Harapan Bronjong, Janji Normalisasi
ATAMBUA |BELUPOS.Com)– Setiap kali musim hujan tiba, keresahan kembali menghantui warga Kelurahan Fatubenao, Kecamatan Kota Atambua. Di bantaran Kali Talau, tepatnya wilayah Uma Kulit, mereka hidup dalam was-was. Air bah dan abrasi tak hanya menggerus lahan pertanian, tetapi juga mengintai rumah-rumah penduduk.
Tokoh masyarakat Fatubenao Uma Kulit, Anis Koson, menyuarakan keresahan itu dalam sebuah dialog yang dipandu Lurah Fatubenao, Stefanus Pires, Jumat (26/9/2025). Ia mengingatkan bahwa persoalan ini telah diperjuangkan sejak 2020, namun belum menemukan jawaban nyata.
“Setiap kali hujan turun deras, hati kami ikut bergetar. Tanah hilang, sawah tergerus, rumah kami tak lagi tenang,”
— Anis Koson, Tokoh Masyarakat Uma Kulit
Ketua DPRD Belu, Theodorus Feby Juang, yang hadir dalam pertemuan itu, berjanji akan mengawal proposal penanganan abrasi yang diajukan ke Balai Sungai Wilayah II Nusa Tenggara. Anggaran sebesar Rp4,5 miliar untuk pembangunan bronjong dan Rp1,5 miliar untuk bantaran Kali Talau sudah disiapkan.
“Negara bisa bangun jembatan raksasa di atas laut. Mengapa bronjong saja tak bisa? Kita DPR akan kawal proposal ini sampai Komisi V DPR RI,”
— Theodorus Feby Juang, Ketua DPRD Belu
Untuk mengatasi kondisi darurat, Dinas PUPR Belu bersama PT Samara Jaya segera menurunkan tiga ekskavator guna melakukan normalisasi di sepanjang Kali Talau. Kepala Dinas PUPR, Vinsen Dalung, menegaskan langkah cepat ini sebagai bentuk tanggap darurat sebelum pembangunan permanen terwujud.
Dialog tersebut turut disaksikan anggota DPRD Belu Dapil I, yakni Stanis Fahik (PSI), Yane Bone (PAN), dan Toni Luan (PKB), bersama Camat Kota Atambua Yonanes Moruk, serta para tokoh dan masyarakat RW 04 dari RT 14, 15, 26, 27, hingga 38. Sekitar 50 warga hadir, membawa harapan bahwa jeritan mereka tak lagi sekadar gema di tepi sungai.
📰 BeluPos.com – Suara Rakyat dari Perbatasan untuk Nusantara















