NDORA, |BELUPOS.Com) – Angin sore di Ndora pada Minggu, 10 Agustus 2025, membawa kabar yang tak lagi baru, namun masih terasa menusuk: Prada Lucky Cepril Saputra Namo telah pergi, selamanya. Prajurit muda itu tak gugur di medan perang, melainkan di medan yang seharusnya aman—di tangan rekan seuniformnya sendiri.
Di tengah duka yang belum kering, Forum Pemuda NTT Kabupaten Nagekeo menggelar pernyataan terbuka. Bukan sekadar pernyataan resmi, melainkan sebuah surat terbuka yang mereka tujukan langsung kepada almarhum. Surat itu dibacakan oleh Ketua Forum, Agustinus Bebi Daga, di hadapan anggota dan warga, dengan suara yang sesekali bergetar menahan haru.
“Terima kasih atas pengabdianmu selama bertugas di bumi Nagekeo. Engkau menjaga keamanan dan ketertiban di tanah ini dengan penuh tanggung jawab,” bunyi salah satu penggalan surat itu.
Namun, di balik ucapan terima kasih, terselip luka dan rasa bersalah. “Kami mohon maaf karena tidak mampu menjaga adik di tanah kami, sebagaimana mestinya tamu dan saudara dijaga. Kami menunduk malu karena engkau mendapat perlakuan yang tidak manusiawi dari oknum yang seharusnya menjadi rekan dan pelindungmu.”
Forum Pemuda NTT menyebut kematian Prada Lucky sebagai noda hitam yang memalukan institusi, melukai hati masyarakat, dan menghina nilai kemanusiaan. Mereka mengutuk keras tindakan penganiayaan itu, menegaskan bahwa “tidak ada alasan, tidak ada pembenaran, dan tidak ada ampun bagi kekerasan seperti itu. Keadilan harus ditegakkan tanpa pandang bulu.”
Surat itu ditutup dengan kalimat yang membuat hadirin terdiam: “Tana ngesi KE’TA, watu ngesi JA’”—tanah ini ikut menangis, batu pun ikut berduka.
Di Kabupaten Nagekeo, kepergian Prada Lucky kini menjadi penanda: bahwa kekerasan adalah musuh bersama, dan bahwa keadilan harus diperjuangkan, tidak hanya untuk menenangkan jiwa yang pergi, tetapi juga untuk menjaga martabat mereka yang masih hidup.
Kalau Anda mau, saya bisa menambahkan paragraf pembuka yang menggambarkan suasana pemakaman Prada Lucky agar pembaca terasa benar-benar hadir di momen tersebut.
Mau saya tambah?
rada Lucky: Surat Terbuka yang Menggetarkan Hati
NDORA, (Belu Pos) – Angin sore di Ndora pada Minggu, 10 Agustus 2025, membawa kabar yang tak lagi baru, namun masih terasa menusuk: Prada Lucky Cepril Saputra Namo telah pergi, selamanya. Prajurit muda itu tak gugur di medan perang, melainkan di medan yang seharusnya aman—di tangan rekan seuniformnya sendiri.
Di tengah duka yang belum kering, Forum Pemuda NTT Kabupaten Nagekeo menggelar pernyataan terbuka. Bukan sekadar pernyataan resmi, melainkan sebuah surat terbuka yang mereka tujukan langsung kepada almarhum. Surat itu dibacakan oleh Ketua Forum, Agustinus Bebi Daga, di hadapan anggota dan warga, dengan suara yang sesekali bergetar menahan haru.
“Terima kasih atas pengabdianmu selama bertugas di bumi Nagekeo. Engkau menjaga keamanan dan ketertiban di tanah ini dengan penuh tanggung jawab,” bunyi salah satu penggalan surat itu.
Namun, di balik ucapan terima kasih, terselip luka dan rasa bersalah. “Kami mohon maaf karena tidak mampu menjaga adik di tanah kami, sebagaimana mestinya tamu dan saudara dijaga. Kami menunduk malu karena engkau mendapat perlakuan yang tidak manusiawi dari oknum yang seharusnya menjadi rekan dan pelindungmu.”
Forum Pemuda NTT menyebut kematian Prada Lucky sebagai noda hitam yang memalukan institusi, melukai hati masyarakat, dan menghina nilai kemanusiaan. Mereka mengutuk keras tindakan penganiayaan itu, menegaskan bahwa “tidak ada alasan, tidak ada pembenaran, dan tidak ada ampun bagi kekerasan seperti itu. Keadilan harus ditegakkan tanpa pandang bulu.”
Surat itu ditutup dengan kalimat yang membuat hadirin terdiam: “Tana ngesi KE’TA, watu ngesi JA’”—tanah ini ikut menangis, batu pun ikut berduka.
Di Kabupaten Nagekeo, kepergian Prada Lucky kini menjadi penanda: bahwa kekerasan adalah musuh bersama, dan bahwa keadilan harus diperjuangkan, tidak hanya untuk menenangkan jiwa yang pergi, tetapi juga untuk menjaga martabat mereka yang masih hidup.















