banner 728x250

Simfoni di Perbatasan: Ketika Belu Menutup Tahun dengan Nada, Bukan Keluhan

ATAMBUA |BELUPOS. Com)-Malam turun perlahan di Atambua, seperti lembar terakhir sebuah buku yang dibaca dengan hati-hati. Di Pelataran Plaza Perizinan, cahaya tidak hanya datang dari lampu-lampu panggung, tetapi dari wajah-wajah yang berkumpul—warga yang memilih hadir, mendengar, dan percaya bahwa akhir tahun masih layak dirayakan dengan keindahan.

Di ruang terbuka itu, Simphony Akhir Tahun dalam Damai dan Pesona Wisata digelar bukan sekadar sebagai acara, melainkan sebagai jeda. Jeda dari hiruk-pikuk, dari keluhan panjang tentang batas dan keterpinggiran. Pada Jumat malam, 13 Desember 2025, Belu seolah berkata: kami masih punya nada.

Mewakili Bupati Belu, Aloysius Fahik, S.STP, Staf Ahli Bidang Pemerintahan, Hukum, dan Politik, berdiri tenang di hadapan publik. Ia membawa mandat yang sederhana namun bermakna—menghadirkan negara di tengah warganya.

Bupati Belu sedang menjalankan tugas di luar daerah, sementara Wakil Bupati berhalangan hadir karena duka keluarga. Namun roda pemerintahan tidak berhenti. Ia menemukan wujudnya dalam kehadiran, dalam sapaan, dalam sebuah pembukaan resmi yang terasa lebih personal daripada prosedural.

Dalam sambutannya, Aloysius tidak memilih bahasa target dan capaian. Ia memilih bahasa rasa.

“Tidak ada kebahagiaan tertinggi selain membahagiakan orang lain.”

Kalimat itu melayang pelan di udara malam, seperti pengingat bahwa pembangunan tidak selalu dimulai dari beton dan angka, melainkan dari perhatian. Dari kemauan untuk menghadirkan ruang di mana orang bisa merasa diundang, bukan sekadar diatur.

Ia menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang sejak Maret hingga penghujung 2025 merawat denyut pariwisata Belu. Apresiasi khusus ditujukan kepada Dinas Pariwisata Kabupaten Belu, yang dinilainya konsisten menenun agenda demi agenda—bukan sekadar keramaian sesaat, tetapi kesinambungan.

Di bawah kepemimpinan Bupati Willybrodus Lay, SH dan Wakil Bupati Vicente Hornai Gonsalves, ST, pariwisata ditempatkan sebagai jalan temu: antara budaya dan ekonomi, antara warga dan harapan.

“Ketika pariwisata bergerak, sektor lain ikut bergerak. UMKM tumbuh, ekonomi masyarakat hidup,” ujar Aloysius.

Pariwisata, dalam tafsir ini, bukan brosur dan panggung semata. Ia adalah kesempatan—bagi pelaku UMKM untuk bertahan, bagi generasi muda untuk bermimpi tanpa harus pergi, dan bagi daerah perbatasan untuk menyebut namanya sendiri dengan percaya diri.

Malam itu juga menjadi pengantar bagi rencana besar berikutnya: Calendar of Event Kabupaten Belu Tahun 2026. Sebuah kalender yang tidak hanya mencatat tanggal, tetapi memanggil partisipasi. Pemerintah mengundang TNI/Polri, perbankan, instansi vertikal, BUMN, BUMD, hingga masyarakat untuk menuliskan cerita bersama.

Sejumlah lembaga bahkan telah menyatakan kesiapan menghadirkan kegiatan berskala regional dan nasional di Belu. Isyarat kecil namun penting, bahwa perbatasan bukan akhir, melainkan awal.

Ucapan terima kasih turut disampaikan kepada sekolah-sekolah, para guru, serta siswa-siswi SD, SMP, dan SMA. Mereka bukan sekadar pengisi acara, tetapi penonton masa depan—anak-anak yang kelak akan mengingat bahwa suatu malam di Atambua, musik pernah mengajarkan mereka tentang damai.

Menjelang akhir sambutan, Aloysius Fahik menutup dengan kalimat yang lebih menyerupai doa daripada seremoni:

“Dengan memohon restu Tuhan Yang Maha Kuasa, kegiatan Simphony Akhir Tahun Dalam Damai dan Pesona Wisata Tahun 2025 secara resmi saya nyatakan dibuka.”

Tepuk tangan pun terdengar, bukan sebagai tanda selesai, melainkan sebagai penanda bahwa sesuatu telah dimulai. Bahwa Belu, di ujung tahun, memilih menutup lembaran dengan nada—dan membuka halaman baru dengan keyakinan.

Malam itu, para pejabat, aparat, guru, dan pelajar berdiri dalam satu ruang yang sama. Tidak ada jarak yang terlalu terasa. Hanya sebuah simfoni kecil di perbatasan, yang dengan tenang mengingatkan: harapan kadang cukup hadir, agar tetap hidup.

banner 325x300
Penulis: Redaksi BeluposEditor: Agustinus Bobe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *