banner 728x250

Jalan Fatukbot Rusak Parah, Warga Khawatir Jadi Kuburan Kecelakaan

ATAMBUA |BELUPOS.Com) – Trans Jalan lingkar Motabuik–Nufuak hingga Motabuik–Asuulun di Kelurahan Fatukbot, Kecamatan Atambua Selatan, Kabupaten Belu, kondisinya kian memprihatinkan.

Lubang-lubang besar menganga di hampir setiap sudut jalan, menghambat mobilitas dan mengancam keselamatan warga.

Ruas ini bukan sekadar jalan biasa. Di jalur inilah roda perekonomian rakyat berputar. Hasil sayur-mayur dari kebun warga diangkut menuju pasar kota. Produksi batu bata yang menjadi sumber nafkah keluarga kecil pun melewati jalur ini. Belum lagi para siswa sekolah, tenaga kesehatan menuju puskesmas, dan aparat kecamatan yang setiap hari harus berhadapan dengan jalan yang rusak parah.

“Kalau kondisi ini terus dibiarkan, cepat atau lambat akan ada korban jiwa. Jalan ini sangat penting bagi kepentingan banyak orang, bukan hanya warga Fatukbot,” ujar Robert Ndai, warga RT Fatukbot dengan wajah serius.

Kondisi ini semakin ironis karena Atambua adalah beranda terdepan Indonesia. Kota perbatasan yang menjadi cermin wajah bangsa, bahkan sering kedatangan tamu dari Timor Leste maupun daerah lain di Indonesia.

Jalan rusak tentu menjadi catatan buruk yang menggerus citra pemerintah daerah di mata publik.

Faktanya, persoalan ini bukan barang baru.

Hampir setiap Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) di tingkat kelurahan maupun kecamatan, usulan perbaikan jalan Fatukbot selalu menjadi agenda utama. Namun, suara warga seakan tak sampai ke telinga pengambil keputusan. Tahun berganti, kerusakan semakin parah.

“Sudah berkali-kali dibicarakan dalam Musrenbang, tetapi hasilnya nihil. Kami hanya bisa berharap pemerintah tidak lagi menutup mata, karena jalan ini adalah urat nadi masyarakat,” tambah Robert dengan nada getir.

Belu Pos mencatat, kerusakan jalan bukan hanya menyulitkan pergerakan, melainkan juga menjadi ancaman laten keselamatan. Saat hujan turun, jalan berubah menjadi kubangan lumpur. Sementara di musim panas, debu beterbangan menyesakkan napas warga sekitar.

Warga Fatukbot kini menanti langkah nyata Pemkab Belu. Sebab, jalan bukan sekadar infrastruktur. Ia adalah denyut kehidupan, penghubung harapan, dan penentu masa depan perbatasan.

banner 325x300
Penulis: L24Editor: Agustinus Bobe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *