KUPANG |BELUPOS. Com)-Pagi itu, halaman Kantor Gubernur NTT terasa lain. Cahaya mentari belum tinggi, namun sudah ada ribuan langkah yang mengisi ruang dengan kesungguhan. 4.672 aparatur sipil negara berdiri rapi, seakan menjadi saksi bahwa perubahan bisa dimulai dari satu kata sederhana: hadir.
Seorang pemimpin berdiri di hadapan mereka, suaranya jernih, penuh penekanan, mengingatkan tentang disiplin. Ia tak sekadar bicara tentang absen, angka, atau daftar nama. Ia bicara tentang hidup yang tertata, tentang kerja yang bukan hanya kewajiban, tetapi juga panggilan.
“Virus malas lebih cepat menular dibanding semangat rajin. Karena itu, disiplin bukan sekadar catatan absensi, melainkan sikap hidup yang harus dijaga.”
Kalimat itu melayang di udara, lalu jatuh ke hati mereka yang mendengarkan. Ada yang terdiam, ada pula yang mengangguk pelan.
Bahasa Kebijakan yang Menyentuh Hati
Seusai bicara disiplin, Gubernur kembali menekankan hal lain yang kerap terlupakan: komunikasi publik. Karena pemerintah bisa saja bekerja keras, namun bila rakyat tidak mengerti, maka kerja itu sia-sia.
Kebijakan, baginya, bukan hanya dokumen di atas kertas. Ia adalah cerita yang harus dibagikan, jembatan yang harus dibangun, dan kata-kata yang harus disampaikan dengan kejujuran.
“Kebijakan harus disampaikan dengan jelas, terbuka, dan melibatkan publik. Hanya dengan begitu kita menghindari salah paham dan polemik.”
Jejak Kemenangan Bersama
Pagi itu juga diwarnai rasa syukur. NTT berhasil membuktikan diri di mata dunia lewat Tour de EnTeTe 2025. Dari ASN hingga aparat keamanan, dari swasta hingga masyarakat desa, semua bergandeng tangan. Bukan hanya acara olahraga, melainkan panggung yang menunjukkan bahwa NTT bisa sejajar dengan daerah lain, bahkan dunia.
Dan yang lebih penting: keberhasilan itu dilaporkan dengan transparan, tanpa menutup-nutupi. Karena keberhasilan tanpa kejujuran hanyalah fatamorgana.
Tumbuh dari Tanah, Menyapa Langit
Gubernur Melki Laka Lena menyampaikan kabar baik yang membuat banyak hati lega: ekonomi NTT tumbuh 5,44 persen pada triwulan II 2025, lebih tinggi dari rata-rata nasional. Sektor pertanian, tempat sebagian besar orang NTT menaruh harap, menjadi motor utama.
Seperti ladang yang setiap musim menumbuhkan padi, angka itu menjadi tanda bahwa kerja keras tidak pernah sia-sia. Bahwa keringat petani dan semangat ASN sama-sama mengalir ke sungai yang bernama pembangunan.
Doa yang Menutup Pagi
Akhirnya, arahannya bukan ditutup dengan perintah, melainkan dengan doa.
“Mari kita jaga semangat kerja bersama untuk daerah tercinta. Tuhan memberkati kita semua.”
Kalimat sederhana, tapi mengandung daya hidup. ASN pun bertepuk tangan, sebagian tersenyum, sebagian lain menunduk dalam diam. Seakan pagi itu bukan sekadar apel, melainkan upacara batin—tentang cinta pada tanah ini, tentang janji untuk bekerja lebih baik.
Dan di halaman itu, cahaya matahari pelan-pelan naik, menyinari wajah mereka. Seperti menyinari sebuah harapan baru: NTT yang maju, disiplin, terbuka, dan penuh kasih.















