ATAMBUA | BELUPOS.Com)-
Deru air Kali Talau selalu menjadi mimpi buruk bagi warga Uma Kulit, Kelurahan Fatubenao, Kecamatan Kota Atambua. Sejak tahun 2020, banjir yang datang setiap musim hujan terus menebar ketakutan. Di siang hari, malam hari, bahkan subuh, mereka selalu hidup dalam was-was.
Dalam sebuah dialog terbuka di bantaran Kali Talau, Jumat (26/9/2026), Camat Kota Atambua Yohanes Moruk menyampaikan kegelisahannya di hadapan Ketua DPRD Belu, anggota DPRD Dapil I, perwakilan PUPR, BPBD Belu, kontraktor Samara Jaya, tokoh masyarakat, dan warga setempat.
▌ “Kita kini dihadapkan pada wajah-wajah masyarakat. Ada yang tersenyum, ada pula yang diliputi ketakutan. Cukup sudah tangisan mereka. Dialog ini harus melahirkan solusi,”
— Yohanes Moruk, Camat Kota Atambua
Sejak enam tahun lalu, proposal dan permintaan warga selalu dilayangkan. Namun, hingga kini, belum ada jawaban nyata. Warga Uma Kulit, dengan penghasilan pas-pasan, hanya bisa bertahan sambil menunggu kepastian.
Anis Koson, salah seorang tokoh masyarakat, berbicara terbata-bata kepada media ini. Ia mengungkapkan rasa lelah warganya yang harus selalu berjaga setiap kali hujan deras mengguyur. “Sampai kapan kami harus begini?” keluhnya.
Dialog ini ditutup oleh Lurah Fatubenao, Stefanus Pires, yang menjadi moderator. Ia mengajak semua pihak untuk terus bersatu memperjuangkan hak warga bantaran Kali Talau.
▌ “Mari kita berjuang sambil berdoa, agar tangis warga Uma Kulit segera berlalu,”
— Stefanus Pires, Lurah Fatubenao
Hingga kini, banjir masih menjadi hantu bagi masyarakat Uma Kulit. Mereka hanya berharap, suara tangis yang telah bertahun-tahun menggema di bantaran Kali Talau akhirnya bisa berganti dengan tawa lega.















