KEFAMENANU |BELU POS — Pengabdian kepada masyarakat tidak selalu dimulai dari ruang seminar atau lembaran teori di ruang kuliah. Di Haumeni, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), pengabdian itu hadir melalui kerja bersama, tanah yang diratakan, pasir yang disebarkan, serta dialog yang membuka ruang kesadaran tentang persoalan lingkungan dan kehidupan digital.
Sebanyak 40 mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Timor (Unimor), didampingi dosen, melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat di lokasi pembangunan Gereja Paroki Kristus Raja Haumeni pada 9–10 Oktober 2026.
Selama dua hari, mahasiswa tidak hanya terlibat dalam penataan lokasi pembangunan gereja baru, tetapi juga membangun komunikasi dengan umat setempat melalui doa Rosario dan diskusi mengenai sejumlah persoalan aktual yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Kegiatan tersebut menjadi gambaran bahwa pengabdian perguruan tinggi tidak berhenti pada pemenuhan kewajiban akademik. Lebih dari itu, pengabdian merupakan ruang perjumpaan antara pengetahuan yang diperoleh di bangku kuliah dan kebutuhan nyata masyarakat.
Dari Kampus ke Lokasi Pembangunan Gereja
Sabtu, 10 Oktober 2026, sejak pagi hingga siang, mahasiswa FISIP Unimor bersama warga bergotong royong menata area pembangunan gereja baru.
Mereka bahu-membahu meratakan tanah dan menyebarkan pasir di sekitar lokasi yang dipersiapkan untuk mendukung pembangunan serta pemanfaatan tempat ibadah tersebut.
Di tengah pekerjaan fisik itu, semangat kebersamaan menjadi bagian penting dari kegiatan. Mahasiswa dan umat bekerja berdampingan, memperlihatkan bahwa hubungan antara kampus dan masyarakat dapat dibangun melalui tindakan sederhana yang memberikan manfaat langsung.
Tidak ada sekat antara mereka yang datang membawa pengetahuan akademis dan warga yang setiap hari hidup bersama realitas sosial di lingkungannya. Keduanya bertemu dalam semangat gotong royong, sebuah nilai yang terus menjadi fondasi kehidupan masyarakat.
Penataan lokasi gereja itu sekaligus menjadi pengalaman pembelajaran bagi mahasiswa untuk memahami bahwa perubahan sosial tidak selalu lahir dari gagasan besar. Terkadang, perubahan bermula dari kesediaan mengambil bagian dalam pekerjaan bersama.
Doa Rosario Membuka Ruang Dialog
Rangkaian pengabdian telah dimulai pada Jumat sore, 9 Oktober 2026, ketika rombongan mahasiswa tiba di lokasi kegiatan.
Kedatangan mereka bertepatan dengan kegiatan doa Rosario yang dilaksanakan umat Katolik di Kelompok Umat Basis (KUB) dan lingkungan setempat. Kehadiran mahasiswa disambut hangat oleh umat, menciptakan suasana perjumpaan yang akrab antara civitas akademika dan masyarakat.
Usai doa Rosario bersama, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi mengenai berbagai isu aktual yang berkaitan dengan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Salah satu persoalan yang dibicarakan ialah status Gunung Mutis, terutama berkaitan dengan isu lingkungan dan status kawasan yang menjadi perhatian masyarakat lokal.
Pembahasan tersebut membuka ruang bagi pertukaran pandangan mengenai pentingnya menjaga lingkungan sekaligus memahami kebijakan yang berkaitan dengan kawasan Gunung Mutis.
Selain isu lingkungan, mahasiswa juga mengangkat pentingnya kecakapan digital, khususnya dalam menggunakan media sosial secara bijak.
Di tengah derasnya arus informasi, masyarakat dituntut semakin cermat dalam menerima, memeriksa, dan membagikan informasi. Literasi digital menjadi penting agar masyarakat tidak mudah terpengaruh berita bohong maupun informasi yang belum terverifikasi.
Melalui dialog tersebut, mahasiswa berupaya mendorong kesadaran bahwa penggunaan media sosial bukan hanya berkaitan dengan kemampuan mengakses teknologi, tetapi juga menyangkut tanggung jawab dalam menjaga ruang informasi yang sehat.
Mempertemukan Teori dan Realitas Sosial
Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat tersebut merupakan bagian dari program fakultas dan program studi yang dirancang untuk memperluas pengalaman mahasiswa dalam memahami dinamika kehidupan masyarakat secara langsung.
Melalui keterlibatan di Haumeni, mahasiswa memperoleh kesempatan untuk melihat bagaimana persoalan sosial, lingkungan, dan perkembangan teknologi hadir dalam kehidupan sehari-hari.
Dosen pembimbing lapangan, Frans Atok, mengapresiasi antusiasme mahasiswa yang terlibat dalam rangkaian kegiatan tersebut.
“Melalui kegiatan ini, mahasiswa dilatih untuk peka terhadap kondisi riil di lapangan. Kami berharap kegiatan positif seperti ini dapat terus berlanjut dan rutin dilaksanakan di masa-masa yang akan datang.”
Pernyataan Frans Atok menegaskan pentingnya pengalaman lapangan dalam proses pendidikan tinggi. Pengetahuan akademis perlu dipertemukan dengan realitas sosial agar mahasiswa tidak hanya memahami persoalan secara konseptual, tetapi juga mampu membaca kebutuhan masyarakat secara langsung.
Bagi mahasiswa FISIP, pengalaman tersebut menjadi kesempatan untuk mengembangkan kepekaan sosial, kemampuan berdialog, serta kesadaran akan tanggung jawab perguruan tinggi dalam kehidupan bermasyarakat.
Pengabdian yang Menumbuhkan Kebersamaan
Dua hari kegiatan di Haumeni memperlihatkan bahwa pengabdian kepada masyarakat dapat mengambil beragam bentuk. Kerja bakti menghadirkan manfaat fisik, sedangkan dialog membuka ruang pertukaran pengetahuan dan pemahaman.
Keduanya bertemu dalam satu tujuan: membangun hubungan yang lebih dekat antara dunia pendidikan dan masyarakat.
Melalui kegiatan ini, FISIP Unimor menunjukkan bahwa perguruan tinggi memiliki peran lebih luas daripada sekadar menjadi tempat menimba ilmu. Kampus juga menjadi ruang pembentukan kepedulian, pengembangan tanggung jawab sosial, dan penguatan nilai gotong royong.
Di Haumeni, mahasiswa belajar bahwa ilmu pengetahuan memperoleh makna ketika bersentuhan dengan kehidupan nyata. Sementara itu, masyarakat mendapatkan ruang untuk berdialog dan berbagi pandangan bersama generasi muda yang kelak turut menentukan arah perubahan sosial.
Dari lokasi pembangunan gereja hingga ruang diskusi bersama umat, pengabdian itu meninggalkan pesan sederhana: pendidikan menjadi lebih bermakna ketika pengetahuan berjalan beriringan dengan kepedulian dan tindakan nyata bagi masyarakat.













