-kabupaten lain di seluruh NTT.
Menurutnya, MBG merupakan salah satu program nasional yang memiliki dampak langsung dan nyata bagi masyarakat karena manfaatnya dirasakan setiap hari oleh berbagai lapisan.
“Di antara berbagai program nasional, MBG merupakan program yang menyentuh banyak pihak sekaligus. Setiap hari terjadi perputaran ekonomi, membuka lapangan pekerjaan, melibatkan banyak pekerja, dan memberikan manfaat langsung bagi anak-anak. Dampaknya dapat dirasakan setiap hari,” ujarnya.
Dengan jumlah penerima manfaat mencapai sekitar 107 ribu orang di Kota Kupang dan potensi perputaran ekonomi yang diperkirakan menyentuh Rp440 miliar, Gubernur mengajukan dua pertanyaan mendasar sebagai bahan evaluasi bersama.
Pertama, apakah nilai ekonomi yang besar tersebut benar-benar menjangkau kelompok masyarakat yang mengalami malnutrisi sehingga mampu menekan angka stunting secara signifikan. Kedua, apakah manfaat ekonomi yang tercipta telah dirasakan secara inklusif oleh petani, peternak, pelaku UMKM, dan masyarakat yang menjadi bagian dari rantai pasok Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
“Pertanyaan-pertanyaan ini perlu dipetakan agar manfaat Program MBG benar-benar maksimal, baik dalam meningkatkan status gizi masyarakat maupun memberikan dampak ekonomi yang luas,” katanya.
Ia juga menegaskan pentingnya tata kelola program yang baik agar seluruh dapur SPPG dapat beroperasi secara optimal, termasuk ketepatan sasaran penerima manfaat serta penguatan penggunaan produk lokal NTT dalam rantai pasok pangan.
Bahkan, Gubernur Melki mendorong lahirnya identitas bersama melalui konsep “MBG NTT Incorporated”, sebuah gagasan kolaboratif yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan untuk memastikan manfaat program menyebar hingga ke akar rumput.
Sementara itu, Wali Kota Kupang Christian Widodo menyampaikan apresiasi kepada Presiden Prabowo Subianto atas lahirnya Program MBG yang dinilainya sebagai investasi jangka panjang bagi kualitas sumber daya manusia Indonesia.
“Kita bukan hanya berbicara tentang makan, tetapi sedang berinvestasi untuk masa depan anak-anak Indonesia,” ujar Christian.
Ia menegaskan bahwa pembangunan manusia harus dilakukan secara utuh sejak masa kehamilan hingga usia lanjut. Karena itu, Posyandu memiliki peran strategis dalam menjaga kecukupan gizi ibu hamil dan bayi pada 1.000 hari pertama kehidupan yang menjadi periode emas pertumbuhan.
Saat ini, kata Christian, Kota Kupang telah memiliki 42 dapur SPPG dengan perputaran ekonomi mencapai sekitar Rp9 miliar. Pemerintah Kota Kupang juga telah membentuk Satgas MBG yang akan melakukan pemantauan rutin setiap bulan terhadap operasional dapur, mulai dari aspek sanitasi, keamanan pangan hingga pengelolaan limbah.
Ia berharap cakupan penerima manfaat program semakin merata, terutama bagi kelompok Posyandu dan PAUD yang memiliki posisi penting dalam upaya percepatan penurunan angka stunting.
“Saya yakin, di setiap porsi Makan Bergizi Gratis bukan hanya tersaji makanan, tetapi juga tersaji mimpi dan masa depan anak bangsa,” tuturnya.
MBG dan Peluang Besar Ekonomi Lokal
Di tengah berbagai tantangan pembangunan manusia di NTT, Program MBG hadir bukan hanya sebagai kebijakan sosial, tetapi juga berpotensi menjadi motor ekonomi baru daerah. Ketika kebutuhan pangan dalam jumlah besar dipasok oleh petani, peternak, nelayan, dan UMKM lokal, maka setiap porsi makanan yang tersaji sesungguhnya turut menggerakkan roda ekonomi masyarakat. Karena itu, keberhasilan MBG tidak hanya diukur dari jumlah anak yang menerima makanan bergizi, tetapi juga dari seberapa besar nilai ekonomi yang kembali mengalir ke desa-desa, sentra produksi pangan, dan pelaku usaha lokal di seluruh NTT.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Ketua DPRD Provinsi NTT Fernando Soares, unsur Forkopimda Provinsi NTT dan Kota Kupang, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTT Ruth Laiskodat, pimpinan perangkat daerah, Kepala Kantor Regional SPPG NTT beserta jajaran, akademisi, para camat se-Kota Kupang, koordinator SPPG, serta berbagai mitra program.
Di ujung pertemuan itu, satu pesan seakan menggema lebih lama daripada suara sambutan yang bergantian disampaikan: bahwa masa depan tidak dibangun dalam sehari, melainkan dimulai dari setiap piring makanan bergizi yang hari ini sampai ke tangan anak-anak, sambil menghidupkan harapan bagi keluarga, petani, dan ekonomi daerah yang tumbuh bersama.















