Berita UtamaEksisLensa PerbatasanPariwisataPendidikanwarta Kota

Ketika Kain Mulai Bernyanyi, Duarato Menjaga Ingatan Bunaq Tetap Hidup

124
×

Ketika Kain Mulai Bernyanyi, Duarato Menjaga Ingatan Bunaq Tetap Hidup

Sebarkan artikel ini

ATAMBUA | BELUPOS.Com — Pagi di Kampung Adat Duarato tidak benar-benar dimulai dari suara manusia.

Ia seperti dibuka oleh bunyi yang lebih tua—suara langkah kaki di halaman kampung, sapaan yang bersilang, denting aktivitas warga, dan nyanyian yang perlahan menghidupkan kembali ingatan tentang siapa mereka.

Di tempat ini, kain bukan sekadar kain.

Setiap helai tenun menyimpan jejak tangan. Setiap benang membawa pengetahuan. Dan di antara tarikan benang yang satu dengan benang lainnya, hidup nyanyian yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Dari sanalah Festival Tais Selu Hananu 2026 menemukan jiwanya.

Festival budaya yang berlangsung pada 25–26 September 2026 di Kampung Adat Duarato, Kecamatan Lamaknen, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, itu resmi dibuka untuk kedua kalinya.

Festival tersebut mendapat dukungan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Direktorat Bina Sumber Daya Manusia, Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Kebudayaan Berbasis Masyarakat.

Namun bagi masyarakat Duarato, festival ini bukan sekadar agenda kebudayaan.

Ia adalah ruang untuk mengingat.

Ruang untuk mempertemukan kembali suara para tetua dengan rasa ingin tahu anak-anak muda. Ruang untuk memperlihatkan kepada dunia bahwa kebudayaan Bunaq tidak hanya tinggal di dalam benda-benda lama, tetapi masih bernapas dalam kehidupan sehari-hari.

Di Duarato, masyarakat Bunaq meyakini bahwa setiap helai tenun dan perjalanan kehidupan selalu ditemani nyanyian.

Nyanyian hadir ketika tangan mulai bekerja. Ia mengiringi proses menenun, menemani aktivitas masyarakat, menjadi tempat menyimpan rasa syukur, nasihat, kisah kehidupan, bahkan kerinduan kepada anggota keluarga yang telah lebih dahulu pergi.

Karena itu, yang hendak diwariskan masyarakat Duarato bukan hanya kain.

Bukan pula sekadar nyanyian.

Yang hendak diselamatkan adalah suara, cerita, pengetahuan, ingatan, dan nilai kehidupan yang tersembunyi di balik setiap helai kain.

ketika tradisi membuka pintunya

Pembukaan festival berlangsung dalam suasana yang mempertemukan masyarakat, pemerintah, lembaga pendidikan, komunitas budaya, dan generasi muda.

Hadir Judi Wahjudin, S.S., M.Hum., Sekretaris Direktorat Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.

Turut hadir Brahmantara, S.T., M.A., Kepala Subdirektorat Pemeliharaan dan Pengembangan Sarana dan Prasarana Kebudayaan, Direktorat Sarana dan Prasarana Kebudayaan, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia; Haris Budiharto, S.Si., M.A., Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XVI Nusa Tenggara Timur; Januaria Nona Alo, S.I.P., Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Belu; Marius D. Embele, S.E., Camat Lamaknen Selatan; Dedi Luan, Camat Lamaknen; Yoseph Mau Leon, Nai Duarato atau Raja Duarato; Gregorius Mau Bere, Kepala Desa Duarato; Remegius Kala, Kapolsek Lamaknen; Emanuel Foni Bula, Kepala Bank NTT Cabang Pembantu Weluli; Danramil 1605-03 Lamaknen; serta masyarakat Desa Duarato dan wilayah sekitarnya.

Tetapi yang paling penting dari festival ini bukanlah siapa yang berdiri di panggung.

Yang paling penting adalah siapa yang datang membawa ingatan.

Pada tahun kedua penyelenggaraannya, Festival Tais Selu Hananu memperluas lingkar kebudayaan.

Jika sebelumnya kegiatan lebih berpusat di Kampung Adat Duarato, tahun ini ruang perjumpaan diperluas kepada masyarakat dan jejaring budaya Bunaq dari Kecamatan Lamaknen dan Kecamatan Lamaknen Selatan.

SMA Negeri Weluli, SMA Makir, SMP Deubululik, Desa Loununa, Desa Lakmaras, serta anak-anak muda Duarato bersama para eme dan ama hadir dalam satu ruang kebudayaan.

Di sana, batas antara penonton dan pelaku budaya menjadi semakin tipis.

Anak-anak muda datang bukan hanya untuk menyaksikan.

Mereka datang untuk belajar.

Para eme dan ama bukan hanya hadir sebagai penjaga masa lalu.

Mereka menjadi jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan masa depan.

kain yang menyimpan suara

Di Duarato, selembar kain tidak lahir dalam waktu singkat.

Ada tangan yang bekerja.

Ada benang yang dipintal.

Ada pengetahuan yang diwariskan.

Ada ketekunan yang dijaga.

Dan ada cerita yang menyertainya.

Melalui Jelajah Budaya Duarato, para tamu diajak masuk lebih dekat ke kehidupan masyarakat Bunaq.

Perjalanan itu diawali dengan prosesi penyambutan Likurai dan Lokrato.

Setelah itu, rombongan bergerak menuju rumah-rumah adat.

Di sana, para eme memperagakan proses pemintalan benang secara tradisional.

Pengunjung tidak hanya melihat kain yang telah selesai.

Mereka diajak melihat perjalanan panjang sebelum kain itu menjadi kain.

Di situlah kebudayaan terasa lebih nyata.

Bukan sebagai benda yang dipajang di balik kaca, melainkan sebagai pengetahuan yang masih dikerjakan oleh tangan manusia.

Sebab, ketika sebuah generasi hanya mengenal kain dari hasil akhirnya, mereka mungkin mengenal bentuknya.

Tetapi belum tentu mengenal jiwanya.

Duarato mencoba menjaga jiwa itu tetap hidup.

galeri yang menyimpan ingatan

Festival tahun ini juga menghadirkan Galeri Budaya Bunaq, sebuah ruang belajar yang mempertemukan foto cerita, dokumentasi, peta budaya, arsip suara, dan berbagai narasi tentang kehidupan masyarakat Bunaq, khususnya masyarakat Duarato.

Galeri itu seperti sebuah pintu.

Pengunjung diajak masuk untuk mengenal kehidupan masyarakat dari sisi yang lebih dekat—nyanyian, tenun, ritus, pangan lokal, rumah adat, sumber air, hingga praktik budaya yang masih diwariskan sampai hari ini.

Di sana, kebudayaan tidak tampil sebagai sesuatu yang beku.

Ia hadir sebagai kehidupan.

Ada suara.

Ada gambar.

Ada cerita.

Ada ruang.

Dan ada manusia yang terus menjalaninya.

panggung yang mempertemukan generasi

Rangkaian hari pertama festival diawali dengan penyambutan tamu melalui tarian Likurai dan prosesi Lokrato.

Setelah pembukaan resmi dan peresmian Galeri Budaya Bunaq, panggung festival kemudian dipenuhi berbagai penampilan dari sekolah dan komunitas di kawasan budaya Bunaq.

SDK Nualain.

SMP Piebulak.

SMA Negeri Weluli.

Desa Henes.

Desa Lakmaras.

Desa Loununa.

Anak-anak Duarato.

Hingga penampilan musik bambu dari SMA Makir.

Panggung itu akhirnya bukan lagi sekadar tempat pertunjukan.

Ia berubah menjadi ruang pertemuan.

Di sana, anak-anak belajar bahwa apa yang mereka warisi dari para leluhur bukan sesuatu yang harus disimpan dalam diam.

Ia dapat dinyanyikan.

Ia dapat ditarikan.

Ia dapat diceritakan.

Dan ia dapat dibawa menuju masa depan.

duarato tidak merayakan dirinya sendiri

Ada sesuatu yang lebih besar dari sebuah festival ketika masyarakat membuka pintu kebudayaannya bagi orang lain.

Duarato melakukan itu.

Melalui Festival Tais Selu Hananu, desa-desa yang masih menghidupi kebudayaan Bunaq diberi ruang untuk hadir, berbagi, dan belajar bersama.

Festival ini menjadi tempat masyarakat Bunaq dari berbagai wilayah kembali bertemu.

Mereka membawa cerita masing-masing.

Membawa pengalaman.

Membawa pengetahuan.

Membawa ingatan.

Lalu meletakkannya dalam satu ruang bersama.

Karena kebudayaan, pada akhirnya, tidak hanya berbicara tentang masa lalu.

Ia berbicara tentang bagaimana sebuah masyarakat memilih untuk mengingat dirinya sendiri.

Dan bagaimana ingatan itu diberikan kepada anak-anak yang kelak akan berdiri menggantikan generasi hari ini.

Di Duarato, para ama dan eme mempunyai ruang untuk mewariskan cerita.

Anak-anak dan generasi muda memperoleh kesempatan untuk mendengar langsung dari sumbernya.

Di antara keduanya, sebuah jembatan kebudayaan sedang dibangun.

Pelan.

Tidak gaduh.

Tetapi penting.

ketika nyanyian menjadi jalan pulang

Festival Tais Selu Hananu mungkin hanya berlangsung dua hari.

Namun apa yang hendak dijaga Duarato jauh lebih panjang daripada usia sebuah festival.

Sebab, dua hari itu hanyalah panggung.

Yang sesungguhnya berlangsung adalah proses pewarisan.

Ketika seorang eme memintal benang, ia sedang mengajarkan ketekunan.

Ketika seorang ama menceritakan kehidupan leluhur, ia sedang menyerahkan ingatan.

Ketika anak-anak menyanyikan kembali lagu-lagu yang diwariskan, mereka sedang memastikan suara itu tidak berhenti pada satu generasi.

Dan ketika kain tenun kembali dibentangkan, yang terbuka bukan hanya motif dan warna.

Yang terbuka adalah sebuah cerita.

Cerita tentang manusia yang menjaga hubungan dengan leluhur, alam, keluarga, dan komunitasnya.

Duarato akhirnya menunjukkan bahwa kebudayaan tidak selalu harus diselamatkan dengan cara yang besar.

Kadang ia cukup dijaga melalui tangan yang masih mau menenun.

Melalui suara yang masih mau bernyanyi.

Melalui anak-anak yang masih mau belajar.

Dan melalui para tetua yang masih bersedia bercerita.

Sebab selama nyanyian itu masih terdengar, selama tangan masih memintal benang, dan selama cerita masih berpindah dari mulut ke telinga generasi berikutnya, ingatan tentang Bunaq belum selesai.

Di Duarato, kain bukan hanya ditenun.

Ia dinyanyikan.

Dan melalui nyanyian itulah, sebuah kebudayaan memilih untuk tetap hidup.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *